Senin, 13 Juni 2016

PENTI - (tulisan orang)


https://www.facebook.com/ignasius.joha/posts/345144885630306

KATA PENGANTAR
Makalah ini dibuat tidak hanya usaha sadar, tetapi juga karena ada banyak permintaan dari banyak kalangan, terutama kalangan generasi muda yang merasa tertarik atas ceramah-ceramah saya (penulis) dalam beberapa kesempatan.
Demi keberhasilan tulisan makalah ini, penulis tidak hanya mengandalkan pengalaman sebagai orang Manggarai, tetapi juga berusaha menghimpun data/informasi, membuat catatan-catatan seputar kebudayaan Manggarai. Hal tersebut penulis lakukan sejak diperintahkan membuat karya ilmiah (makalah) untuk memenuhi mata kuliah pendidikan Pancasila tentang kebudayaan daerah masing-masing pada awal april 2013 sampai pada akhir Mei 2013. Ternyata catatan-catatan itu semakin dipentingkan, dan untuk melengkapi data/informasi, penulis memwawancarai lagi lewat telefon terhadap tua-tua adat di saya punya kampung Cibal, Kab. Manggarai dan orang-orang yang dipandang tahu banyak hal-hal yang penulis butuhkan seputar kebudayaan Manggarai. Data dan informasi ini kemudian diolah menjadi paduh dan saling berhubungan antara yang satu dengan yang lainnya sehingga membentuk sebuah tulisan yang baku dan benar dan terbentuklah sebuah karangan ilmiah.
Penulis menyadari kalau tulisan ini belum lengkap, karena memang sumber data dan informasi kurang terlalu lengkap dan memang masalah kebudayaan itu sangat kompleks. Yang dimuat sebagai contoh dalam makalah ini, hanyalah beberapa contoh, tidak semuanya, namun penulis berprinsip “better something then nothing” ( Lebih baik ada dari pada tidak ada )
Oleh karena itu, atas kepedulian pembaca untuk melengkapi tulisan maupun isi dari makalah ini, penulis sangat harapkan, dan pada akhir kata penulis mengucapkan terimah kasih sebanyak-banyaknya dan selamat membaca.
Kupang, Mei 2013
Penulis,
Ignasius Joha
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ............................................................................... i
DAFTAR ISI .............................................................................................. ii
BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Blakang Masalah ................................................................ 1
B. Perumusan Masala ....................................................................... 4
C. Tujuan .......................................................................................... 4
D. Landasan Teori ............................................................................ 5
D.1 Beberapa Pengertian Kebudayaan ........................................ 5
D.2 Wujud Kebudayaan ............................................................... 5
D.3 Proses Sosialisasi Kebudayaan ............................................. 5
D.4 Latar Filosofis Kebudayaan .................................................. 6
BAB II. PEMBAHASAN
1. Sub Sistem Religi ......................................................................... 9
1.1 Fakta Sejarah Sistem Religi di Manggarai ............................. 9
2. Upacara Penti ( Pesta Syukur ) .................................................... 10
2.1 Barong Wae Teku .............................................................. 12
2.1.1 Susunan Acara Barong Wae Teku ......................... 13
2.2 Barong Cmpang ................................................................. 14
2.2.1Susunan Acara Barong Compang ........................... 14
2.3 Upacara Libur Kilo ............................................................ 15
2.3.1Susunan Acara Libur Kilo ...................................... 15
2.4 Wae Owak ......................................................................... 18
2.5 Tudak Penti ....................................................................... 18
2.5.1Susunan Acara Tudak Penti .................................... 18
1.d. Prinsip Kesinambungan ......................................... 18
BAB III. PENTUP
A. Kesimpulan .................................................................................. 21
B. Saran ............................................................................................ 22
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................. 23
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BLAKANG
Kabupaten Daerah Tingkat II Manggarai adalah bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia ( NKRI ), yang terletak di Flores Barat Propinsi Nusa Tenggara Timur. Secara astronomis, terletak antara 80 301 L.S – 80 501 L.S dan 1190 301 B.T – 1200 501 B.T. Secara geografis, disebelah barat dibatasi oleh Selat Sape dengan Propinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), sedangkan sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Daerah Tingkat II Ngada, sebelah Utara dengan Laut Flores, sebelah Selatan Laut Sawu. Luas wilayah kabupaten Daerah Tingkat II Manggarai adalah 7.136,4 km2. Kabupaten Manggarai adalah salah satu kabupaten dari 13 kabupaten/kota madya di Propinsi Nusa Tenggara Timur. Secara administrasi pemerintahan, Kabupaten Daerah Tingkat II Manggarai seputar letak dan luas wilayah diatas.
Secara umum, sistem religi asli orang Manggarai adalah monoteis implisit, dengan dasar religinya yakni menyembah Tuhan Maha Pencipta dan Maha Kuasa (mori jadi dedek – Ema pu’un kuasa), meski masih terdapat cara-cara dan tempat persembahan misalnya, compang (mesbah) juga terkadang di bawah pohon-pohon besar yang dipandang angker dan suci.
Secara praktis, kebudayaan bisa dimengerti sebagai kumpulan nilai-nilai dan perayaan atas nilai-nilai tersebut. Sebagai kumpulan nilai-nilai, kebudayaan berkarakter pencarian. Nilai-nilai yang ada itu menjadi titik akhir pencarian manusia akan sesuatu yang dianggap bermakna bagi hidup. Dan pada dasarnya setiap manusia memiliki motif tunggal dalam pengembaraan hidupnya yaitu mengejar aneka nilai. Kita harus sepakat bahwa nilai yang dikejar adalah nilai baik yang mungkin bisa diringkas dengan sebutan keutamaan-keutamaan. Keutamaan-keutamaan itu menjadi harapan semua orang agar dipenuhi. Acara Penti (upacara Penti) yang terdapat dalam masyarakat adat Manggarai terdorong oleh satu keyakinan akan nilai tertentu untuk hidup. Bagi saya, acara itu memiliki karakter teleologis yaitu mempunyai arah atau tujuan yang mulia di dalam dirinya sendiri. Seperti apakah acara Penti dalam masyarakat adat Manggarai dan apa maknanya bagi kehidupan serta dinamikanya dari waktu ke waktu? Apa sumbangan kebudayaan lokal itu bagi kebudayaan bangsa, dalam hal ini untuk membangun sebuah ideologi ke-indonesia-an.
Sementara itu, penguasa tanah adat di Manggarai adalah Tua Golo. Tua Golo dapat melimpahkan kuasanya kepada Tua Teno untuk membuka atau membagi suatu lingko (tanah adat). Tua Teno inilah yang mengatur gendang one lingko pe’ang yakni mulai dari rumah adat sampai pembagian tanah serta struktur adat dan aturan wono (upeti) diatur oleh Tua Teno. Sebelum suatu lingko atau tanah komunal adat dibagi, Tua Teno yang mendiami suatu rumah adat (mbaru gendang) lalu mengumpulkan semua anggota suku guna bermusyawarah bersama (lonto leok bantang cama) untuk mengatur pembagian tanah secara adil dan bijaksana. Ada beberapa jenis lingko (tanah adat) di Manggarai:
Lingko Rame/Lingko Randang yakni tanah yang dibuka dengan ritual adat dan ditandai dengan pemotongan korban seekor kerbau atau babi berbulu merah (ela ruang). Tanah adat yang dibuka dengan mengorbankan kerbau tersebut disebut Lingko Rona sedangkan tanah adat dengan mengorbankan seekor babi merah disebut Lingko Wina. Kemudian, diantara salah satu lingko lagi dijadikan sebagai tempat untuk kegiatan ritual adat dengan mengorbankan seekor babi. Upacara ini dilakukan setiap tahun yang disebut Penti yakni upacara adat syukuran atas hasil panen. Sedangkan Lingko Saungcue yakni tanah adat yang dibuka dengan ritual adat dengan mengorbankan seekor babi. Biasanya, bagi warga yang mendapatkan tanah pembagian tersebut diwajibkan melakukan ritual adat setiap tahun dengan mengorbankan satu ekor ayam di atas tanah mereka masing-masing. Dalam pengelolaan tanah lingko, terdapat tiga mekanisme pembagian yakni mekanisme Lodok yakni pembagian tanah dengan bentuk segi tiga. Tua Teno yang bertugas melakukan pembagian berdiri tepat di tengah (mangka) atau di titik pusat tanah tersebut dan mengatur pembagian mulai dari dalam menuju keluar ke arah batas luar (cicing lingko). Istilah lain yakni Neol yakni pembagian tanah adat oleh beberpa orang warga yang dilakukan secara adil dan bijaksana dalam bentuk segi tiga dalam areal yang kecil dengan mendapat persetujuan Tua Teno dan Tua Golo. Pembagian dengan sistem Tobok yakni pembagian tanah sisa dari pembagian Lingko Lodok oleh beberapa orang warga di luar batas tanah adat (cicing lingko). Setiap tahun, komunitas adat atau golo/beo merayakan penti. Agar pesta terselenggara dengan baik, Tua Teno yang mengatur pembagian upeti (wono) berupa uang, beras, tuak, babi, kepada setiap suku atau warga. Biasanya, dalam pesta penti ini, warga melakukan beberapa ritual adat seperti : Barong Wae yakni semua warga melakukan upacara adat di mata air, tempat warga sehari-hari menimbah air. Upacara ini sebagai ucapan syukur kepada Tuhan dan alam yang telah memberikan air untuk memenuhi kebutuhan hidup seluruh warga. Biasanya, dalam ritus adat ini dikorbankan seekor ayam berwarna putih. Torong Ela Wee Penti yaitu setelah warga pulang dari mata air, mereka langsung melakukan ritual adat di rumah gendang untuk menghormati dan mengenang para leluhur yang telah meninggal dunia. Biasanya, dalam ritus ini, dikorbankan satu ekor babi.
Karong Lodok yakni semua warga turun ke lingko rame/lingko randang diiringi gong dan gendang dan melakukan ritual adat dengan korban seekor babi di pusat moso atau tepat dititik tengah tanah adat sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan yang telah memberi mereka hasil dari tanah yang mereka kerjakan. Torok Ela One Compang yakni setelah melakukan ritual Karong Lodok warga kembali berkumpul di tengah halaman kampung dan melakukan ritual adat di compang (tugu yang didirikan di tengah halaman rumah) dengan korban seekor babi sebagai ungkapan syukur atas kebaikan dan kemurahan Tuhan dan leluhur yang telah menjaga, melindungi dan memberi mereka hidup.
Menurut penuturan tua-tua adat, dari dulu kala tidak ada perang tanding antar golo di Manggarai dalam rangka menaklukan satu golo atau menguasai apalagi menjajah golo lainnya. Hubungan antara golo diwarnai oleh persamaan derajat seperti dalam ungkapan : “poti woleng beo, darat wole’ng tanah”. Dalam pengertian murni tradisional setiap golo bersifat independen dalam bidang kekuasaan dan hak atas tanah. Antara golo, teno, rumah gendang dan lingko merupakan satu kesatuan kehidupan orang Manggarai yang tak bisa dipisah-pisahkan dan telah membentuk satu kesatuan social politik dan spiritual yang utuh. Lingko yang berbentuk bundar atau lingkaran dapat dilihat hubungannya dengan golo. Istilah golo itu sendiri berarti bukit atau juga kampung. Maka, dari atas bukit setiap orang dapat melihat dengan jelas ke arah bawah atas dasar bukit yang membentuk sebuah sebuah lingkaran.
Orang Manggarai juga mengenal tata ruang. Sistem penataan ruang, orang Manggarai membagi wilayah berdasarkan empat jenis yaitu Pong yakni kawasan terlarang seperti kawasan yang terletrak dekat mata air; Puar merupakan kawasan hutan yang dapat dimanfatkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat seperti membangun rumah; Uma yaitu kawasan yang dialokasikan untuk pemukiman dan perladangan dan Satar yakni kawasan padang rumput atau savanna yang berfungsi sebagai padang penggembalaan ternak. Kini, dengan perkembangan dunia yang semakin modern dan perubahan yang pesat, nilai-nilai kearifan lokal masyarakat Manggarai perlahan-lahan mulai terancam hilang.
B. Rumusan Masalah
Umum : Bagaimanakah Upacara Penti (upacara syukur) dalam Sub Sistem Reigi
dalam masyarakat adat Manggarai ?
Khusus : 1. Bagaimanakah Sub Sistem Religi dalam kebudayaan masyarakat adat
Manggarai ?
2. Bagaimanakah Upacara Penti dalam masyarakat adat Manggarai ?
C. Tujuan
Tujuan upacara Penti ini adalah sebagai berikut :
1. Menyampaikan tanda syukur kepada Mori Jari Dedek dan kepada Arwah Nenek Moyang atas semua hasil jerihpayah yang telah diperoleh dan dinikmati.
2. Tanda celung cekeng Wali ntaung ( musim bergantian tahun ).
Adapun tujuan penulisan Makalah ini dalam perkuliahan adalah sebagai berikut :
1. Memenuhi salah satu tugas mata kuliah Ilmu Pendidikan Pancasila
2. Melatih mahasiswa untuk dapat mengembangkan keterampilan yang dimilikinya.
3. Melatih mahasiswa dalam pengalaman langsung atau tidak langsung dalam memberikan informasi kepada masyarakat umum tentang Upacara Penti alam Sub Sistem Religi di Daerah Manggarai.
D. Landasan Teori
D.1. Beberapa pengertian kebudayaan
1. Kata “kebudayaan” diambil dari kata sansekerta yaitu yaitu kata “buddhaya. Kata
buddhaya adalah bentuk jamak dari kata “buddhi” yang berarti budi atau akal. Dengan
demikian “kebudayaan “ adalah hal-hal yang berkaitan dengan akal.
2. Dalam penjelasan pasal 32 UUD 1945 dinyatakan bahwa kebudayaan bangsa adalah
kebudayaan yang timbul sebagai buah uaha budinya rakyat Indonesia.
Dari pengertian-pengertian diatas dapatlah disimpulkan bahwa kebudayaan manggarai adalah hasil olahan rasa, karsa, cipta dan cita yang menjadi kekayan ensensial sebagai buah udinya orang Manggarai, bai secara bersama maupun perorangan.
D.2. Wujud Kebudayaan
Kebudayaan memiliki tiga wujud, sebagai berikut :
1. Abstrak : tak dapat dipandang mata maupun diraba, karena berbentuk gagasan, ide, norma,
maupun peraturan.
2. Aktivitas : aksi yang terpola sesuai norma/peraturan yang berlaku.
3. Benda : hasiln karya tangan manusia atau perbuatan manusia baik yang ringan seperti :
tenunan, maupun yang canggih seperti baja.
C.3. Proses Sosialisasi Kebudayaan
Suatu hasil karya atau gagasan dapat tersosialsisasi dalam macammacam proses, antara lain ;
1. Proses Internalisasi : suatu proses penanaman diri tentang sesuatu seperti perasaan yang dialami manusia seja dilahirkan.
2. Proses Sosialisasi : suatu proses perkembangan individu sejak masa kanak-kanak dalam intereaksi sosial sampai pada masa dewasa.
3. Proses evolusi : suatu proses perubahan secara bertahap dalam rentang waktu yang relatife lama.
4. Proses Inovasi : suatu proses pembaruan suatu yang lama berlaku disesuaikan dengan hasil temuan yang baru.
C.4. Latar Filosofis dan Sosiologis
Secara filosofis kehidupan manusia diatur oleh pelbagai nilai, baik yang berwujud material maupun rohaniah. Oleh karena adanya hasrat untuk senantiasa hidup dan tertib, maka masyarakat itu sendiri merumuskan, mengembangkan nilai-nilai yang merupakan konsepsi abstrak.
Ungguh penu pesona dan mengagumkan, karena tradisi nenek moyang Manggarai penuh dengan nuansa filosofis, baik menyangkut hal-hal yang berada dalam dunia nyata maupun yang berada dalam dunia cit-cita.
Dalam tata kehidupan orang Manggarai ejak dulu kala bergerak dalam dua sumber filosofis yaitu:
1. Tentang apa adanya: Ha-hal yang penuh dengan realita kehidupan sesuai dengan eksistensinya sebagai manusia.
2. Tentang bagaimana seharusnya: kehidupan yang dipenuhi dengan dunia cita-cita dan karena terpupuk sikap kerja keras untuk dapat memwujudkan hal-hal yang masih berada di dunia cita-cita menadi dunia realita.
Kedua sumber filosofis tata kehidupan itu diwujudkan dalam logo rumah adat orang Manggarai pada setiap kampung (Beo/Golo) terutama pada rumah gendang (mbaru Tembong). Jenis an makna logo itu adalh:
1. Pada Puncak (bubung) rumah adat (tampak luar) terpampang tiga simbol utama
a. Periuk Persembahan: simbol keyakinan sekaligus penghormatan dan penyembahan kepada Tuhan yang menjadikan (Mori jadi dedek, tana wa awang etan, pukul parn agu kolepn, ulun le wain lau = Tuhan pencipta langit dan bumi serta segala isinya, Tuhan penjadi dan pembentuk kehidupan manusia dan segala makhluk erta alam raya), sekaligus untuk roh-roh yang mengganggu kehidupan manusia. Sejak nenek moyang diyaini, bahwa Mori jari dedek senantiasa ada, tetapi ia tidak dapat dilihat oleh manusia, oleh karena itu Mori jari dedek harus senantiasa disembah, diberi makan supaya tidak marah (kudut wa nain Mori jari) kepada manusia, supaya manusia bisa selamat dan tentram. Karena diyakini Mori jari dedek ditempat yang tertinggi, maka pada puncak bubungan rumah itulah tempat persembahannya.
b. Tanduk Kerbau (Rangga Kaba): simbol prinsip kemanusiaan yaitu nilai kemanusiaan; tetapi kemanusiaan dalam hal ini bukan kemanusiaan yang adail dan beradap saja, tetapi lebih mengandung makna cita-cita, karena nenek moyang Manggarai sangat mendambakan agar keturunannya kuat seperti fisik kerbau. Disamping ideologi seperti itu, juga merupakan simbol suka bekerja keras, sebab kerbau erat sekali hubungannya dengan orang Manggarai, baik sebagai pembantu tenaga kerja bajak sawah (kalek) maupun membantu untuk pikul beban serta jaminan untuk bayar belis.
Konsep ideologis dimaksud juga tertuang dalam ungkapan-ungkapan (goet-goet) seperti:
1. Yang berdimensi kesehatan antara lain:
• Uwa haeng wulang, lamgkas haeng ntala: hidup/tinggi sampai dibulan dan
bintang dilangit
• Cimar neho rimang, cama rimang rana: kekar kuat seperti batang lidi ijuk dari
jenis pohon enau (aren) yang berusia tua yang sulit termakan oleh parang atau
kapak.
• Neka nepo leso, neka ringing tis: jangan lekang karena teriknya sinar
matahari, jangan demam karena hujan rintik.
2. Yang berdimensi Ekonomi :
• Wake celern wa, saung bembeng ngger eta : ekonomi yang kuat, mapan dan
mampu menolong sesama karena memiliki persediaan lebih dari cukup.
• Ako neka lako, lalap nea lanta: mengetam padi tidak berpindah/tidak beranjak
karena panen sangat padat.
c. Atap Iju yang brmodel bulat
Atap ijuk membulat yang buat menyatu antara urat tali ijuk bersama batang lidinya yang didalamnya ditopang oleh kuda-kuda (kinang). Ini prinsip etig, lambang persatuan dan kesatuan yang kukuh kuat tak terpisahkan.
Nilai persatuan dan kesatuan ini menjiwai seluruh aktivitas sosial, ha terebut slalu diungkapkan baik sebagai nasihat maupun motivasi melalui goet lagu-lagu antara lain:
1. Nai ca anggit, tuka ca leleng = seia sekata, satu konsepsi demi kesatuan aksi.
2. Ca natas bate labar, ca uma bate duat; ca wae teku, agu ca mbaru bate kaeng = satu
halaman tempat bermain, satu kebun (lingko) tempat kerja, satunya rumah tinggal.
3. Dalam lagu-lagu, banyak yang mengandung nilai pendidikan untuk menyerukan
betapa maha pentingnya persatuanb dan kesatuan dalam kebersamaan; terungkap
lewat kata-kata (goet) agu kolong, lagu endong antara lain:
Ema agu anak neka woleng bantang : bapak dengan ana jangan beda
berpendapat.
Ase agu kae neka woeng tae: sanak saudara/adik dengan kakak tidak boleh
beda berpendapat.
Cama lewe ngger peang, cama poe ngger one: sama-sama menjaga
kekompakan dalam semua urusan baik kedalam maupun keluar.
Secara etimologis, nilai-nilai kebersamaan ini diberlakukan juga sebagai peroses pendidikan warga/anak cucu dengan kepatuhan yang tinggi, namun tanda-tanda erosi cendrung muncul karena nilai-nilai itu harus mampu mereplikasi perubahan, jia tidak beberapa sub sistem nilai-nilai itu akan beradaptai dengan perubahan ilmu pengetahuan dan teknologi, karena kehidupan manusia sangat dipengaruhi oleh lingkungn.
BAB II
PEMBAHASAN
ACARA PENTI (PESTA SYUKUR) DALAM SUB SISTEM RELIGI
1. SUB SISTEM RELIGI.
1.1 Fakta sejarah Sistem Religi di Manggarai
Dalam fakta sejarah aktivitas religi di Manggarai sampai dengan masuknya agama dimanggarai, telah terjadi kesalahan pemberian nama “animis” terhadap orang Manggarai yang menganut religi asli, supaya tidak disebut “kafir” kesalahan pemberian nama “animis” ini sungguh menyesatkan, karena religi asli orang Manggarai yang dulu disebut “kafir”, tidak sama konstelasinya dengan animisme. Religi asli orang Manggarai adalah “monoteis implisit”, sebab dasra religinya menyembah Tuhan Maha Penciota (Mori jari dedek, Ema pu’un kuasa), walaupun terdapat persembahannya selain di “compang” (mesbah), juga terkadang dibawah pohon-pohon besar yang dipandang angker dan suci.
Teriakan spontan secara bersama dalam lagu “Renggas” adalah bentuk sikap waspada atas perintah Mori Keraeng dari langit dalam bentuk “genggus” (guntur). Guntur bagi orang Manggarai dulu adalah identik dengan komando dari langit untuk segera menyiapkan bibit pertanian/ladang, karena guntur merarti sebentar lagi hujan mau turun. Guntur yang peka ditanggapi dahulu adalah guntur pada masa menjelang musim hujan/awal musim hujan.
Dalam “renggas” mereka wujudkan sebagai berikut:
Solo (cako oleh pemimpin):
U.......... sampur raja wela .......... (siapkanlah semua bibit)
Jawaban bersama : U ..........
Solo : sama-sama (jangan yang lain siap, yang lain tidak siap)
Di jawab : Ya ..........
Solo : sama ita (siapkan sungguh, lihat kesiapan orang lain)
Dijawab : Ya .......... U
Dari model tanggapan korelatip dengan penguasa alama, maka program ONM (Oprasi Nusa Makmur) yang berpola partisipatif dan sama-sama serempak, bukanlah hal baru bagi orang Manggarai, karena hal tersebut sudah mentradisi. Bahwa orang Manggarai tida pernah melupakan roh-roh nenek moyang, adalah karena sejak nenek moyang orang Manggarai tetap merasa tak terpisahkan dengan nenek moyangnya, sehingga rohnya tetap dihormati.
Bahwa pengaruh belum mengerti secara sempurna tentang hubungannya dengan Tuhan, maka wajarlah kalau pengaruh perasaan takut sakit, takut malapetaka, takut tidak berhasil dalam usaha pertaniannya, maka mereka pun menganggap gangguan itu semua dari roh yang jahat, sehingga perlu disembah supaya tidak mengganggu kehidupan manusa.
Corak religius orang Manggarai, tetap terkait erat dengan norma dan jenis upacara adat serta nilai-nilai yang terkandung didalamnya.
Upacara-upacara yang dipimpin oleh lembaga adat ( tua golo/ tua adat, tua tembong, tua teno) maupun oleh ata mbeko atau ata pecing (memiliki guna-guna persembahan penyakit, penolak bala, pengusir setan/roh-roh jahat), merupakan rangkaian kehidupan atau bagian dari kehidupan masyarakat, karena upacara dimaksud diharapkan dapat dilakukan turun temurun.
Jenis upacara adat yang sudah menjadi tradisi bagi orang (masyarakat) manggarai di pedesaan diantaranya adalah Upacara Penti ( Pesta Syukur ).
2. Upacara Penti ( Pesta Syukur )
Upacara Penti ( Pesta Syukur ) adalah sebuah upacara sebagaimana sebagai mat manusia mengucapkan tanda syukr kepada sang pencipta ( Mori Kraeng ) alam semesta sebagai sumber kehidupan manusia dan kepada arwah nenek moyang atas semua hasil jerih payah yang etlah diperoleh dan dinikmati, juga sebagai tanda Celung Cekeng Wali Ntaung (musim berganti tahun berlalu).
Jauh hari sebelum upacara ini dilakukan, maka semua warga kampung atau yang mempunyai pertalian dengan warga kampung yang mengadakan penti itu, diundang untuk hadir dalam upacara penti itu.
Sebelum upacara penti ini dilakukan pada sore harinya pada pagi harinya dilakukan sedikit acar kecil yaitu upacara “Podo Tenggeng” (mempersembahkan kepincangan dan kekurangan). Upacara Podo Tenggeng bermaksud supaya bencana kelaparan (busung lapar) dijauhkan, dibuang melalui upacara ini. Hewan persembahan adalah seekor babi kecil dan seekor ayam kecil yang berbulu hitam, disamping itu juga disiapkan peralatan yang tak terpakai kaena rusak, seperti : keranjang rusak, bakl rusak, periuk pecah, dll sebagai lambang kepincangan hidup, lambang kekurangan dalam kehidupan perekonmian.
Hewan persembahan dan peralatan rusak bermaksud, dibawa ketempat upacara, yaitu di “Cunga” (tempat pertemuan dua sungai ). Inti doa ditempat tersebut adalah “Ho’o lami ela miteng agu manuk miteng, kudud kandos sangged laros, kudud wurs sangged rucuk agu ringgang landing toe ita hang ciwal, toe haeng hang mane. Porong ngger laus hentet, ngger c’es mbhok, kudud one waes laud one lesos saled” = inilah kami persembahkan seekor babi dan seekor ayam, semuanya berwarna hitam, sebagai tanda penolak kelaparan. Biarlah semua bencana kelaparan hanyut dikali/ di sungai ini bersama darah babi dan ayam ini serta bersama redupnya senja mentari yang rendah membarat pada hari ini.
Ayam dan babi itu dibunuh, dan digantung pada kayu cabang yang dipancangkan pada tempat upacara. Setelah hewan persembahan selesai digantung, maka semua peralatan rumah tangga atau peralatan pertanian yang serba rusak tadi, dihanyutkan ke kali/sungai sebagai lambang hanyutnya bersama air sungai semua bencana kekurangan dan busung lapar.
Sebelum meninggalkan tempat upacara ini maka parang atau pisau yang digunakan memotong/menyembeli babi dan ayam tadi, dibersihkan diair sungai itu. Kemudian beramai-ramai pulang kekampung dan tidak boleh menoleh kebelakang. Karena dinilai tabu agar busung lapar tidak mengikuti lagi dari belakang. Karena dinilai tabu agar busung lapar tidak mengikuti lagi dari belakang. Setibanya dikampung, mulai menyiapkan hal-hal yang diperlukan pada upacara sore hari untuk memulai acar Penti ( Pesta Syukur ).
Upacara Penti ini biasanya dilakukan stelah panen semua rampung (sekitar juni-september), dan bila disanggupi dilakukan setiap tahun, tetapi sering dilakukan secara lustrum ( lima tahun sekali atau sekali selama lima tahun ).
Bila tida dilakukan, maka sesuai keyakinan yang telah mentradisi, akan mendapat amarah dari Mori Jari Dedek dan dari arwa nenek moyang, hal tersebut ditandai adanya macam-macam bencana menimpa warga kampung.
Upacara penti terbagi atas lima babak/tahap, yaitu :
2.1 Barong Wae Teku ( upacaradikali atau dimata air yang dipakai sebagai air minum oleh
warga kampung )
2.2 Barong Compang ( upacara persembahan dimegalithik/batu persembahan yang berada di tengah kampung )
2.3 Libur Kilo ( upacara persembahan umum dalam gendang, karena arwah nenek moyang sudah diajak masuk di rumah gendang ).
2.4 Wae Owak ( upacara persembahan pada masing-masing keluarga, yang letak sesajiannya ditempatkan pada tempat-tempat khusus sesuai kebiasaan, ada yang bertempat di dalam rumah ada yang diluar rumah pada batu tertentu atau pohon tertentu).
2.5 Tudak Penti (upacara puncak syukur )
Rincian kegiatan setiap babak upacara penti menurut pelaku adat/tua adat seperti bpk. Goris Gembo dan kawan-kawan. Sesuai catatan dari bpk. Vitalis Ombur (penilik kebudayaan Lumpung Tonggong = rumah adat Tonggong ) adalah sebagai berikutn :
2.1 Barong Wae Teku
Sebelum berangkat ke air, maka semua pemuka adat/tokoh serta kepala keluarga yang memiliki keluarga berkumpul di rumah Gendang atau rumah adat. Bahan-bahan yang perlu dipersiapkan : ayam, telur mentah, siri pinang, dan kapur.
Jalanya upacara : dibuka dengan renggas (renggas sebagai pemberitahuan bahwa upacara dimulai atau upacara ditutup ). Peserta berbaris berarak-arak keair dengan pukulan gung dan gendang yang disertai dengan lagu “Arao”
Solo : - Arao e neki weki arao jawab : - arao ..........
- arao e ranga manga arao - arao ..........
- arao e celu cekeng arao - arao .........
- arao e walin ntaung arao - arao ..........
Sama-sama : O e neki weki arao ......... O e arao
Solo : - arao e kaing dani arao jawab = - arao ..........
- arao e tegi becur arao - arao ..........
- arao e uwa gula arao - arao ..........
- arao e bok leso arao - arao ..........
Sama-sama : O e kaing dani arao .......... O e arao ..........O e tegi becur arao .......... o
e arao
Arti dari pada lagu diatas :
Kita adalah kumpul bersama untuk melaksanakan upacara pergantian musim dan pergantian tahun ( celu cekeng wali ntaung ) sebagai tanda syukur serta memohon hasil yang berlimpah dan kehidupan yang baik bagi seluruh penghuni kampung dalam tahun baru serta tahun-tahun selanjutnya.
Lagu yang disertai pukulan gong dan gendang baru berhenti bila tiba di sumber airminum ( mata wae teku/air timba ).
2.1.1 Susunan Acara air minum/air timba :
- Memberikan siri pinang yang diletakan dengan ungkapan : Empo, ho’o kala agu raci latang te cepe ( Nenek, ini sirih dengan pinang kami berikan ). Ai to’ong de penti, teho’on barong wae teku ( karena sebentar malam diadakan upacara penti, sekarang diadakan upacara di mata air minum/air timba).
- Telur mentah : pecahkan bagian atasnya, lalu letakan diatas bulu lalu ucapkan : Empo ho’o tuak, salangn tuak ho’o, ai to’ong penti, dasor meu agu ami cama-cama baro wali di’a sangged di’a de Morin ata poli teing latangt ite. ( Nenek, ini tuak, masudnya karena sebentar mau diadakan acara upacara penti, semoga kita besama-sama menyampaikan syukur atas segala ebaian-Nya yang telah dicurahkan kepada kita ).
- Pembawa persembahan memegang ayam.
Sebelum tudak/renge atau doa didahului ernggas sebagai pembukaan.
Tudak atau do’a :
Denge lemeu empo, ho’o de manuk kudut barong wae.
( dengar ya nenek, ini ami bawa ayam untu dipersembahkan di mata iar ini ).
Wali di’a kamping ite Morin agu Ngaran, ai ite poli teing agu ami wae bate tekug’m ho’o. ( menyampaikan syukur kepada Tuhan, karena Tuhan telah memberikan kami air minum, sebagaiman air minum itu kebutuhan dasar kami ).
Tegi kali dami ( kami memohon ) :
- Lami agu riang koe wae teku ho’o ( mohon jagalah air minum ini )
- Dasor mboas kin wae woang, kembuskin wae bate tekugm ho’o. ( semoga air minum ini senantiasa mencukupi kebutuhan kami )
- Dasor neka koe do’ong le roho agu rone le lus wae teku ho’o. ( semoga jauhkan dari segala gangguan yang dapat merusak mata air ini )
- Porong inung wae ho’o wae guna laing latangt weki agu wakar dami. ( semoga air ini berguna bagi jiwa dan raga kami )
- Porong mese bekek kali, mbiang ranga. ( semoga memberikan kesegaran bagi kami ).
Kemudian ayam disembelih, lalu dibakar untuk diambil sebagian hatinya, ususnya serta dagingnya untuk dijadikan sesajian. Lalu renggas sebagai tanda upacara di air telah selesai. Arakan dari air kecompang dengan pukulan gong dan gendang yang diiringi lagu arao seperti diatas.
2.2 Barong Compang.
Barong Compang : upacara dimegalithik, yang terletak ditengah-tengah kampung.
Bahan persembahan :
- Sirih pinang
- Telur mentah sebagai tuak
Maksud pemberian sirih dan telur mentah sebagai tuak untuk mengundang roh-roh yang menjaga mengalithik supaya hadir dirumah adat sebentar dalam upacara penti.
2.2.1 Susunan Acara di Compang :
- Renggas sebagai tanda pembukaan upacara.
- Tudak atau do’a :
• Denge di’a lemeu empo ho’o de manukn barong compang, ai to’ong wie penti one mbaru. ( dengar ya roh penjaga mengalithik, ini ayam kami persembahkan ditempat ini, karena sebentar malam diadakan upacara penti ).
• Tegi kali dami. ( kami memohon ).
• Dasor dengga koe pa’ang kali, nggaru koe dia ngaung. ( mohon perlindungan seluruh kampung, mulai dari bagian depan hingga bagian belakang )
• Dasor tadang koe darap de tana, agu kolang deleso. ( semoga dijauhkan dari wabah penyakit ).
• Tadang koes tae raja kali, deu koes tae wie. ( semoga dijauhkan dari gangguan manusia dan gangguan setan ).
• Sika koe ringang kali, wue koe rucuk, agu kando koe dango. ( jauhkan dari gangguan kesehatan ).
- Ho;o manukn lami kudut loces meu empo, ai poli baro one wae teku agu one compang ( inilah ayam untuk menerima roh yang menjaga air minum dan yang menjaga compang ).
- Dasor nai ca anggit ite, tuka ca leleng, te wali di’a sangged widang de morin ata poli teing kamping ite one ntaung ata belaud, agu tegi kole sembeng, titong agu berkak latang ite ( semoga kita bersatu untuk bersama-sama untuk menyampaikan syukur atas semua kebaikan Tuhan yang telah kita peroleh dalam tahun yang baru kita lewati, dan mohon lagi perlindungan, bimbingan serta berkat untuk hidup selanjutnya ).
Kemudian ayam disembelih dan seterusnya dibuat helang seperti tersebut diatas. Kemudian upacara toi loce. ( penunjukan tempat istirahat/tempat duduk bagi arwah ).
2.3 Upacara libur kilo
Upacara libur kilo adalah syukuran keluarga. Bahkan persembahannya adalah seekor ayam dan seekor babi kecil.
2.3.1 Susunan Acara libur kilo :
1. Renggas sebagai pembukaan upacara.
2. Lagu pembukaan : Lagu “sanda lima”
Sanda lima adalah kebutuhan yang dibutuhkan oleh manusia. Lima kebutuhan itu adalah
sebagai berikut :
a. Mbaru tara kaeng ( rumah tinggal )
b. Natas tara labar ( halaman tempat bermain )
c. Wae tara teku ( air minum/timbah )
d. Uma bate duat ( kebun garapan sebagai sumber hasil )
e. Compang ( batu berundak-undak tempat meletakan persembahan yang terletak ditengah-tengah kampung ).
Compang tempat penghuni kampung berkomunikasi dengan tuhan secara umum. Bila wabah penyakit melanda kampung, biasanya tua adat membawa sebutir telur mentah sebagai tuak ke compang.
Telur tersebut diletakan diatas compang/mengalithik dengan mengucap :
• Mori ..... ai ho’o darap de tana agu kolang de leso, ho’o tuak dami anakm de pa’angn olo, ngaungn musi, wan koe etan tu’a beo ho’o. ( Tuhan , karena wabah penyakit mau mengancam semua warga kampung, inilah tuak kami persembahkan sebagai penolaknya ).
• Sor monggong nggelak nata dami anakm, Mori ..... dasor pio-pio, nio led, nio laud. ( Permohonan dari anak-Mu ya Tuhan, semoga jaulah dari pada kami wabah penyakit ).
Kelima kebutuhan tersebut saling kait mengait antara satu dengan yang lainnya.
LAGU SANDA LIMA :
1. Solo ( cako ) : O lima o, o hae a ko sanda lima e.
Pati koe jari mori e tei koe reci lima e .....
Hae a ..... lima bo ..... mola ..... mola bong.
Cual ( oleh satu orang ) : o ..... lando ..... o ..... rame a
Sama-sama : E ..... a ..... e hae a ko sanda lima.
Lima bo ..... a ..... o ..... mola-mola bong.
Arti lagu ayaat satu diatas adalah : mohon kecukupan pangan/makan bagi yang Maha kuasa.
2. Solo : O lima o haea ko sanda lima e
Mbaun koe eta Mori ew, lemekn koe wa.
Lima bo ..... a ..... o ..... mola ..... mola bong.
Arti lagu ayat kedua adalah : Mohon hidup baik atau sejahtera.
LAGU ONGKO KOE ( ongko koe =semoga tetap beratu ).
Solo ( cako ) : Ongko koe a ..... ao ..... e Mori ongko koe a ..... ongko sala koe.
Satu orang ( cual ) : Ara ..... lea a ..... ao ..... w ..... Mori baeng
Sama-sama ( wale/jawab ) : Ami o ..... 2x
E ..... eo ..... ao ..... ongko koe a ongkos sala koe.
O Mori ongos sala koe a ..... Dasor di’a ya taki len ongko koe.
Arti lagu ini adalah : Persatuan kami ya Tuhan hingga selamanya.
LAGU DENDENG INE ( dendeng = sanjung , ine = ibu ).
Solo : Dendeng ine a ..... ao ..... e Mori dendeng ine a dendeng sala ine.
O dendeng sala ine.
O Mori dendeng sala ine a, pedeng jerek wae cucu dendeng.
Sola : O lima o haea ko sanda lima e.
Malir koe di’a le Mori e tumbu di’a koe lau.
Limae ..... hae lima bo ..... mola-mola bong.
Satu orang : O lando ..... o ..... rame a
Sama-sama : E ..... a ..... e .... e ..... e ..... a ..... haea ko sanda
Lima bo .... a ..... o ..... mola ..... mola bong.
Arti lagu adalah : mohon aliran berkat Tuhan.
Tudak/d’a :
Ho’o manukn agu ela kudut libur kilo, tae de ..... ( sebut nama yang tertua dalam keluarga itu/ kepala keluarga sampai yang bungsu ).
( ini ayam dan bab untuk libur kilo )
Tegi kali dami ( kami memohon )
Neka manga baka bara agu ngentung tuka ( semoga makanan yang kami makan tidak mengganggu kesehatan kami )
Neka koe tungga salang duat, neka caka salang we’e ( jauhkan dari kami semua segala gangguan pada sa’t pergi dan pulang kerja ).
Dasor beka agu buar kali ( semoga keluarga ini berkembang ).
Kete koe api one kali, tela kid galang peang ( mohon kebutuhan penghidupan ternak babi). Dasor wua raci kali lebo kala ( semoga berbuah pinang yang ditanam, demikian pula sirih ).
Dasor mbaun eta kal mose dami, lemekn wa, wiko le ulu kali jengok lau wai, ( semoga mengalami hidup baik ).
Dasor malir dia le kali tumbu di’a la ( mohon aliran rahmat Tuhan ).
Dasor mese bekek kali mbiang ranga ( mohon kesegaran ).
Kemudian ayam dan babi dibunuh; lalu hati, usus daging diambil sedikit-sedikit untuk dijadikan sesajian.
Dengan demkian upacara “Libur kilo “ telah selesai dan akhirnya ditutup dengan enggas.
2.4 Wae Owak.
Wae wak adalah upacara persembahan pada masing-masing keluarga, yang letak sesajiannya ditempatkan pada tempat khusus, sesuai kebiasaan tiap keluarga ( kilo ); ada yang dalam rumah; ada yang diluar rumah pada batu compang khusus atau pada pohon tertentu. Bahan persembahannya seekor ayam.
2.5 Tudak Penti
Seluruh warga kampung berkumpul dalam rumah gendang. Bahan persembahan
dalam tudak penti : ayam dan babi.
2.5.1 SusunanTudak Penti sebagai berikut :
a. Renggas/pembukaan
b. Lagu Sanda Lima, sama seperti lagu pada upacara Libur Kilo.
Lagu ongko koe, sama seperti pada upacara libur kilo.
Lagu dendeng ine, sama seperti lagu pada upacara Libur kilo.
c. Tudak/do’a :
• Denge lemeu empo, ho’o lami manukn agu ela kudut penti weki peso de
beo. ( dengar ya nenek, ini ayam dan babi kami persembahkan untuk upacara penti ).
• Tae de ..... ( sebut nama nenek dari stiap pangka/klen.)
• Neka koe baka bara kali, neka ngentung tuka (semoga makanan yang kami makan tidak mengganggub kesehatan kami ).
• Neka koe tungga salang duat kali, neka caka salang we’e. ( jauhkan dari kami semua segala gangguan pada sa’at kami pergi dan pilang kerja ).
• Dasor beka agu buar kali, wiga ras kid pe’ang natas, res kd baling lele. ( semoga warga kampung tetap meningkat jumlahnya selama masa kehidpan ini).
• Dasor tei koe reci kali, pati koe jari. ( mohon keculupan makanan ).
• Dasor keti kid api one kali, tela kid galang peang. ( semoga rezeki setiap hari tetap ada, demikian juga dengan ternak yang dipelihara ).
• Dasor wua raci po’ong kali, lebo kala weri. ( semoga pinang yang kami pelihara berbuah, demikian pun sirih berdaun lebat; maksudnya senantiasa isteri selalu sehat dan beranak banyak ).
• Paeng koe kaba wase kali ga, ita koe kaba mila. ( semoga kami memiliki ternak kerbau yang berkecukupan ).
• Dasor neka koe mata kina na’ang kali, neka ke buruk ruha manuk pening. ( semoga dijauhkan semua penyakit yang dapat menyerang ternak baik ternak babi maupun ayam ).
• Dasor mbaun eta koe kali mose dami one golo tara lonto ho’o, temekn wa, wko koe le ulu kali, jengok koe lau wa’i. ( semoga warga kampung seluruhnya tetap dalam keadaan yang sehat walafiat dan sejahtera selalu ).
• Dasor malir di’a koe kali lolin berkak de Morin, tumbu dia ke lau. ( mohon aliran berkat dan rahmat Tuhan kepada masyarakat kampung ).
Terakhir diadakan “congka kolong” ( tarian penutup ). Yang disertai dengan pukulan gung dan gendang serta diiringi lagu “kolong o”.
LAGU KOLONG O :
Solo : Kolong o ..... celu cekeng to de wali ntaung
To ..... de ..... a ..... o ..... a ..... e ..... lawa ge.
Tei reci to de, pati jari toe de a o a e lawa ge.
A o a o o o o lurang tali wua eta main e.
Cual ( lagu bersambut oleh seseorang ) : Kolong .....o ..... o ..... rame.
Wale ( sama-sama ) : Kolong o o o o ..... a ..... a e a ..... oe o lurang tali wua eta main ew.
Arti lagu : Upacara ini adalah upacara pergantian tahun yang diturunkan dari leluhur, mohon kecukupan makanan untuk kehidupan selanjutnya.
Dengan selesainya “congka kolong” ini, maka selesai pulalah seluruh rangkaian UPACARA PENTI menurut adat MANGGARAI.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Bahwa pola pikir, pola sikap/pola tindak nenek moyang orang Manggarai, dapat dinilai sangat KONSEPSIONAL dan KONDISIONAL; hal tersebut dapat disimak dari pandangan hidup atau kebiasaan hidup yang bernuansa filosofis.
2. Bahwa pola pikir yang konsepsional yang terwaris turun temurun itu, juga bersifat kondisional; terkait erat dengan kondisi alam sekitarnya
3. Bahwa keterkaitan erat dengan alam disekitar itu, turut membentuk pola pikir, pola sikap atau pola tindak mereka.
Dengan demikian perubahan alam sekitar juga mempengaruhi cara mereka berfikir dan bertindak, misalnya : ijuk dahulu kala menjadi pilihan utama untuk atap rumah, karena ijuk dimaksud sesuai dengan ideologi yang mereka dambakan dalam bidang jasmani dan rohani, terungkap lewat prinsip : “Cimar neho rimang, cama rimang rana” ( kekar kuat baik fisik maupun mental/rohani seperti sebuah batang lidi ijuk dari pohon enau yang bertumbuh subur dalam kematangan usia ).
4. Bahwa dalam pola pikir, pola sikap dan pola tindak yang mereka wariskan, senantiasa menempatkan Mori Jari Dedek, amaori pu’un kuasa ( Tuhan pencipta, Tuhan yang Maha Kuasa ) diatas segala-galanya, yang pertama dan terutama, karena diyakini bahwa dalam segala hal adalah Tuhan, baik dalam suka maupun dalam duka; baik untung maupun malang.
5. Bahwa dalam pola sikap, pola tindak dan pola pikir dan diwariskan turun temurun keanak cucu, ternyata syarat dengan nila-nilai yang agung.
6. Bahwa nilai yang terkandung dalam pandangan hidup atau kebiasaan yang mentradisi itu, nilai yang sangat menonjol ialah nilai persatuan dan kesatuan.
7. Bahwa segala sesuatu yang dihasilkan, bisa terwujud/ada karena hati dan pikiran. Apabila didalam hati atau pikiran tak ada sesuatu, maka tak ada apapun juga.
8. Bahwa dalam mempertahankan dan meneruskan nilai-nilai adat yang mentradisi itu, fungsi lembaga adat sangat dominan karena selain sebagai penanggung jawab dan pewaris, juga dipandang sebagai pendidikan nila-nilai luhur untuk masyarakat/keturunan.
9. Bahwa dalam setiap upacara persembahan kepada Tuhan ( Mori jadi dedek ) pada posisi terdepan, ternyata selalu diikuti dengan persembahan kepada nenek moyang, roh jahat atau mamon pada sisi lain, sebagai sala satu paket persembahan yang tak terpisahkan.
10. Bahwa dalam rangka pewarisan nilai, ada tradisi tertentu yang mengandung penyimpangan, tak perlu diteruskan, antara lain persembahan dalam uoacara adat yang mengandung penyimpangan kepada mamon.
11. Bahwa jati diri orang Manggarai, lebih banyak terbentuk oleh nilai-nilai yang mentradisi.
12. Bahwa dalam nuansa relegi, budaya merupakan media simbolis dari agama yang metafisis, untuk memudahkan pemahaman manusia yang fisikis.
B. Saran
Dalam penulisan makalah ini penulis mengharapkan supaya kita semua jangan pernah melupakan segala tradisi/upacara di tiap daerah kita masing-masing, karena dengan tradisi tersebut dengan kumpulan nilai-nilai yang terkandung didalamnya. Sebagai Kumpulan nilai-nilai, kebudayaan yang berkarakter sebagai pencarian, nilai yang ada itu menjadi titik akhir pencarian manusia terhadap sesuatu yang dianggap bermakna bagi hidup. Dan kebudayaan itu merupakan ciri khas atau kekhasan daerah tersebut yang tidak ada didaerah lain sehingga kebuyayaan itu tetap dijaga dan dilestarikan.
DAFTAR PUSTAKA
Dagur B, Antony. Kebudayaan Manggarai Sebagai Salah Satu Khasanah Kebudayaan
Nasional. Ubhara Press : Jakarta. 1997.
Fauzie Rizal,M Rusli Karim (Eds). Dinamika Budaya dan Politik dalam Pembangunan.Tiara
Wacana:Yoyakarta. 1991.Miharja, K. Achdiat. Polemik Kebudayaan. Balai Pustaka:Jakarta. 1998.
Storey,John. Cultural Studies dan Kajian Budaya Pop.jalasutra:Yogyakarta. 2008.
Toda, N.Dami. Manggarai Mencari Pencerahan Historiografi.Nusa Indah:Ende. 1999.
Antony Bagul Dagur, Manggarai dalam Perspektif Masa Depan (Infomedia:Jakarta,2004)
Adi M Nggoro, Budaya Manggarai Selayang Pandang (Nusa Indah: Ende, 2006) hal..
Petrus Janggur, Butir-Butir Adat Manggarai (Yayasan siri Bongkok:Ruteng, 2010) hal. 53.

LikeShow more reactions
Comment
14 comments
Comments
Mr-Joha Ignacio hem kenapa, cara buat halaman bagaimana ew????????????
Mr-Joha Ignacio
Mr-Joha Ignacio yupppppppppppppppppppppp..................
Mr-Joha Ignacio
Mr-Joha Ignacio yuuuuuuuuuuupppppppppppppppppp..................
Hisyam Sumayah
Hisyam Sumayah mantap sejarah daerah ?
Jack Totti Tamoen
Jack Totti Tamoen Tabe om Ignasius Joha, sy mohon nilai-nilai penti. khsusnya bagi kaum muda mnggarai dewasa ini. apakah ada hal yang mndasar shingga penti ini tidak seluruh kampung melaksanakan penti? tabe
Efrem Gontang
Efrem Gontang enak ceritra ho'o eaa om aec
Tiano Fellano
Tiano Fellano sore kae, aku mau tanya jenis go,et dalam upacara penti ,terimkasi
Angelin
Oshind Indha AmaRanta
Oshind Indha AmaRanta Kaeee tolong sebut apa apa saja goe't dan makanya dalam acara wuat wa'i. tabe
Ermelinda Rueng
Ermelinda Rueng Slmat sg pa,mf mengganggu. Saya seorang mahasiswa yang sedang menulis proposal dngan judul, menganalisis simbol dalam acara penti. Mungkin pa bisa membantu saya. Ini nmr telepon saya pa.081239165178. . Besar harapapan,Bapak mau membantu saya. Thanks before.
AlLikk A'y
AlLikk A'y Hoo ata tu2ngn....
Frans Jelata

Write a comment...

RITUAL ADAT  PENTI


Like This Page · January 8 
https://www.facebook.com/887337391461916/photos/a.893845294144459/935182206677434/?type=3&theater


<b>Ritual adat Penti, yaitu suatu Upacara Adat merayakan syukuran atas hasil panen yang dirayakan bersama-sama oleh seluruh warga desa. Bahkan ajang prosesi serupa juga dijadikan momentum reuni keluarga yang berasal dari suku Manggarai.
Ritual Penti dimulai dengan acara berjalan kaki dari rumah adat menuju pusat kebun atau Lingko, yang ditandai dengan sebuah kayu Teno. Di sini, akan dilakukan upacara Barong Lodok, yaitu mengundang roh penjaga kebun di pusat Lingko, supaya mau hadir mengikuti perayaan Penti. Lantas kepala adat mengawali rangkaian ritual dengan melakukan Cepa atau makan sirih, pinang, dan kapur. Tahapan selanjutnya adalah melakukan Pau Tuak alias menyiram minuman tuak yang disimpan dalam bambu ke tanah.
Urutan prosesi tiba pada acara menyembelih seekor babi untuk dipersembahkan kepada roh para leluhur. Tujuannya, supaya mereka memberkahi tanah, memberikan penghasilan, dan menjauhkan dari malapetaka. Para peserta pun mulai melantunkan lagu pujian yang diulangi sebanyak lima kali. Lagu itu disebut Sanda Lima.
Usai itu, rombongan kembali ke rumah adat sambil menyanyikan lagu yang syairnya menceritakan kegembiraan dan penghormatan terhadap padi yang telah memberikan kehidupan. Ritual Barong Lodok yang pertama ini dilakukan keluarga besar yang berasal dari rumah adat Gendang. Upacara serupa juga dilakukan keluarga besar dari rumah adat Tambor. Keduanya dipercaya sebagai cikal bakal suku Manggarai.
Puncak acara Penti ditandai dengan berkumpulnya kepala adat kampung, ketua sub klen, kepala adat yang membagi tanah, kepala keluarga, dan undangan dari kampung lain. Mereka berdiskusi membahas berbagai persoalan berikut jalan keluarnya.

Comments
Write a comment...

  • Hendrikus Maun Lagu pembukaan Randat Randat go remong adok go ang randat randat go remong adak go ang gae e
    e e o e maitaung ge a..neki cama cama laing cama laing ta de suru mori ge... Nwx
    1
Ritual Barong Lodok
https://www.facebook.com/Sejarah-manggarai-887337391461916/


<b>Ritual Barong Lodok juga disimbolkan untuk membagi tanah ulayat kepada seluruh anggota keluarga. Tanah yang bakal dibagikan itu mempunyai beragam perbedaan luas, tergantung status sosial. Pembagiannya disimbolkan dengan Moso, yakni sektor dalam Lingko yang diukur dengan jari tangan. Tanah tersebut dibagi berdasarkan garis yang mirip dengan jaring laba-laba. Tua Teno adalah satu-satunya orang yang memiliki otoritas membagi tanah tersebut.



<b>RITUAL BARONG WAE

Ritual Barong Wae. Ritual ini diadakan setelah mengadakan ritual Barong Lodok, Di sini, warga kembali akan mengundang roh leluhur penunggu sumber mata air. Menurut kepercayaan, selama ini roh leluhur itu telah menjaga sumber mata air, sehingga airnya tak pernah surut. Ritual ini juga menyampaikan rasa syukur kepada Tuhan, yang telah menciptakan mata air bagi kehidupan seluruh warga Desa Manggarai. Kurban yang dipersembahkan adalah seerkor ayam dan sebutir telur.


<b>RITUAL BARONG COMPANG
Ritual Barong Compang. Diadakan setelah mengadakan Ritual Barong Wae. Prosesinya dilakukan di tanah yang berbentuk bulat, yang terletak di tengah kampung. Roh penghuni Compang juga diundang mengikuti upacara penti di rumah adat pada malam hari. Suku Manggarai mempercayai, roh kampung yang disebut Naga Golo selama ini berdiam di Compang.
Bagi suku Manggarai, peranan Naga Golo sangat penting dan amat nyata dalam kehidupan sehari-hari. Alasannya, Naga Golo-lah yang telah melindungi kampung dari berbagai bencana. Mulai dari kebakaran, angin topan, bahkan bisa menghindarkan timbulnya kerusuhan di kampung.
Ritual Barong Compang diakhiri dengan langkah rombongan yang masuk ke rumah adat, untuk melakukan upacara Wisi Loce. Di sana, mereka menggelar tikar, agar semua roh yang diundang dapat menunggu sejenak sebelum puncak acara Penti.
Keluarga dari rumah adat Gendang dan Tambor melanjutkan acara Libur Kilo. Prosesi yang satu itu bertujuan mensyukuri kesejahteraan keluarga dari masing-masing rumah adat. Uniknya, upacara tadi dipercaya sebagai upaya membaharui kehidupan bagi seluruh anggota keluarga. Sebab dalam upacara itu, warga yang bermasalah, dapat membangun kembali hubungan keluarga supaya lebih baik lagi.
























CACI



Tradisi Caci, semacam olah raga tradisional yang dijadikan tradisi ritual menempa diri. Pentas kolosal pemuda setempat itu diyakini bisa terus menjaga jiwa sportivitas. Maklum, olah raga yang dilakukan tak lain dari pertarungan saling pukul dan tangkis dengan menggunakan pecut dan tameng. Pertarungan antardua pemuda tersebut selalu dipenuhi penonton dalam setiap pergelaran di lapangan rumput Kota Ruteng, Kabupaten Manggarai.
Pertunjukan Caci diawali dengan pentas tarian Danding, sebelum para jago Caci beradu kebolehan memukul dan menangkis. Tarian itu biasanya disebut juga sebagai Tandak Manggarai, yang dipentaskan khusus hanya untuk meramaikan pertarungan Caci.
Gerakan penari Danding lebih enerjik ketimbang tari Vera atau tari Sanda Lima. Para penarinya pun ikut melantunkan lagu dengan lirik yang membangkitkan semangat para pemain caci dalam bertarung.
Pertarungan Caci dilakukan oleh dua kelompok, yang masing-masing terdiri dari delapan pemain. Setiap peserta mendapat kesempatan pertama sebagai pemukul, dan selanjutnya bertindak menjadi penangkis serangan.
Permainan Caci dijadikan pelajaran berharga bagi anggota suku Manggarai dalam mengendalikan emosi. Pasalnya, meski saling mencambuk -dan biasanya bakal terluka- sopan santun dalam gerakan di arena, ucapan, dan hormat kepada lawan selalu dijaga para pemainnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar