Rabu, 03 Mei 2017

BINATANG KOMODO MENGGIGIT WISATAWAN

Mitos Terbesar tentang Gigitan Mematikan Komodo, Jangan Lagi Dipercaya


 http://sains.kompas.com/read/2017/05/04/15311241/mitos.terbesar.tentang.gigitan.mematikan.komodo.jangan.lagi.dipercaya

KOMPAS.com - Pada tahun 1969, ahli biologi Amerika bernama Walter Auffenberg datang ke Indonesia untuk meneliti Komodo (Varanus komodoensis), hewan yang kerap dikatakan kadal terbesar di dunia.
Auffenberg mengamati perilaku hewan berukuran sekitar 3 meter itu dan memublikasikan hasil risetnya dalam buku yang diterbitkan tahun 1981.
Buku itu memang memuat banyak pengetahuan tentang komodo. Namun pada saat yang sama, buku itu juga memuat mitos yang masih banyak dipercaya hingga kini: komodo mematikan karena punya mulut kaya bakteri.
Sejumlah penelitian terbaru mengungkap, hal yang banyak termuat dalam buku teks, film dokumenter, dan pengumuman di kebun binatang itu salah dan tidak didasari hasil penelitian yang kuat.
Baca Juga: Komodo, Kadal Raksasa Paling Berbahaya di Dunia
Kemunculan mitos itu diawali dari pengamatan Auffenberg pada kerbau air yang diserang komodo. Ia melihat, kerbau itu mengalami infeksi hebat setelah digigit.
Berdasarkan pengamatan itu, Auffenberg menyimpulkan, komodo membunuh mangsa dengan bantuan bakteri mematikan di mulutnya.
Namun lewat hasil penelitian yang dipublikasikan di Proceedings of the National Academy of Sciences pada 2009, Bryan Fry, peneliti dari University of Queensland di Australia menyanggah, "Itu hanya sebuah dongeng memikat yang diterima begitu saja seperti sabda."
Fry memindai kepala komodo untuk melihat morfologi dan strukturnya. Ia menemukan, komodo memiliki kelenjar racun yang menghasilkan bisa mematikan.
Menurut Fry, komodo membunuh dengan taktik mencengkraman, merobek, dan menyuntikkan racun. Komodo menggigit dengan gigi yang bergerigi dan menarik kembali dengan otot leher yang kuat. Hasilnya: luka menganga.
Bersamaan dengan luka, komodo menyuntikkan racunnya. Senyawa secara cepat menurunkan tekanan darah dan membuat mangsanya syok.
Baca Juga: Gigitan Komodo Tak Lebih Kuat dari Kucing
Bekerjasama dengan Ellie Goldstein dari Sekolah kedokteran Universitas California di Los Angeles, Fry juga melakukan studi keragaman bakteri pada mulut komodo.
Keduanya mengusap mulut mulut 10 komodo dewasa dan 6 anak komodo anak di Kebun Binatang Los Angeles, Honolulu, dan Houston.
Hasilnya? Tak ada yang istimewa dari populasi bakteri mulut komodo. Semua jenis bakteri yang ditemukan lazim berada di mulut dan perut hewan.
Tidak ada spesies mikroba yang membahayakan sama sekali, dan tentu saja tidak ada yang dapat menyebabkan infeksi yang cepat dan fatal. Spesies yang berada di sana tidak terlalu melimpah.
"Level bakteria di dalam mulut lebih rendah dari pada yang bisa kamu dapatkan dari karnivora mamalia yang ada di kandang, seperti singa atau setan tasmania," kata Fry.
"Komodo sebenarnya sangat bersih. Ini paku lainnya di peti mati untuk ide mereka yang menyebut menggunakan bakteria sebagai senjata," imbuhnya.
Sementara, Goldstein seperti dikutip National Geographic pada 27 Juni 2013 mengatakan, "Model bakteri sebagai racun didasarkan pada kesalahan dan studi yang tidak berlaku," kata Goldstein.
Baca Juga: Mendesak, Regenerasi Ahli Komodo
Mungkin ada yang berargumen bahwa komodo dalam penelitian tak punya bakteri beracun karena sudah hidup di kandang kebun binatang.
Namun menurut Fry, populasi bakteri pada komodo di kandang dan di alam liar tidak akan berbeda. "Mereka seharusnya juga bisa memfasilitasi pertumbuhan bakteri saat di kandang," katanya.
Di samping buku Auffenberg, hanya ada satu bukti pendukung hipotesis bahwa komodo membunuh dengan racun, yaitu hasil studi tim Universitas Texas di Arlington.
Pada tahun 2002, mereka menemukan perbedaan bakteri di air liur 26 komodo liar dan 13 komodo kandang, termasuk 54 penyakit yang disebabkan oleh patogen.
Ketika mereka menyuntikkan air liur komodo pada tikus, banyak tikus itu mati dan darahnya dipenuhi mikroba jenis Pasteurella multocida.
Tapi menurut Fry studi itu menggelikan. Bakteri yang teridentifikasi sebenarnya tidak bersifat patogen dan tidak terdapat pada semua komodo.
Menurut Fry, bakteri bisa saja berkontribusi membunuh mangsa, tetapi tidak dengan cara yang diungkapkan Auffenberg.

Ini Kronologi Peristiwa Wisatawan Asal Singapura Digigit Komodo di NTT

 

Kontributor Kupang, Sigiranus Marutho Bere
Kompas.com - 04/05/2017, 06:06 WIB

 http://regional.kompas.com/read/2017/05/04/06060051/ini.kronologi.peristiwa.wisatawan.asal.singapura.digigit.komodo.di.ntt

 

 

Dua ekor komodo, jantan dan betina di Taman Nasional Komodo tengah mengoyak dua ekor kambing muda, Labuan Bajo, Senin (6/6/2016). Komodo betina umumnya lebih agresif soal makanan.(Estu Suryowati/KOMPAS.com)
LABUAN BAJO, KOMPAS.com - Nasib nahas dialami Loh Lee Aik (68). Fotografer asal Singapura ini digigit komodo di Desa Komodo, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Rabu (3/5/2017).
“Wisatawan asing asal Singapura yang juga adalah fotografer ini digigit oleh seekor komodo di wilayah pegunungan atau sekitar 200 meter dari arah Pustu Desa Komodo,” kata Kepala Bidang Humas Polda NTT AKBP Jules Abraham Abast kepada Kompas.com, Rabu (4/5/2017) malam.
Jules menjelaskan kronologi peristiwa tersebut. Menurut dia, kejadian itu bermula ketika pada Senin (1/5/2017), Loh berangkat dari Labuan Bajo (ibu kota Kabupaten Manggarai Barat) menuju kampung Komodo dan menginap di rumah warga masyarakat bernama H Kasing, dengan tujuan untuk mengumpulkan foto aksi komodo.
Kemudian, pada Selasa 2 Mei 2017, saat Loh berjalan-jalan mengelilingi Kampung Komodo tersebut, ia melihat ada seekor kambing yang digigit oleh seekor komodo di kompleks Pekuburan Umum dekat Pustu Desa Komodo, namun dia tidak sempat mendokumentasikannya.
Baca juga: Karena Komodo, Eks Striker Klub Liga Inggris Mau Bela Klub Indonesia
Selanjutnya, Loh mendapatkan informasi dari warga setempat bahwa apabila sudah ada kambing yang digigit komodo dan kemudian mati, pasti komodo akan turun dari gunung untuk memangsa kambing yang sudah mati itu.
Setelah itu keesokan harinya yaitu Rabu 3 Mei 2017 Sekitar pukul 08.00 Wita, Loh datang ke tempat bangkai kambing yang telah mati di pegunungan sekitar 200 meter dari arah Pustu Desa Komodo tanpa didampingi ranger atau warga masyarakat untuk melakukan pengambilan gambar.
“Setelah sampai di lokasi kejadian, korban (Loh) melihat seekor komodo sedang memangsa seekor kambing, sehingga korban pun berusaha untuk mengabadikan momen tersebut. Namun korban tidak tahu ada seekor komodo kecil yang berada di sekitar korban yang kemudian langsung menggigit betis kaki bagian kiri hingga mengalami luka robek,” kata Jules.
Kemudian sekitar pukul 08.30 Wita, masyarakat memberitahu Bhanbinkamtibmas Desa Komodo yakni Bripka Anhar bahwa ada orang yang digigit komodo, sehingga anggota polisi itu yang dibantu warga langsung melakukan pertolongan terhadap dan mengevakuasi korban ke Pustu Desa Komodo untuk dilakukan pertolongan pertama dengan melakukan jahit di lukanya dan diberikan anti biotik.
“Setelah itu Bhabinkamtibmas Bripka Anhar dibantu warga, lalu mengantarkan korban ke perahu milik nelayan setempat untuk dibawa menuju Labuan Bajo guna pengobatan selanjutnya. Di tengah perjalanan, korban dijemput oleh Tim Basarnas dan Pos AL agar lebih cepat sampai Labuan Bajo untuk dibawa menuju Rumah Sakit Siloam Labuan Bajo,” ucapnya.


Wisatawan Asal Singapura Digigit Komodo

Kontributor Manggarai, Markus Makur
Kompas.com - 04/05/2017, 05:23 WIB
 http://regional.kompas.com/read/2017/05/04/05231901/wisatawan.asal.singapura.digigit.komodo


Kontributor Manggarai, Markus Makur
Kompas.com - 04/05/2017, 05:23 WIB
Komodo (Varanus komodoensis) hidup liar di Pulau Rinca, Jumat (10/6/2016). Populasi komodo di Pulau Rinca yang merupakan bagian dari Taman Nasional Komodo sekitar 2.800 ekor.(KOMPAS/RADITYA HELABUMI)
 LABUAN BAJO,KOMPAS.com - Seorang wisatatawan asal Singapura digigit Komodo di Kampung Komodo,Desa Komodo, Kecamatan Komodo,Kabupaten Manggarai Barat, Flores, NTT, Rabu (3/5/2017) jam 08.00 Wita.
Kepala Balai Taman Nasional Komodo, Sudiyono saat dikonfirmasi Kompas.com, mengatakan, wisatawan bernama Lon Lie Alle (50) itu diserang  Komodo saat dia melihat binatang itu makan daging babi dan kambing milik warga di kampung.
"Saat binatang itu sedang makan daging tersebut, wisatawan ini mengambil gambar dari jarak yang sangat dekat," sebutnya.
Menurut dia, warga Kampung Komodo sudah melarangnya agar tidak mengambil gambar terlalu dekat, tetapi Alle itu tidak menghiraukan larangan itu.  Sehingga kaki Alle pun digigit binatang tersebut.
Baca juga: Setelah ?Nasi Padang?, Audun Kvitland Rilis ?Komodo Ping-Pong?
Sudiyono menyebutkan, warga langsung menolong korban dan mengusir Komodo. Korban dilarikan ke Puskesmas pembantu (Pustu) Komodo untuk memperoleh pertolongan pertama. Sesudah dirawat di Pustu itu, korban dilarikan ke Rumah Sakit Umum Siloam Labuan Bajo untuk memperoleh perawatan intensif. Saat ini korban dirawat di rumah sakit itu.
Sudiyono menjelaskan, wisatawan asal Singapura itu tiba tiga hari lalu di Labuan Bajo dan dari Labuan Bajo menuju ke Kampung Komodo dan menginap selama dua hari di kampung itu.
"Saya mengimbau wisatawan yang berwisata di Pulau Komodo dan Rinca untuk melihat Komodo harus dipandu oleh petugas demi keselamatan wisatawan itu sendiri," ucapnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar