Senin, 25 Januari 2016

MBARU GENDANG - Opini Orang



Mbaru Gendang = toto rang de beo (Rumah Gendang  simbol kewibawaan kampung).


















“Mbaru Gendang” dan Pelestarian Budaya Manggarai

283
 http://www.floresa.co/2015/12/30/mbaru-gendang-dan-pelestarian-budaya-manggarai/

Oleh: HIRO EDISON
Salah satu unsur budaya yang sangat penting bagi masyarakat Manggarai adalah rumah adat, yang disebut Mbaru Gendang.
Keberadaannya menduduki peran yang tak tergantikan. Karena itu, setiap kampung di Manggarai memiliki Mbaru Gendang.
Tulisan ini tidak memiliki intensi untuk mengulas struktur rumah adat itu, tetapi lebih fokus pada perannya dalam proses pelestarian budaya.
Mbaru Gendang merupakan pusat dan sentral pelestarian budaya. Ia merupakan tempat di mana segala proses pelaksanaan budaya dijalankan.
Di Mbaru Gendang proses caca mbolot (penyelesaian masalah) dilaksanakan, upara penti (syukur panen) dijalankan dan juga keberlangsungan segala upacara adat lainnya.
Di Mbaru Gendang pula, disimpan perlengkapan adat, seperti alat musik gong dan gendang. Di sana juga disimpan perlengkapan caci, tari tradisional khas Manggarai, yakni larik (cemeti), nggiling (perisai) dan lainnya.
Singkatnya, di dalam Mbaru Gendang segala proses kebudayaan berlangsung dan perlengkapan adat disimpan.
Peran Mbaru Gendang demikian menjadi benteng sekaligus gerbang akhir dalam menjaga kelestarian budaya Manggarai.
Ancaman
Peran itu perlu diangkat kembali, di tengah badai individualisme dan berbagai paham baru yang menghantam kehidupan masyarakat Manggarai.


Badai itulah yang menghancurkan semangat sosial seluruh kehidupan dan tatanan social.
Hantaman spirit individualisme itu telah mencetak orang-orang Manggarai menjadi pribadi individualis yang buta akan nilai sosial dalam hidup harian.
Akibatnya, nilai-nilai dalam kehidupan sosial menjadi kendur dan perlahan hilang.
Bangkitnya semangat individualisme membawa pengaruh yang mematikan bagi perkembangan kebudayaan masyarakat Manggarai.
Hal itu kelihatan secara jelas dalam cara dan kode etik masyarakat Manggarai, termasuk dalam adat cacat mbolot.
Dahulu, ketika nilai adiluhung ‘bantang cama reje leleng’ atau musyawarah mufakat di Mbaru Gendang menjiwai seluruh proses penyelesaian masalah, maka prosesnya berlangusng aman, gampang dan tidak memakan waktu yang lama.
Selain itu, suasana kekeluargaan sangat tampak, di mana pihak yang saling bertikai dapat duduk satu meja.
Kini, situasinya berubah. Peran Mbaru Gendang untuk mengumpulkan mereka yang saling bertikai telah kehilangan daya ampuhnya.
Saat ini masyarakat kita lebih mengedepankan logika hokum. Akibatnya, sistem ‘bantang cama reje leleng’ dalam proses caca mbolot tidak memiliki daya tarik, sebab yang bertikai tidak akan pernah bisa duduk berdampingan.

Hal ini dapat kita lihat dalam penyelesaian masalah perebutan tanah misalnya.
Yang berperan bukan lagi daya ikat nan erat wase wunut (ijuk) sebagai simbol yang dipakai dalam Mbaru Gendang ataupun daya pemersatu siri bongkok (tiang tengah) melainkan meja hijau di gedung pengadilan.
Kekuatan yang akhirnya menentukan kebenaran ialah uang dan segala anak pinak gratifikasinya guna membeli apa yang namanya kebenaran status hukum.
Badai individualisme yang menghantam kehidupan masyarakat Manggarai merupakan ancaman nyata yang entah disadari atau tidak akan mengancurkan nilai sosial kehidupan.
Revitalisasi
Ancaman itulah yang harus diantisipasi guna menjaga keluhuran dan kemurnian semangat persatuan yang telah dihidupi.
Peran untuk menjaga persatuan dan juga keluhuran nilai sosial yang dihidupi selama ini tidak lain adalah dengan menjaga dan melestarikan kembali semangat lonto leok (duduk bersama) yang menjadi simbol persatuan dalam segala acara di Mbaru Gendang.

Pentingnya kehadiran dan juga peran Mbaru Gendang hendaknya disadari kembali.
Kehadiran Mbaru Gendang bukanlah sebuah kebetulan semata tetapi lebih dari itu.
Kehadirannya tidaklah sama seperti bangunan rumah lainnya.
Ia hadir sebagi tempat, simbol, sekaligus pusat seluruh kehidupan dan juga keberlangsungan segala proses adat.
Ia hadir sebagai jiwa sekaligus raga yang mempersatukan seluruh masyarakat dan juga kebudayaan Manggarai.
Mengingat perannya yang sangat vital dan penting maka menjadi suatu kewajiban untuk mengembalikan semangat yang dibangkitkan oleh Mbaru Gendang.
Kewajiban itu lahir dari suatu tuntutan yang sangat mendesak, di tengah tendensi terjadinya kekaburan dan kehilangan budaya dan juga nilai sosial masyarakat Manggarai.
Tempat di mana berdirinya Mbaru Gendang hendaknya menjadi inspirasi sekaligus sumber lahirnya persatuan, perdamaian dan ketentraman.
Dengan demikian, Mbaru Gendang tidak hanya hadir sebagai simbol budaya dan juga pameran rumah antik tetapi lebih memiliki makna sebagaimana orang Manggarai telah memberikan arti dan nilai padanya.
Penulis adalah Mahasiswa di STFT Widya Sasana Malang

Diunduh pada 26 Januari 2016, pkl 14:46

Tidak ada komentar:

Posting Komentar