BUDAYA MANGGARAI - FLORES

Kamis, 11 Agustus 2022

ADAK LEMBOR (SELATAN)

 ADAK LEMBOR  (SELATAN)


1.  TOROK TAE  PATI LINGKO


NB: Manuk Lalong  Rasi _ Torok one Lodok

LEMBOR SELATAN

Pembagian Lingko Sumur Gendang Kaca

https://www.youtube.com/watch?v=uMMJzs3k30Q&list=PLkZfsaW_ynVx80D7zZtdfkNGtZDJoeEoL&index=5


S: 



2.  ADAK PENTI

2.1. BARONG COMPANG

Upacara Penti Ritus Adat Di Compang Beo Kaca - Surunumbeng

https://www.youtube.com/watch?v=aDEJuKj0NO0&list=PLkZfsaW_ynVx80D7zZtdfkNGtZDJoeEoL&index=3

ID
SKIP NAVIGATION

1:35 / 6:07

Upacara Penti Ritus Adat Di Compang Beo Kaca - Surunumbeng

230 views
Jan 27, 2020
10
DISLIKE
SHARE
CLIP
SAVE
Atha Bheo Chanel
6.23K subscribers
SUBSCRIBED
Mengenal Compang Apakah Compang itu? Secara sederhana Compang adalah sebuah tempat khusus untuk persembahan yang letaknya di tengah kampong, tersusun dari batu pilihan dan di tengahnya diletakkan batu ceper (watu lempe). Persembahan ditujukan kepada para roh kampong (naga tanah), roh leluhur (wura agu ceki) dan Wujud Tertinggi (Morin agu Ngaran, Jari agu Dedek-Tuhan Sang Pemilik, Tuhan Pencipta dan Pengada). Bentuk Compang hampir sama untuk setiap tempat di Manggarai. Ada yang bulat telur atau elips, ada juga yang segi empat. Pada umumnya, di atas sebuah Compang terdapat haju langke (pohon beringin) yang sengaja ditanam. Soal letak Compang, kerap Compang memiliki posisi antara rumah adat (Mbaru Gendang) dan kuburan (boa). Tinggi Compang bervariasi. Mulai dari 50cm sampai 150cm. Lebarnya mulai dari 100cm sampai 200cm. Panjangnya mulai dari 200cm hingga 300cm. Tak ada tata aturan baku yang secara khusus membahas sola ukuran. Yang pasti, tinggi, lebar dan panjangnya cukup untuk melangsungkan persembahan sesuai dengan maksud dan intensi. Menggali Arti Substansi kehadiran sebuah Compang orang Manggarai ada dalam lima pusaran filosofi kehidupan orang Manggarai yakni Mbaru bate ka’eng (rumah tempat tinggal), umat bate duat (kebun tempat bekerja dan menghasilkan panenan), natas bate labar (lapangan bermain), wae bate teku (sumber air untuk ditimba) dan compang bate takung (tempat persembahan). Compang memiliki arti yang sangat penting dalam siklus kehidupan orang Manggarai. Di Companglah tempat tinggal dari naga golo/naga beo (roh kampong). Naga golo/beo ini menjadi penjaga dan pelindung kampong dari berbagai hal. Khususnya segala malapetaka dan bala yang menimpa kampong. Compang juga menjadi situs sacral yang melaluinya kampong mendapat rejeki kehidupan. Di setiap penti weki peso (upacara syukur tahunan secara komunal), di Compang dipersembahkan syukuran kepada penjaga dan pelindung kampong, para leluhur serta Sang Pencipta. Compang juga menjadi sumber kekuatan. Di setiap warga kampung hendak pergi ke area pertempuran (raha rumbu tanah, rampas), para pelaku perang mengelilingi Compang tujuh kali. Dalam ritus-ritus besar, semisal membuka lingko weru (kebun komunal baru), membangun rumah adat baru (pande mbaru gendang weru), Roko Molas Poco (pengambilan tiang utama mbaru gendang dari hutan), tetua adat mengawalinya dengan takung (persembahan) di Compang untuk meminta restu sekaligus mohon kesuksesan dari acara dimaksud. Compang menjadi simbol kekuatan, persatuan, perlindungan dan juga jembatan relasi antara manusia yang masih hidup dengan dunia roh (penjaga kampong, leluhur, Tuhan), alam semesta dan seluruh kosmos. Di beberapa tempat, ada yang menyebutnya “compang dari” yang menurut hemat saya tidak tepat karena meluruhkan arti compang sebenarnya sebagai tempat suci. Compang bukan saja sebuah tempat menerima panas matahari (dari leso), tetapi situs di mana kehidupan dihubungkan secara intens dengan tata ciptaan, pemiliknya, penjaganya dan penciptanya. Simbolisasi Compang Compang berhubungan erat dengan lima filosofi kehidupan orang Manggarai; dengan rumah (adat, tinggal), kebun, sumber air dan lapangan bermain. Karena itu, pertama nian, Compang berada dalam satu kesatuan siklus kehidupan orang Manggarai. Compang tidak bisa dilepas-pisahkan dari elemen-elemen lain pemersatu kehidupan orang Manggarai. Namun orang Manggarai juga sadar bahwa dalam dirinya (in se), Compang memiliki nilai yang sangat kaya. Karena itu, muncullah simbolisasi Compang pada berbagai tempat. Dari eksistensi Compang bermunculan model penafsiran yang pada intinya membangun konsep nilai yang diaraskan padanya. Sama halnya dengan rumah adat, Mbaru Gendang, yang kaya arti kemudian diberi interpretasi baru sekaligus ditempatkan di berbagai kantor bupati dan SKPD. Compang menjadi simbol kesucian, kekuatan, persatuan pada berbagai tempat lain, semisal kantor bupati di tiga kabupaten Manggarai Raya. Simbolisasi terhadap Mbaru Gendang dan Compang masih terus dilakukan. Simbolisasi itu datang dari ruang interpretasi untuk mendukung maksud baik tertentu. Selama arasnya masih berhubungan dengan konsep persatuan, kesatuan dan kemaslahatan komunitas masyarakat. Namun kriteriumnya selalu dalam satu hal ini: pendirian compang atau mbaru gendang dalam versi interpretasi harus karena kehendak bersama melalui bantang cama-reje leleng (putuskan secara bersama) dalam lonto leok (rembug bersama). Karena itu adalah inti dari kehadiran simbol-simbol itu.***

AS:  Yo  nia  le  salangn  agu paten  rentu dami  one  mai hau empo lami tembong.......




2.2.  BARONG WAE

https://www.youtube.com/watch?v=eRgTDuyih0A&list=PLkZfsaW_ynVx80D7zZtdfkNGtZDJoeEoL&index=2

Acara Penti,Kaca Lembor Selatan - Barong Wae



Atha Bheo Chanel
6.23K subscribers

Upacara Penti atau lebih lengkapnya disebut dengan upacara Penti Weso Beo Raca Rangga Walin Tahun merupakan upacara yang pada prinsipnya bertujuan untuk memohon keselamatan atau syukuran kepada Mori Jari Dedek (Tuhan Pencipta) dan kepada arwah nenek moyang atas semua hasil yang diperoleh dan dinikmati, juga sebagai tanda Celung Cekeng Wali Ntuang musim yang berganti dan tahun yang beralih). Hal ini menegaskan bahwa upacara Penti memiliki arti penting bagi masyarakat Manggarai karena ritual ini dapat dihubungkan dengan berbagai aktivitas yang dipandang bermakna bagi kehidupan mereka. Dalam budaya masyarakat Manggarai terhadap lima prinsip yang dijaga keseimbangannya yaitu Lingko (kebun), Wae Teku (mata air), Natas Labar (halaman Rumah), Compang (altar persembahan/sesajian), dan Mbaru Ka?eng (rumah tinggal). Upacara penti pelaksanaannya selalu berkaitan dengan refleksi atas kelima sendi kehidupan tersebut secara integral. Jika ada ketidak seimbangan dalam kehidupan masyarakat Manggarai melalui upacara Penti kemudian mencari kekuatan dan perlindungan kepada lima sendi kehidupan tesebut. Pelaksaan upacar penti bisa dilakukan dalam 4-7 hari tergantung dengan situasi masing-masing komunitas. Dimulai dari berkumpulnya para leluhur di rumah adat (mbaru gendang) untuk menentukan kapan akan dilaksanakan upacara penti. Tetua meminta persetujuan kepada seluruh masyarakat untuk membagi beban. Biasanya dibagi menurut jumlah kepala keluarga yang ada. Setelah persiapan dirasa lengkap, maka dimulailah runutan upacara penti. Adapun tahapan upacara penti adalah sebagai berikut: 1. Cako Reke Cako secara bahasa adalah pembicaraan, sedangkan reke adalah janji, jadi cako reke adalah upacar perjanjian dengan leluhur dan semua warga dan penentuan akan dilaksanakan upacara. Setelah pelaksanaan cako reke, biasanya masyarakat Manggarai akan melakukan tari sanda dan mendendangkan gamelan dan nyanyian mbata semalam suntuk selama beberapa hari. Tarian sanda sendiri adalah tari pergaulan yang ditarikan oleh muda-mudi untuk mengungkapkan rasa syukur kepada leluhur. 2. Barong Lodok Barong lodok adalah proses penyampaian kepada roh leluhur yang menjaga ladang/sawah bahwa akan melaksanakan syukuran sekaligus mengundang mereka untuk bersama-sama menghadiri upacara penti. 3. Barong Wae Teki Barong Wae Teku adalah proses penyampaian kepada roh leluhur yang menjaga mata air desa, bahwa masyarakat akan melaksanakan upacara penti dan mengundang mereka untuk hadir. 4. Barong compang/takung compang Prosesi upacara ini merupakan acara doa dan pemberian sesaji kepada leluhur di mesbah atau tempat persembahan dengan tujuan mengundang penghuni mesbah mengikuti upacara penti pada malam harinya. Di tempat ini berdiamlah naga golo atau naga beo yang merupakan roh penunggu kampung. Masyarakat yakin bahwa peran naga golo ini sangat berperan penting dalam kehidupan sehari-hari karena dialah yang menjaga keseluruhan kampung dari mara bahaya. Setelah itu kemudian akan diadakan upacara wisi loce untuk mempersilahkan semua roh yang telah diundang untuk menunggu puncak upacara penti. 5. Libur Kilo Libur kilo merupakan acara syukuran kepada tuhan dan para leluhur atas kesejahteraan keluarga. Biasanya dilaksanakan per klan keluarga. Dalam libur kilo juga diadakan upacara teing hang empo, yaitu pemberian sesaji kepada leluhur atau orang tua yang sudah meninggal. 6. Renge Ela Penti Proses ini adalah puncak dari semua kegiatan upacara, dimana semua leluhur yang telah diundang diajak untuk berpartisipasi. Demikian juga seluruh kampung juga dilibatkan dalam upacara ini. Adapun urutan upacara renge ela penti adalah: a. Kapu adalah upacara penghormatan/selamat datang kepada semua unsur yang hadir, b. Wewa adalah ajakan dari pemimpin upacara untuk mengikuti upacara dengan khidmat, c. Cepa ceki adalah pemberian sirih pinang sebagao ucapan/undangan kepada leluhur untuk hadir dalam upacara. d. Rahi adalah sapaan khusus kepada peserta anak rona untuk mengukuhkan perayaan itu dan kepada nak wina sebagai bentuk partisipasi atau dukungannya dalam perayaan. e. Renggas adalh pekikan pembukaan upacra f. Rengge ela penti adalah doa dalam bahasa adat manggarai atas hewan kurban yang ditunjukkan kepada leluhur dan akhirnya kepada Tuhan. Hewan kurban disembelih dan darahnya harus mengenai jenang pintu rumah adat sebagai bukti upacara penti telah dilaksanakan, g. Toto urat adalah memperlihatkan hati hewan kurban untuk mengetahui apakah persembahan mereka diterima oleh para leluhur dan Tuhan h. Baro urat adalah pemberitahuan kepada semua yang hadir, bahwa persembahan sudah diterima oleh leluhur, i. Wali/naring urat di?a adalah pernyataan syukur dan terima aksih kepada yang hadir.


Renggas:

S:

W;


DERE SANDA LIMA


S: 





2.3. ADAK ONE MBARU


Manuk  Lale te nipu Wakar


SURUNUMBENG

Tarian Sanda Dalam acara Penti Gendang Kaca - des.surunumbeng

https://www.youtube.com/watch?v=kQMItiGm6Co&list=PLkZfsaW_ynVx80D7zZtdfkNGtZDJoeEoL


2.3.1. TOROK MANUK

AT: 



2.3.2. Dere

2.3.2.1.  Dere SAE : NDAENG TABE  / NDAENG KOLONG

S: 

W:


2.3.2.2. Dere Mbata: SOMBA LAING LOPA

S:

W:


2.32.3. Dere SANDA:  TURA LELENG /  TEPONG ?


S: 


W:    .....

         Saru nana  .....

          dindut  nai  ge.

         Ia  o ae.... ...

         Hitu  tura leleng ae  a.

         Ia o ae..........


          

S2: Tepong  o  i o e   a......

       A...o....e......i e  o  tepong  tana   mai le  a.....

       Ai kakar tana   ..... (?)  hitu  tura leleng  ae  a.......

       


C: Rune ke  i...e        a......a.....

     A....o........e

 A  tepong  poso e....a

  Samngge  runi  rete....?)  nitu ture lele


S: O...e..i...o  e........

    A......o e  i oo   e  Minggu  sale 

    Ai hoo nggaji kaut  one  nai


S: E....ae  o ae.....e....a..... sala  nipu   e  nail a, e  nail a.....

    A..... (?) ......     

C: A...o   nasu  nara a.....

C2: A...o.....

W:  ...... sala  tasi  ....


2.3.2.4. NEKA  RABO LAING


C: Aeo........... 

S:

S: Teke  ke....a  ei e  a, slae  roang.........

      ....

       Neka  rabo laing  sala  musa soo (2x)

     


C:   Kuse  e.... sale  wae ... kapet


S: ......... tuka  go a e i . o nara 

      ....nanang  tau  awo.

      Neka  rabo  laing sala  musa so

S: ...........

     Ndohar  kawe  ronan


2.3.2.4. MBATA  SOMBA LAING LOPA


JPS,  11  Agustus 2022.








Atha Bheo Chanel
6.23K subscribers
SUBSCRIBED

Penti merupakan salah satu upacara adat bagi orang Manggarai, Flores NTT yang hingga kini masih terus dilestarikan. Penti adalah sebuah ritus adat warisan leluhur Manggarai sebagai media ugkapan syukur kepada Tuhan atas hasil panen yang diperoleh selama setahun dan dikenal pula sebagai perayaan tahun baru bagi orang Manggarai .Pada upacara penti biasanya dilaksanakan pada bulan agustus-september. Upacara Penti memiliki makna yang luhur selain sebagai ucapan syukur kepada Tuhan dan leluhur atas hasil panen juga sebagai medium rekonsiliasi atau perdamaian antar warga kampung. Maka tidak heran bila pada setiap ajang perayaan penti, seluruh warga kampung berkumpul untuk bersama-sama merayakannya baik warga yang selama ini menetap di kampung maupun mereka yang berdomisili di luar daerah. Pengertian upacara penti terungkap dalam beberapa sastra Manggarai atau dikenal dengan istilah go’et yang menggambarkan syukur atas hasil panen dan kebersamaan seperti penti weki neki’ranga sama go tawa ramak ni aze kae lone mai lak lekar ropo sekon lekar ata mangan go demung lekar- weru (ucapan syukur dari penduduk desa kepada Tuhan dan para leluhur karena telah berganti tahun, telah melewati musim kerja yang lama dan menyongsong musim kerja yang baru). Pada umumnya, penti dirayakan secara bersama-sama oleh komunitas adat di suatu kampung dan dirayakan pada setiap musim panen kebun. Maka pesta ini biasa dirayakan pada bulan agustus -September setiap tahunnya. eperti halnya pesta-pesta adat orang Manggarai lainnya, Penti memiliki norma-norma moral spiritual yang mengatur hubungan antara manusia dengan Sang Pencipta, hubungan manusia dengan manusia dan manusia dengan alam lingkungan. Boleh dibilang penti memiliki dimensi vertikal, horizontal dan sosial. v Dimensi vertikal yakni sebagai ucapan syukur kepada Tuhan (Mori) dan kepada para leluhur (Empo) sebagai pencipta dan pembentuk (Mori Jari Agu De’de’k) yang harus disembah dan dimuliakan. Menghormati Tuhan sebagai sumber hidup dan penghidupan manusia. v Orang Manggarai mengakui kemahakuasaan Allah dan tak lupa pula bersyukur kepada para leluhur (Empo) yang telah mewariskan tanah (lingko) dengan memberikan persembahan yang pantas bagi mereka atas segala jasa dan kebaikan yang telah mereka berikan. v Sedangkan dimensi sosial dari perayaan penti yakni untuk memperkokoh persatuan dan kesatuan wa’u (klen), panga (sub klen), aze-kae (adik kakak), anak rana (pemberi istri), anak wina (penerima istri). v Selain itu, dengan penti secara tak langsung dapat mempererat dan memperkuat eksistensi orang Manggarai seperti terungkap dalam filosofi terkenal: gendang on’e lingko pe’ang,/gendang lone tana wean untuk memperteguh hak-hak ulayat yang dipegang oleh para tetua adat atas lingko-lingko/ulayat yang dimiliki atau yang digarap. v Penti juga memperkuat kepemilikan tanah oleh warga yang menerima bagian dari lingko-longko/ulayat tersebut baik mereka yang berada di desa maupun yang berdomisili di tempat lain. Di mana mereka mempunyai kewajiban moril untuk menjaga kelestarian lingkungan hidupnya terutama di dalam komunitas kampung, pekuburan dan mata air. v Sementara itu, dimensi sosial dari penti yakni sebagai reuni(demung) keluarga besar. Penti sebagai ajang pertemuan bagi anggota komunitas yang masih memiliki hubungan genealogis dengan mereka yang merayakannya. v Perayaan penti juga sebagai wadah untuk mengekspresikan rasa seni dan menjalin tali kekerabatan antar warga kampung. Biasanya, upacara dilangsungkan dalam suasana meriah karena diiringi berbagai atraksi kesenian tradisional seperti permainan caci(melas), dading(nggezang), de’re, sanda agu mbata dan lagu-lagu tradisional lainnya. v Perayaan penti inipun sebagai media pembelajaran bagi kaum ibu atau anak-anak gadis mengembangkan bakat mereka dalam memainkan alat-alat musik tradisional seperti gong, gendang dan sekaligus tempat belajar tentang tata cara dan teknik memainkan berbagai alat musik tersebut.







_____


DERE


RIANG TANA  TIBA,/ WIDANG  LAMI TANA TABING (?)      ---- Utusan Paroki Reweng

https://www.youtube.com/watch?v=nz6pTx-c9jk

Pertunjukan pada Hari Ketiga Festival Golo Koe


 Irama - Landu -  - agu  runi  sunding


Bombong keta neho wela lombong (?) / lokom (?)  nai ge a

Rangkang keta neho wela  lada   naig o (?) , tana  ge  e...e......e........ (?)

Tombo neteng golo landing le Komodo osang ge.....a

Rangkang  neteng  tana  lawer (?) / labar  de ora   natas ge a , tana  ge  e...e......e........ (?)(?)


Jaga  dia', riang dia'  ata  widang de  Morin  

Bantang   dia', riang dia'  ata  waheng de  Morin  


Rangkang  keta  nawa  tombo lata ngasad ge a

Bombong  keta  nawa (?)  woko laat  tanad e, tana  ge  e...e......e........ (?)


Jaga  dia', riang dia'  ata  widang de  Morin  

Bantang   dia', riang dia'  ata  waheng de  Morin  


Jaga  dia', riang dia'  ata  widang de  Morin  

Bantang   dia', riang dia'  ata  waheng de  Morin  


O...landu  tepong tai pong  pong e

E  lawa  mai  riang  tnad e

Lawa  mai  lami tanad  e


CACI SALE  NATAS  ---- (Irama Kedendit) -  Le Lalong  Liba,  Vocal Utusan Paroki Reweng

(Pa  Gusty  Mangun)





Diposting oleh frans di 05.45
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Langganan: Posting Komentar (Atom)

Arsip Blog

  • ►  2025 (30)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (8)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (3)
    • ►  April (3)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2024 (53)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (3)
    • ►  September (3)
    • ►  Agustus (4)
    • ►  Juli (11)
    • ►  Juni (5)
    • ►  Mei (9)
    • ►  April (3)
    • ►  Maret (5)
    • ►  Februari (4)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2023 (56)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (7)
    • ►  Oktober (3)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (8)
    • ►  Juli (7)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (11)
    • ►  April (3)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (7)
  • ▼  2022 (62)
    • ►  Desember (3)
    • ►  November (12)
    • ►  Oktober (5)
    • ►  September (10)
    • ▼  Agustus (12)
      • DERE PESTA SEKOLA
      • DERE MANGGARAI (BONA JEMARUT)
      • DERE TITONG KILO ( MOSE)
      • TOMBO MANGGARAI - Logat Kempo (ONE FILM)
      • DERE TENTANG TEMPAT (MANGGARAI)
      • ADAK LEMBOR (SELATAN)
      • DERE RIANG LINO
      • LANDU KEBANGSAAN (NUNDUK)
      • MANUK KAPU - TUAK CURU
      • GO'ET TOING DU PESTA KAWING
      • 3 ENG MANGGARAI - MENURUT USMAN DE GANGGANG
      • SANDA - HANANG KATA_KATA
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (4)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (8)
  • ►  2021 (73)
    • ►  Desember (12)
    • ►  November (14)
    • ►  Oktober (3)
    • ►  September (3)
    • ►  Juni (5)
    • ►  Mei (3)
    • ►  April (12)
    • ►  Maret (11)
    • ►  Februari (8)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2020 (44)
    • ►  Desember (6)
    • ►  November (4)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (7)
    • ►  Juni (6)
    • ►  Mei (4)
    • ►  April (6)
    • ►  Maret (6)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2019 (45)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (5)
    • ►  Oktober (5)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (6)
    • ►  Juli (3)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (4)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (4)
    • ►  Januari (7)
  • ►  2018 (59)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (6)
    • ►  Oktober (6)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (4)
    • ►  Juli (3)
    • ►  Juni (6)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (4)
    • ►  Maret (5)
    • ►  Februari (11)
    • ►  Januari (6)
  • ►  2017 (68)
    • ►  Desember (17)
    • ►  November (12)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (3)
    • ►  Agustus (10)
    • ►  Juli (6)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (7)
    • ►  Maret (5)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2016 (56)
    • ►  Desember (3)
    • ►  November (5)
    • ►  Oktober (9)
    • ►  September (3)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (12)
    • ►  Februari (4)
    • ►  Januari (10)
  • ►  2015 (84)
    • ►  Desember (7)
    • ►  November (4)
    • ►  Oktober (10)
    • ►  September (3)
    • ►  Agustus (11)
    • ►  Juli (3)
    • ►  Juni (7)
    • ►  Mei (8)
    • ►  April (4)
    • ►  Maret (10)
    • ►  Februari (11)
    • ►  Januari (6)
  • ►  2014 (75)
    • ►  Desember (3)
    • ►  November (6)
    • ►  Oktober (18)
    • ►  September (7)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Mei (9)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (9)
    • ►  Februari (9)
    • ►  Januari (7)
  • ►  2013 (200)
    • ►  Desember (16)
    • ►  November (16)
    • ►  Oktober (18)
    • ►  September (37)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (23)
    • ►  Mei (12)
    • ►  April (21)
    • ►  Maret (11)
    • ►  Februari (9)
    • ►  Januari (32)

Mengenai Saya

Foto saya
frans
JeF is a man that always optimism and never give up on life
Lihat profil lengkapku
Tema Jendela Gambar. Diberdayakan oleh Blogger.