Sabtu, 14 Februari 2015

BUKU TUA' DARI MANGGARAI


BUKU TUA DARI MANGGARAI

Oleh: Fransiskus Borgias M.

 Sumber:
 https://www.facebook.com/notes/10152351484099733/

diunduh pada 14 Pebruari 2015 pukul  14:32


Tanggal 20 April 2014, saya mendapat sebuah buku tua berbahasa Manggarai dari seorang temanku Hortensius Mandaru (Departemen Terjemahan LAI). Judulnya Epistola agu Indjil. Judul kecilnya: Ata Batja du Leso Minggu agu Leso Rame (Yang Dibaca pada Hari Minggu dan Hari Raya). Buku ini sudah tua karena sudah terbit 8 September 1959, beberapa tahun sebelum saya lahir, bahkan mungkin juga sebelum sebagian besar pembaca saya di sini belum direncanakan untuk ada di dunia ini dan bisa membaca tulisan ini. Buku ini terbit sebelum Ruteng menjadi keuskupan (sebab hal itu baru terjadi tahun 1961). Saat itu Pater Wilhelmus van Bekkum SVD masih menjabat sebagai Vicaris Apostolic Ruteng. Jadi, buku ini termasuk salah satu geliat awal dari perjalanan eksistensi keuskupan Ruteng itu. Buku ini, seperti juga buku lain yang sudah tua usianya yaitu Dere Serani, terbit sebelum Konsili Vatikan II (1962-1965). Bagi saya buku ini juga adalah bagian utuh dari gerakan inkulturasi Manggarai di bawah koordinasi van Bekkum, yaitu menerjemahkan Kitab Suci ke dalam bahasa daerah setempat. Seperti Dere Serani, buku ini juga ditata menurut tahun liturgi: mulai dengan Advent, lalu Natal, Puasa dan Paskah dst. Karena itu buku ini merupakan bagian utuh dari proses pembelajaran tata waktu dalam dan menurut dunia baru yang dibawa Kristianitas.

Menarik juga untuk disampaikan di sini bahwa bahasa Manggarai yang dipakai dalam buku ini ialah bahasa Manggarai Tengah. Dengan demikian buku ini menjadi salah satu alat bantu perluasan daya pengaruh bahasa Manggarai Tengah ke seluruh Manggarai. Saya katakan “salah satu” karena masih ada buku Dere Serani yang memainkan peranan dan fungsi yang sama. Sesungguhnya masih ada buku lain yang berperan dan berfungsi sama, yaitu Surak Ngaji Manggarai Eme Toe Manga Tuang Pastor (kira-kira begitu judulnya; tetapi sampai saat ini saya belum mendapat bukunya. Tentu ada penulis masa kini di Ruteng yang menulis hal serupa, misalnya Petrus Janggur yang sudah menulis beberapa buku serupa itu. Tetapi yang saya buru ialah buku lama itu; saya masih ingat beberapa refrein jawaban umat dalam buku lama itu: “bentas mori ga sangged ata becang”). Menurut kesaksian Tensi dan Sindu, mereka juga menemukan buku katekismus Manggarai di rumah mereka di Waerana ketika mereka pulang ke sana beberapa waktu yang lalu. Buku itu terbit awal tahun 50an. Tetapi sampai saat ini mereka belum memberikan fisiknya kepada saya.

Saya kembali lagi ke ide di atas tadi: buku ini, bersama dengan beberapa buku Manggarai yang lain yang sudah disebutkan di atas tadi, tentu menjadi salah satu alat bantu perluasan daya pengaruh bahasa Manggarai Tengah ke seluruh Manggarai. Mengapa sampai dikatakan demikian? Itu tidak lain karena teks-teks yang sudah disebutkan di atas dipakai di seluruh paroki Manggarai yang ada saat itu. Bahkan tidak hanya sampai ke tingkat paroki, melainkan juga sampai ke tingkat stasi di mana yang berperan ialah para guru agama. Saya masih ingat dengan sangat baik bahwa dulu ketika liburan panjang sekolah keluarga kami berlibur di Wol. Di sana kurang lebih dua kali hari Minggu kami berdoa bersama di kampung itu di bawah pimpinan guru agama di kampung itu. Dan teks yang dipakai pada saat itu ialah buku doa (surak ngaji) Manggarai berikut epistola dan injil yang juga sudah tersedia dalam bahasa Manggarai. Juga di Paroki Ketang/Rejeng; bila tidak ada pastor maka ibadatnya memakai buku surak ngaji Manggarai yang dipimpin bapak Lambertus Jerawan (guru Katekis), atau Bapa Frans Ebat, atau guru Feliks Mar. Bahkan sebelumnya ada juga Bapak Guru Alo Handuk, atau bapak Pit Darut, dan Pit Hanu (guru katekis), guru Gradus Rengka. Dengan cara itu, terjadilah transformasi bahasa secara besar-besaran di seluruh Manggarai. Orang lalu menjadi terbiasa dengan bahasa Manggarai Tengah, sehingga bahasa itu menjadi “lingua franca” dalam konteks mikro Manggarai. Ke mana saja dewasa ini anda pergi di seluruh Manggarai Raya, hampir dapat dipastikan bahwa orang bisa memahami bahasa Manggarai Tengah itu. Walaupun sebaliknya, tidak dapat dikatakan secara otomatis begitu saja. Terjadilah dominasi, supremasi bahasa dan budaya. Kita boleh menyebut hal ini sebagai bentuk keberpihakan gereja pada salah satu budaya dan bahasa, tentu dengan “mengorbankan” bahasa yang lain.

Salah satu ilustrasinya ialah pergeseran bahasa yang terjadi di Lembor. Dulu waktu saya kecil, awal tahun 70an sampai tahun 80an, orang di Lembor umumnya masih mengucapkan kata-kata tertentu dengan huruf S dan bukan C. Misalnya, asu dan bukan acu, sebagaimana yang lazim sekarang ini. Sa dan bukan ca. Se pisa (bahkan juga terdengar se piha) dan bukan ce pisa. Sampe (tolong, alat bantu tekek) dan bukan campe. So’o dan bukan co’o. Sihi (hutu) dan bukan cihi (hutu). Seak pake dan bukan ceak pake. Saling dan bukan caling. Songko dan bukan Congko. Saling dan bukan Caling. Sengka dan bukan Cengka. Contoh itu masih bisa diperpanjang lagi. Tetapi saya cukupkan sampai di sini. Begitu juga dengan beberapa kata yang dulu biasanya (sering) diucapkan dengan h dan bukan s. Misalnya, hang laho, yang kini menjadi hang leso. Wahe, kini menjadi wase, halang menjadi salang. Bahkan pengucapan huruf H juga mengandung perbedaan. Di dekat Rangga ada sebuah lingko yang oleh orang setempat disebut lingko Hehe. Tetapi H di sini jangan diucapkan seperti huruf H yang biasa kita dengar dalam bahasa Indonesia atau dalam pengucapan Manggarai Tengah (Ruteng). Melainkan harus disebut lingko (g)He(g)he. Sebagian besar kata yang dimulai huruf H umumnya diucapkan dengan cara seperti itu. Ya, memang rada sulit untuk melukiskan perbedaan itu secara verbal di sini. Paling mudah jika diucapkan secara langsung, barulah bisa ketahuan apa yang dimaksudkan.

Fenomena bertutur seperti itu menjadi semakin sempit cakupan luas wilayahnya; dalam pengamatan saya (juga pengamatan Aloysius Abel dari Kaca Lembor Selatan, dalam sebuah diskusi singkat di Bedono, Ambarawa Jawa Tengah, akhir April silam) cakupan wilayah dengan pemakaian fenomena bahasa seperti itu semakin sempit; kini gejala bertutur seperti itu masih bisa dirasakan di kampung-kampung di kecamatan Lembor Selatan, Kolang, Welak, Satar Mese (bagian barat, seperti Wae Rebo). Sedangkan di Lembor, terutama yang terletak di pinggir jalan raya, sudah terjadi transformasi secara besar-besaran.

Tentu selain daya pengaruh modernisasi Manggarai lewat buku tadi (bisa disebut revolusi buku, revolusi huruf), bisa juga disebut sebuah daya pengaruh transformasi lain yaitu melalui pembangunan jalan raya. Ketika jalan raya semakin bagus dengan transportasi yang semakin bagus dan lancar antara Ruteng-Lembor (dengan bis Kayu Manggarai-Indah), Ruteng-Rekas (dengan oto colt Molas Kempo), Ruteng-Labuan Bajo (belakangan) pada awal dan akhir tahun 80an, maka proses transformasi itu menjadi semakin kuat dan masif. Begitu juga dengan faktor banyak anak sekolah yang bersekolah ke Ruteng (sampai 80an kebanyakan sekolah masih terfokus di Ruteng; sesudah itu mulai muncul banyak sekolah baik SMP maupun SMU di pelbagai daerah di Manggarai). Setelah mereka sekolah di Ruteng maka terjadi juga sebuah transformasi lidah dan bahasa (the transformation of the tongue) mereka yang disesuaikan dengan bahasa Manggarai Tengah. Ketika mereka pulang berlibur, mereka memperlihatkan “modernitas” mereka dengan memakai bahasa sentrum modernitas Manggarai di Ruteng itu, di kampung tempat asal mereka. Itu adalah pertanda bahwa mereka adalah “pelajar” dari Ruteng, sebuah sebutan yang pada tahun 70-an dan 80an terasa cukup bergengsi dan disegani.

Setelah sejenak berputar ke mana-mana mari kita kembali ke buku tadi. Bagi saya buku ini termasuk salah satu tonggak historis dalam perjalanan budaya Manggarai: yakni transformasi budaya dari “budaya lisan” (oral tradition) ke “budaya tertulis.” (written tradition). Seperti sudah dikatakan tadi, buku ini terbit tahun 1959. Sebelumnya pasti ada langkah-langkah persiapan dan uji coba terjemahan; seperti eksperimen Dere Serani yang terbit akhir tahun 30an, tetapi derap eksperimen awal sudah ada dan terjadi pada awal tahun 20-an. Menurut Bonefasius Jehandut (2012), lagu “Mai Momang Maria” sudah dinyanyikan oleh anak-anak sekolah di Ruteng pada Mei 1923. Jadi, mungkin derap langkah persiapan itu bisa mencapai 10-15 tahunan. Dalam data Dere Serani (Fransiskus Borgias M 2010; Bonefasius Jehandut 2012), lagu paling tua diciptakan pada tahun 1936, yaitu lagu Doing koe ga (Sadarlah); itu adalah lagu dari bapa Filipus Manti.

Bagi saya buku-buku tua ini adalah sebuah gerakan budaya yang sangat besar. Saat ini saya membacanya dengan memperhatikan kata-kata yang saya anggap sudah mati (usang), yang sudah jarang dipakai lagi dewasa ini di kalangan orang-orang Manggarai (baik di Manggarai sendiri maupun di kalangan orang Manggarai di diaspora/perantauan). Untuk bisa melakukan hal ini saya harus berdiskusi dengan banyak pihak, terutama yang tua, tetapi juga dengan yang muda. Tidak lupa juga saya mengamati dan mencermati tulisan-tulisan singkat berbahasa manggarai yang muncul di sosial media seperti facebook. Kembali lagi ke buku tua yang saya sebut di awal tulisan ini. Terus terang saja bagi saya tidak mudah lagi membaca dan memahami buku ini. Misalnya, ketika membaca prolog injil Yohanes yang dipakai pada masa Advent, saya hanya bisa memahaminya bukan dengan bahasa Manggarai, melainkan melalui jalan melingkar yaitu pemahaman lewat bahasa Indonesia, atau sambil membayangkan pengertiannya dalam dan melalui bahasa Indonesia. Ketika mengalami hal ini, saya semakin sadar betapa terasingnya saya dengan bahasa Manggarai dari tahun 50an itu. Saya sungguh berharap semoga fenomena keterasingan seperti itu bisa diatasi oleh versi terjemahan baru yang diupayakan LAI (P.Tensi) dengan tim dari Komisi Kitab Suci Keuskupan Ruteng. Menurut informasi dari P.Tensi buku ini akan segera terbit pada tahun 2014 ini. Mari kita siap menyongsongnya dengan hati yang riang ria.

Akhirnya, di sini saya juga teringat tahun 2009 silam, di mana saya pergi ke Ruteng bersama tim LAI untuk meluncurkan kitab suci bergambar untuk anak-anak yang diterjemahkan sekelompok orang Manggarai: saya (koordinator, korektor, translator dari Bandung; latar belakang Manggarai dari Ketang/Lelak, Dempol/Lembor), Tensi (supervisor, control, dari Bogor; latar belakang Manggarai dari Waerana) menjadi anggota tim. Juga Fransiska Daima Mur (translator dari Tangerang; latar belakang Manggarai dari Dempol/Lembor) dan Arnoldus Dembo (dari Bandung/ latar belakang Manggarai sili mai daerah Todo). Saya menganggap hal itu sebagai sebuah proses transformasi budaya bagi Manggarai juga. Memang budaya selalu berubah, bertransformasi, selalu berproses. Ia tidak mati. Ia selalu dinamis, tidak statis. Budaya adalah lebih sebagai kata kerja daripada sebagai kata Benda. Dan itu benar. Dengan meminjam istilah dari kamus eklesiologi (teologi mengenai Gereja) saya bisa mengatakan bahwa Cultura semper reformanda. Budaya selalu mengalami proses pembaruan terus menerus. Mandek, tinggal diam di tempat, sama dengan kematian, kebekuan, bahkan kebusukan dan pembusukan. Budaya juga harus meng-hari ini, aggiornamento, meminjam istilah dari Konsili Vatikan II.


Yogyakarta 01 Mei 2014







 


1 komentar:

  1. Kraeng Frans. Neka rabo, ini Felix Tena Longa, saudara dinamu seangkatan P. Agung Suryanto, OFM. Kebetulan saya mencari artikel tentang suku Manggarai, ee ... saya menemukan blog kraeng. Kalau boleh, kraeng buat tulisan tentang Suku Manggarai secara lengkap untuk saya muat di situs http://www.wisataflores.com/. Situs ini saya buat untuk memperkenalkan potensi wisata budaya dan wisata alam Flores. Terima kasih.

    BalasHapus