Kamis, 22 Maret 2018

PELECEHAN BUDAYA MANGGARAI

Dianggap Hina Adat Manggarai, Foto Ini Jadi Viral

18
18375
Foto ini, yang memperlihatkan momen penerimaan tamu dengan tata adat Manggarai, yang tampaknya berlangsung di kantor bupati Manggarai menjadi viral di media sosial. (Foto: Ist)
Floresa.co – Sebuah foto penerimaan tamu dengan tata adat Manggarai, yang tampaknya berlangsung di kantor bupati Manggarai menjadi viral di media sosial, di mana muncul kecaman karena dalam foto tersebut tampak tua adat tidak dihargai.
Foto itu kini beredar di jaringan Facebook dan grup-grup Whats App.
Di dalamnya, tampak tiga orang tua adat duduk bersila di atas tikar, sementara Bupati Manggarai, Kamelus Deno dan wakilnya, Victor Madur bersama tiga orang tamu duduk di atas kursi.
Mereka pun tampak tidak memperhatikan tua adat, yang salah seorang di antaranya kelihatan sedang berbicara sambil mengangkat seekor ayam.
Advertisement
Foto itu mendapat beragam tanggapan, di mana Deno dan pejabat lainnya disebut memperlihatkan contoh buruk dan tidak menunjukkan atensi terhadap adat Manggarai.
Pemilik akun Chelluz Pahun, salah satu yang mengunggah foto tersebut di Facebook memberi keterangan, “Seperti Relasi hamba dgn Tuan. Adat manggarai tu gini ya?”
Sementara Jovially Satriano Valentino menulis, “Adat jaman now. NEKA BE’ WA ATA, BETAT’ ITE.” (Tidak boleh orang lain [duduk] di bawah, Anda [duduk] di atas)
Terhadap postingan di akun milik  Hieronimus Marus Jehani, yang bertanya, “apakah benar adat Manggarai seperti ini,” pemilik akun Nasri Jimi berpendapat, mestinya semua yang ada dalam ruangan itu sama-sama duduk di atas tikar.
“Sy rasa tuan rumah nya yg bertanggung jawab. Kalo memang mau ikut adat atau mau disetarakan ya harus siapin tikar,” tulisnya.
Sementara itu, pemilik akun Frans Dancung menyatakan, “melihat foto ini dan mencoba menganalisanya saya berani mengatakan SANGAT tidak mencerminkan sesuai adat Manggarai aslinya. SANGAT MEMALUKAN.”
“Bupati sebagai kepala daerah dan sebagai tokoh Manggarai bahwa nilai nilai adatistiadat dan tatacara adat Manggarai mestinya harus dijaga dan memelihara kelestarian nya agar generasi kita bisa menirunya. Karena bagaimanapun walaupun kita dijaman moderen ini kita semua asalnya dibesarkan sesuai ajaran adat istiadat kita manggarai,” tambahnya.
Mengomentari perdebatan tentang peristiwa dalam foto itu, Pastor Vinsensius Darmin Mbula OFM, imam kelahiran Benteng Jawa, Kabupaten Manggarai Timur mengatakan, apa yang ditunjukkan oleh Deno dan wakilnya bersama para pejabat lain memang tidaklah elok dan memperlihatkan bentuk perendahan terhadap kultur, kearifan lokal.
“Dari segi cara duduk, tampak para pemegang kekuasaan itu tidak menaruh perhatian pada apa yang sedang disampaikan tua adat,” katanya.
“Dengan bersikap demikian, mereka juga tidak menunjukkan kepada tamu bagaimana praktek keramahtamahan dalam adat Manggarai,” lanjutnya.
Ia menjelaskan, pemerintah mestinya menjadi teladan dalam menghargai adat istiadat.
“Apalagi, alasan mereka menyambut tamu itu adalah memperlihatkan kekayaan budaya Manggarai. Bagaimana mungkin mereka kemudian malah tidak menghargainya,” tegas imam Fransiskan yang juga Ketua Majelis Nasional Pendidikan Katolik (MNPK) ini.
Sementara itu, merespon kritik publik, Deno mengatakan, berterima kasih dan menyebut itu, “karena kecintaan kita bersama akan budaya Manggarai demi perbaikan ke depan.”
“Semangatnya budaya Manggarai. Semangat budaya Manggarai yang sama itulah juga mestinya menjadi dasar nilai dalam bertutur, memilih diksi untuk mengungkapkan pikiran kita tentang apa saja. Karena itulah, kita bisa menilai yang berbicara itu orang tahu adat (Manggarai)  atau sebaliknya tidak tahu budaya,” kata Deno dalam pernyataannya yang dikirim di salah satu grup Whats App.
Ia menambahkan, dirinya teringat tulisan Herbeth Feith, yang menyebut, kualitas orang diukur dari ucapanya, dari kata-kata atau diksi yang digunakan waktu berbicara atau yang dituangkan dalam bentuk lain seperti tulisan.
Namun, dalam pernyataannya itu, ia tidak menjelaskan alasan pengaturan posisi duduk yang tampak dalam foto tersebut, hal yang menjadi salah satu fokus pertanyaan banyak pihak.

18 Komentar


  1. kalau mengaku diri sebagai ‘mendi’ maka akan menjadi ‘mendi benaran.
    sudah saatnya untuk tingkatkan harkat ‘mbaru gendang’ beserta adat istiadatnya, ‘weku wai rentu sa’i’ bukan wéku wa’i ndogét riti’.
  2. Pejabat sperti ini patut dipertanyakan kwalitasnya!!!!!!!!!sangat tdk pantas seorang pemimpin melakukan sperti ini.
  3. Kebenaran dari budaya dalam kontex aksi menurut saya ialah terjadi atas kesepakan bersama dalam suatu komunitas/ masyarakat dan dilaksanakan secara turun temurun. Nah pertanyaan saya, apakah kesepakan para leluhur kita, kalau kembali pada peristiwa ini, apakah dibenarkan menurut norna norma kesepakatan leluhur kita?
  4. Budaya adalah napas dari kehidupan tak menghargai dan tak punya budaya berarti benda mati..
    Ite ca tana congka sae,lonto cama padir wai rentu sai,,reje lele
  5. Su gguh sangat di luar dugaan,
    Sikap pemimpin yg menunjukan kesombonganx ini terhadap rakyat sendiri.terhadap orang2 yg lebih tua yg mana dia bisa jadi pemimpin karena didikan dri or g yg lebih tua..ini sangat melecehkan Adat istiadat di manggarai,bukan hnya adat Agama juga.
  6. miris skali gmbar diatas.. mrka sbuk masing2 sdngkan, pra tua adat semntara berbicara.. bgmna org lain bisa menghargai kalo tuan rumah sja tdk menghargai.. berikan contoh yg kurang baik.. seperti bukan org manggarai sj..
  7. Sebenarnya dia belom bisa jadi seorang pemimpin jika adat istiadat manggarai belom bisa memahami sebetulnya.
    Ini tandanya bahwa anak manggarai Sebagai pemimpin yang memimpin masyarakatnya di luar jalur istiadat manggarai.
    Untuk jadi seorang pemimpin di suatu daerah paling tidak harus memahami yang namanya adat.
    Sebab jika sejalan dengan adat maka apapun projek untuk kedepanya pasti berjalan dengan lancar dan sangat berkesan
  8. Seharusx sebagai seorg pemimpin mmberikan contoh yang baik… apakah ad manggarai kita seprti ini?? Sy sbgai mhasiswa dan masyarkt mnggrai sngat kecwa trhadap sikap buruk dr fto trsbut dimna tua adat bgtu tdk dihrgai sbgai msyrkt mnggrai saya bnar2 kecwa atas prilaku buruk yg tdk pntas untk di publikasikn..
  9. Saya putra Manggarai,sangat tidak setuju menyikapi sifat buruk para pemimpin Manggarai.
    Semoga kejadian ini menjadi cambuk bagi para pemimpin agar tidak menganggap dan memandang budaya Manggarai sebelah mata, apapun jabatannya.
  10. Sangat miris kalau masalah ini di biarkan ,Bupati manggarai Deno kamelus seolah acuh tak acuh dengan budaya dan mengajarkan tidak benar pada generasi penerus manggarai, harus cepat disikapi.
  11. Apa perlu sompo wa mai nggolo mai lami ta ite.
    Kudut senget koe tegi dami sot wa mai..

Pemkab Manggarai Klarifikasi Foto Ritus Penerimaan Adat yang Viral

 
2
3235
Penjelasan di Fanpage Facebook @humaspromanggarai. (Foto: Ist)
Floresa.coPemerintah Kabupaten Manggarai memberi klarifikasi terkait foto ritus penerimaan tamu dengan tata adat Manggarai yang viral di media sosial dan menuai banyak komentar bernuansa kecaman.
Klarifikasi itu disampaikan pada Rabu, 14 Maret 2018 dalam Fanpage Facebook @humaspromanggarai, yang dikelolah oleh Bagian Humas dan Protokol Setda Manggarai.
Dalam klarifikasi tersebut dijelaskan bahwa foto yang viral itu sebelumnya dipublikasi di Fanpage tersebut.
“Foto ini diabadikan…ketika Pemerintah Kabupaten Manggarai menerima kunjungan Sekertaris Dirjen PDTU (Pengembangan Daerah Tertentu) Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi RI, Aisyah Gamawati dan rombongan pada hari Senin, 12 Maret 2018,” demikian penjelasan di Fanpage tersebut,
Advertisement
Tim sempat menyinggung berita yang dipublikasi Floresa.co terkait foto tersebut dan menyebut Fanpage mereka juga “mendapat banyak ‘inbox’ berisi permintaan klarifikasi dan penjelasan.”

BACA: Dianggap Hina Adat Manggarai, Foto Ini Jadi Viral

Mereka menjelaskan, terkait viralnya foto itu, Kabag Humas dan Protokol bersama seluruh staf sudah menemui Bupati, Kamelus Deno dan Wakil Bupati Victor Madur.
Dalam pertemuan tersebut, kata mereka, Deno menjelaskan bahwa posisi duduk seperti dalam foto itu itu tidak dimaksudkan untuk meremehkan atau menghina – sebagaimana ditulis Floresa.co – terhadap adat istiadat Manggarai.
Inilah foto yang menjadi bahan perbincangan di media sosial. Di dalamnya, tampak tiga orang tua adat duduk bersila di atas tikar, sementara Bupati Manggarai, Kamelus Deno dan wakilnya, Victor Madur bersama tiga orang tamu duduk di atas kursi. Mereka pun tampak tidak memperhatikan tua adat, yang salah seorang di antaranya kelihatan sedang berbicara sambil mengangkat seekor ayam.
“Desain ruangan serta situasi dan kondisi lainnya menjadi alasan ritus penerimaan adat di Aula Nuca Lale Kantor Bupati Manggarai dilakukan dalam tata posisi demikian,” demikian penjelasan tim, mengutip keterangan Deno.
Dijelaskan juga bahwa tua adat yang dilibatkan dalam acara itu memahami kondisi dimaksud.
Klarifikasi itu juga mengutip pernyataan Deno yang mengatakan, pihaknya sudah menanyakan kepada pada tua adat, apakah posisi duduk sebagaimana dalam foto itu dimungkinkan.
“Mereka bilang bisa. Maka, itu dilakukan,” demikian kata Deno. “Kita tidak melaksanakannya atas keputusan sendiri. Tua Adat kita libatkan,” lanjutnya.
Penyelenggaran acara itu di Aula Nuca Lale bermaksud untuk menunjukkan kepada tamu bahwa orang Manggarai sangat menghargai tamu, demikian menurut Deno.
Dijelaskan juga bahwa ruangan Aula Nuca Lale didesain mirip seperti Mbaru Gendang, lengkap dengan siri bongkok dan artefak kebudayaan, yang bertujuan memudahkan pemberian penjelasan kepada para tamu tentang rumah adat Manggarai.
“Ruangan ini selalu dipakai untuk menerima para tamu daerah,” demikian menurut tim Humaspro, sambil menambahkan bahwa pelaksanaan ritus penerimaan tamu adalah bagian dari upaya promosi budaya dan bentuk penghargaan pemerintah pada adat istiadat Manggarai.
Tim Humaspro juga menegaskan lagi sikap Bupati dan Wakil Bupati Manggarai terhadap reaksi netizen, yang berterima kasih atas adanya kritikan dan saran.
Deno juga mengungkapkan, “Jika harus diperbaiki (terkait posisi seperti di dalam foto yang dianggap melecehkan adat), kita akan perbaiki.”
Namun, Deno juga mengingatkan, semangat budaya Manggarai mestinya juga menjadi dasar nilai dalam bertutur dan memilih diksi untuk mengungkapkan pikiran.
“Di titik itulah kita bisa menilai yang berbicara itu orang yang tahu adat atau tidak,” katanya, sambil menyebut prinsip kritik dan saran dalam semangat budaya Manggarai yaitu kritis, santun dan berorientasi pada perbaikan dan kebaikan bersama.
Sementara itu, terkait sikap Victor Madur, dalam klarifikasi itu dijelaskan bahwa menurutnya, tidak setiap ritus adat “Tuak Curu” dan “Manuk Kapu” yang melibatkan bupati dan wakil bupati atau tamu dilakukan dalam posisi seperti di dalam foto yang menjadi viral itu.
“Di tempat lain, pada acara lain, posisinya lain. Poinnya adalah pada nilai inti acara tetap dalam semangat budaya Manggarai,” tuturnya.
Klarifikasi itu juga mengutip pernyataan Tua Golo Tenda, Agustinus P. Baruk, yang menerangkan bahwa  posisi tamu pada ritus demikian sesungguhnya fleksibel.
“Tamu duduk di kursi itu fleksibel karena kita tidak menerima dia di rumah adat, tetapi di kantor. Apa yang dilakukan selama ini tidak ada masalah. Yang paling penting bupati menjelaskan kepada tamu tentang ritual itu,” jelasnya.
Menurutnya, setelah ritus dilakukan, bupati memberi penjelasan tentang bagaimana sesungguhnya ritus dalam adat Manggarai.
“Bupati menjelaskan kepada tamu, jika diterima di rumah adat maka tamu juga menggunakan songke,” tutur Agustinus.
Baruk juga menyampaikan bahwa berbagai komentar yang muncul terkait foto itu menjadi masukan bagi pelaksanaan ritus serupa di kemudian hari.
Menurutnya, bagian terpenting dalam ritus itu adalah kata-kata yang disampaikan oleh yang membawakan ritus adat.
“Kita meminta roh untuk menjaga tamu yang hadir, mengamankan tamu,” tuturnya.
Menurut Tim Humaspro, dalam setiap ritus penerimaan tamu, bupati dan wakil bupati Manggarai selalu menyampaikan penjelasan terkait makna dan tata cara ritus tersebut.
“Dalam berbagai kesempatan, kepada para tamu dijelaskan bahwa tuak putih dalam kendi, dan ayam putih melambangkan ketulusan dan kegembiraan dari pemerintah dan masyarakat atas kehadiran tamu. Sedangkan topi dan selendang menandakan bahwa para tamu telah menjadi bagian dari orang Manggarai,” demikian penjelasan mereka.
Mereka juga menyatakan, terkait posisi tamu di foto tersebut yang disebut tidak menghargai ritus adat, karena diianggap sedang “main hape”, sesungguhnya tamu tersebut sedang mendokumentasikan ritus adat yang baru pertama kali mereka saksikan.
“Hal ini disampaikan juga oleh Sekjen PDTU dalam sambutannya, sebagaimana terdokumentasi dalam video Humas dan Protokol Setda Kabupaten Manggarai,” demikian penjelasan tim.
Pantauan floresa.co, klarifikasi tersebut segera mendapat tanggapan beragam dari netizen.
Klarifikasinya sdh pas dan memuaskan,” tulis pemilik akun Apolinarius Rokefeler Soleman.
Namun, ada juga yang mengkritik penjelasan tersebut.
Penjelasan lengkap tetapi masih menyisakan tanya. Kalau sifatnya fleksibel apa bisa dimungkinkan juga petoroknya menggunakan kursi?,” komentar pemilik akun Ronald Adipati.
“Bang keta tema kursi telu’n kudut ata tua so ko,” tulisnya lagi dalam Bahasa Manggarai, yang secara harafiah berarti, apakah memang tidak ada kursi untuk ketiga tua adat dalam foto itu.
“Bukankah lebih elegan jika term fleksibel itu diartikan dengan duduk sejajar dikursi? Mengapa harus menerjemahkan fleksibel dengan tikar? Kalau diberikan kursi, sy yakin tua adatnya mau juga e,” komentar Ronald.
Pemilik akun Petrus Agus menyatakan,Seperti apapun penjelasan klo memang dilihat dari posisi duduk tidak etis dari sisi adat.”
ARL/Floresa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar