Kamis, 15 Oktober 2015

KABA BAKOK LATANG ATA JAWA


Inilah Makna Kebo Bule Kyai Slamet Bagi Orang Jawa

Kamis, 15 Oktober 2015 | 21:59 WIB
 http://regional.kompas.com/read/2015/10/15/21590361/Inilah.Makna.Kebo.Bule.Kyai.Slamet.Bagi.Orang.Jawa
KOMPAS.COM/ M Wismabrata Kirab Kebo bule saat malam satu suro di Solo, Kamis (15/10/2015).


SOLO, KOMPAS.com - Kerbau Bule atau dalam bahasa Jawa disebut kebo bule menjadi daya tarik tersendiri bagi ribuan warga yang tumpah ruah menhadiri perayaan malam satu Suro di Keraton Solo, Kamis (15/10/2015) dini hari.

Ribuan warga yang memadati jalan yang menjadi jalur kirab kebo bule, seakan tidak sabar untuk melihat sang kerbau. Kebo bule menjadi ikon istimewa warga Solo khususnya Keraton Surakarta, terutama pada saat perayaan Satu Suro.

Banyak kisah sekitar kebo bule Kyai Slamet tersebut. Salah satu kisah yang dianggap fenomenal adalah sebagian masyarakat Jawa percaya hewan tersebut membawa berkah dan keselamatan dari Sang Kuasa. Saat memperingati datangnya Satu Suro, warga selalu mencoba menyentuh, mengambil air jamasan dan bahkan ada yang percaya kotoran sang kebo juga memiliki khasiat.

Kebo Bule Kyai Slamet menurut Wakil Pengageng Sasana Wilapa Keraton Surakarta, Kanjeng Winarno Kusumo, mempunyai sejarah panjang. "Nama Kyai Slamet tersebut sebetulnya adalah salah satu pusaka berupa tombak milik keraton. Pada jaman Pakubuwono ke-10, sekitar tahun 1893-1939, melakukan tradisi membawa pusaka Kyai Slamet keliling tembok Baluwarti pada hari Selasa dan Jumat Kliwon. Saat itu, kebo bule selalu mengikuti di belakang," kata Kanjeng Winarno.

Winarno menambahkan bahwa tradisi dari Pakubowono X tersebut terus dilanjutkan oleh kerabat keraton dan sang kebo selalu mengikuti pusaka Kyai Slamet tersebut. "Nah lama-lama kerbau tersebut diberi nama Kebo Kyai Slamet," katanya.

Menurut Winarno, keberadaan kebo Kyai Slamet tersebut menjadi koleksi keraton Solo juga mempunyai sejarah. Kebo bule tersebut, menurut Winarno, adalah pemberian dari Bupati  Ponorogo setelah mengetahui Pakubuwono II berhasil merebut kembali Keraton Kartasura dari tangan pemberontak Pecinan. Setelah itu, PB II pun akhirnya memilih hijrah ke desa Sala pada 20 Februari 1745.

"Mendengar PB II sudah bertahta kembali dan mendirikan negara Surakarta Hadiningrat, Bupati Ponorogo mengirim kerbau bule sebagai persembahan untuk dipotong. dan kerbau tersebut juga berkembang biak hingga sekarang," kata Winarno.

Winarno melanutkan pada sosok binatang kerbau mempunyai makna tersendiri. Kerbau adalah lambang rakyat kecil terutama kaum petani. Indonesia adalah negara agraris yang identik dengan kehidupan pertanian, tidak lepas dari binatang kerbau tersebut. Negara akan kuat apabila rakyat kecil juga kuat.

Kemudian, kerbau juga menjadi simbol penolak bencana. Dalam tradisi masyarakat Jawa, kerbau mempunyai kepekaan untuk mengusir roh jahat atai niat buruk. Dan yang terakhir, kerbau sebagai hewan bodoh, dan ada ungkapan dalam bahasa Jawa, bodho plonga plongo koyo kebo (bodoh tengak tengok seperti kerbau).

Menurut Winarno, sebagia manusia harus pintar jangan seperti kerbau. Sehingga, dalam perayaan Satu Suro, kehadiran kerbau Kyai Slamet sangat ditunggu masyarakat Jawa. Tidak hanya warga Solo, tetapi dari daerah lain yang menyempatkan waktu untuk mengikuti kirab kebo bule. Dan bagi warga yang masih percaya, rela untuk mencari air bekas memandikan kebo bule bahkan kotoran kebo saat malam Satu Suro.
Penulis: Kontributor Surakarta, M Wismabrata
Editor : Ervan Hardoko

Sabtu, 10 Oktober 2015

KISAH TERJADINYA DANAU RANA MESE - WATU "SA'I DE EMPO MESE"

WATU "SA'I DE EMPO MESE"
oleh: Gabriel Mahal
 https://www.facebook.com/max.regus.3
 https://www.facebook.com/gabriel.mahal.58?fref=ufi&pnref=story


Kamu pernah ke Danau Rane Mese? Jika pernah, apakah pernah lihat ada satu batu di sisi kiri jalan setapak menjelang turun ke danau? Konon, itu bukan batu biasa. Tetapi, Watu Sa'i de Empo Mese di Danau Rana Mese. Batu itu diangkat para darat (bidadari) dari dasar danau dan diletakkan di tempatnya itu.
Dalam legendanya, Danau Rana Mese itu terjadi ketika seorang pemburu yang setelah berburu pagi siang malam, tidak mendapatkan satu ekorpun binatang (motang/babi hutan) buruannya. Dia putus asa. Naik di atas pohon di tengah lembah gunung itu. Selagi dia duduk di atas pohon, dia lihat ke bawah dan melihat gemerlap cincin emas di atas tanah itu. Buru-buru dia turun hendak mengambil cincin itu. Saat dia turun sampai di tanah, cincin itu hilang. Dia naik lagi pohon itu. Kembali duduk pada dahan pohon. Saat melihat ke bawah, dia melihat cincin itu. Kembali buru-buru turun hendak mengambil cincin itu. Seperti sebelumnya, begitu dia turun sampai di tanah, cincin itu hilang. Dia naik lagi. Melihat cincin itu lagi. Buru-buru turun. Cincin itu hilang. Begitu seterusnya.
Sampai yang ketujuh kali, dia tidak lagi turun. Begitu dia lihat cincin di tanah, dia ambil tombak berburunya, dan melempar tombak itu ke tengah cincin tersebut. Ujung tombaknya menancap ke tanah bersama cincin itu. Hah! Kali ini tidak mungkin lagi cincin itu hilang. Katanya dalam hati. Dia buru-buru turun dari atas pohon. Lalu menarik tombaknya yang tertancap ke dalam tanah. Saat tombaknya tertarik, bukan cincin yang dilihatnya di ujung tombak, tapi dari bekas tancapan tombaknya di tanah itu meluap air. Makin lama makin besar. Dia panik. Naik lagi ke atas pohon. Dan dalam sekejap saja air memenuhi lembah itu. Dan dia tenggelam bersama pohon-pohon di lembah itu. Terjadilah Danau Rana Mese.
Pemburu bernama Empo Mese itu mati di dasar danau. Dan konon kemudian, kepala Empo Mese itu menjadi batu yang diangkat para Darat (bidadari) dari dasar danau dan diletakkan di tempat tepi jalan setapak itu.
Kalau kamu tidak mau bernasib sama seperti Empo Mese, jangan pernah duduk dan main-main dengan Batu Sa'i Empo Mese di Danau Rana Mese itu.

Gabriel Mahal's photo.

Gabriel Mahal's photo.







  • Gabriel Mahal Setahu saya Sano Nggoang ada nunduknya. Begitu juga Mbeong Ledas. Ngo ligots de eee Ase Fani Tembaru
  • Gabriel Mahal
  • Gabriel Mahal
  • Gabriel Mahal Ma'u eee enu Kornelya Agus … masalah di anging ngong berenang pe. Co'o koley teing contoh berenang darat situ …. hahaha
  • Gabriel Mahal
  • Gabriel Mahal Kraeng Edi Danggur , kong kaut buka lebar ruang tafsir pesan moral one nunduk hitu ga. Eme daku'n ga, pesannya itu, kalau dalam hidup itu putus asa, bisa bernasih seperti Empo Mese. Tenggelam. Mati. Juga ada pesan yang juga biasa disampaikan ata tu'a, "neka pande reu tana eme toe manga raja'n ata molor". Jangan melukai rahim ibu bumi hanya karena mengejar halusinasi. Mengejar harapan yang pada akhirnya bawa celaka dalam kehidupan.
    Like · Reply · 2 · 23 hrs
Gabriel Mahal's photo.
Like   Comment  

Selasa, 06 Oktober 2015

Tarian Manggarai - ok

 

Merayakan Kegembiraan Pascapanen Padi di Manggarai Timur

Sabtu, 03 Oktober 2015

 http://foto.kompas.com/photo/detail/2015/10/03/66789165318521443805242/10/Merayakan.Kegembiraan.Pascapanen.Padi.di.Manggarai.Timur

 


    Sabtu, 03 Oktober 2015

    Merayakan Kegembiraan Pascapanen Padi di Manggarai Timur

Sabtu, 03 Oktober 2015

Merayakan Kegembiraan Pascapanen Padi di Manggarai Timur

Sabtu, 03 Oktober 2015

Merayakan Kegembiraan Pascapanen Padi di Manggarai Timur

BORONG,KOMPAS.com — Leluhur orang Manggarai Raya (Manggarai, Manggarai Barat dan Manggarai Timur), Flores, Nusa Tenggara Timur mewariskan sebuah tarian merayakan kegembiraan pascapanen padi, Jagung, umbi-umbian. Tarian itu dinamakan Kerangkuk Alu. Dinamakan demikian karena kayu bulat dan lurus dibenturkan menghasilkan bunyi-bunyian memanggil kaum perempuan untuk menari-nari di atasnya.

Tarian ini biasanya dilaksanakan pada malam hari di saat bulan terang. Tarian ini merayakan kegembiraan atas hasil bumi yang sudah diolah dan dipanen. Biasanya, tarian ini dipentaskan di halaman tengah kampung untuk bersyukur kepada Sang Pemilik hidup atas kebaikannya memberikan hasil di ladang dan sawah.

Kaum perempuan, khususnya ibu-ibu dan kaum laki-laki bersatu merayakan kegembiraan ini. Biasanya laki-laki memegang alu (kayu lurus). Alu yang tegak lurus diambil dari pohon Kesambi. Kaum laki-laki secara berpasangan secara horisontal memegang alu sambil membenturkan dengan dua tangan. Sementara kaum perempuan menari meloncat di sela-sela kayu alu itu.

Tarian Kerangkuk Alu sudah ratusan tahun dimiliki orang Manggarai Raya. Kini, tarian ini mulai jarang dipentaskan karena dipengaruhi musik modern yang merambah ke kampung-kampung. MARKUS MAKURIkuti rubrik foto ini di Twitter @kompasimages & Facebook: Fotografi Kompascom
Editor : Fikri Hidayat

BORONG,KOMPAS.com — Leluhur orang Manggarai Raya (Manggarai, Manggarai Barat dan Manggarai Timur), Flores, Nusa Tenggara Timur mewariskan sebuah tarian merayakan kegembiraan pascapanen padi, Jagung, umbi-umbian. Tarian itu dinamakan Kerangkuk Alu. Dinamakan demikian karena kayu bulat dan lurus dibenturkan menghasilkan bunyi-bunyian memanggil kaum perempuan untuk menari-nari di atasnya.

Tarian ini biasanya dilaksanakan pada malam hari di saat bulan terang. Tarian ini merayakan kegembiraan atas hasil bumi yang sudah diolah dan dipanen. Biasanya, tarian ini dipentaskan di halaman tengah kampung untuk bersyukur kepada Sang Pemilik hidup atas kebaikannya memberikan hasil di ladang dan sawah.

Kaum perempuan, khususnya ibu-ibu dan kaum laki-laki bersatu merayakan kegembiraan ini. Biasanya laki-laki memegang alu (kayu lurus). Alu yang tegak lurus diambil dari pohon Kesambi. Kaum laki-laki secara berpasangan secara horisontal memegang alu sambil membenturkan dengan dua tangan. Sementara kaum perempuan menari meloncat di sela-sela kayu alu itu.

Tarian Kerangkuk Alu sudah ratusan tahun dimiliki orang Manggarai Raya. Kini, tarian ini mulai jarang dipentaskan karena dipengaruhi musik modern yang merambah ke kampung-kampung. MARKUS MAKURIkuti rubrik foto ini di Twitter @kompasimages & Facebook: Fotografi Kompascom
Editor : Fikri Hidayat

Sabtu, 03 Oktober 2015

ACARA KEMATIAN DALAM BUDAYA LAIN: TORAJA

 ACARA KEMATIAN DALAM BUDAYA LAIN: TORAJA, sekedar  perbandiangan  dengan budaya  lain, etrutama Manggarai

Rambu Solo, Pesta Kematian yang Meriah

http://travel.kompas.com/read/2015/10/03/200700427/Rambu.Solo.Pesta.Kematian.yang.Meriah?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Kknwp

Rambu Solo, Pesta Kematian yang Meriah

Sabtu, 3 Oktober 2015
Mahandis Y. Thamrin/NGI Tradisi pemakaman Toraja di tebing karst Kete' Kesu'. Semakin tinggi letak liang di tebing, semakin tinggi pula status sosial keluarga di masyarakat.
TANA Toraja terletak di utara Kota Makassar dengan jarak sekitar 329 km. Merupakan salah satu ikon budaya Provinsi Sulawesi Selatan. Tana Toraja terkenal akan budayanya. Meskipun masyarakan Tana Toraja sudah memeluk agama, namun masyarakatnya masih memegang teguh adat-adat leluhurnya yang diturunkan secara turun menurun.  Salah satunya adalah upacara kematian, yakni Rambu Solo.
Rambu Solo
Masyarakat Toraja menganggap orang yang meninggal adalah orang yang sakit ataupun lemah. Sehingga, orang yang meninggal diperlakukan layaknya orang yang masih hidup, seperti diberi makan dan minuman, diajak berbicara, dan dibaringkan di tempat tidur. Masyarakat Toraja menganggap orang yang benar-benar meninggal adalah orang-orang yang kematiannya diupacarakan.
Upacara kematian yang sering diadakan di Tana Toraja disebut Rambu Solo. Rambu Solo diadakan  untuk menghormati yang meninggal dan mengantarkan arwahnya menuju alam roh. Masyarakat Tana Toraja percaya bahwa roh orang yang meninggal akan menuju ke Puya, tempat keabadian para leluhur di sebuah tempat peristirahatan. Masyarakat percaya Puya, yang terletak di bagian selatan tempat manusia tinggal adalah tempat peristirahatan dan keabadian para leluhur.
Arwah dan Rambu Solo
Masyarakat Tana Toraja percaya, bahwa arwah orang yang meninggal akan menjadi setengah dewa. Oleh sebab itu, prosesi Rambu Solo dianggap sangat penting oleh masyarakat Tana Toraja, karena prosesi Rambu Solo yang sempurna akan menentukan posisi arwah orang yang meninggal, apakah sebagai bombo (arwah gentayangan), to-membali puang (arwah yang mencapai tingkat dewa), atau deata (arwah yang menjadi dewa pelindung).
Prosesi Rambu Solo juga diadakan sebagai bentuk pengabdian dan penghormatan kepada orang yang telah meninggal.
Status Sosial
Status sosial keluarga yang meninggal dapat terlihat di prosesi Rambu Solo. Status sosial dapat dilihat dari jumlah hewan yang dikorbankan. Keluarga bangsawan biasanya menyembelih kerbau sebanyak 24 sampai 100 ekor. Keluarga yang golongan menengah hanya dapat menyembelih 8 ekor kerbau dan 50 ekor babi. Semakin banyak jumlah kerbau yang disembelih, status sosialnya semakin tinggi.
Rambu Solo dulu hanya dapat dilaksanakan oleh pihak keluarga bangsawan. Namun, seiring berkembangnya zaman, keturunan dan kedudukan bukanlah sebagai patokan strata sosial di masyarakat Tana Toraja. Yang kini menjadi patokan strata sosial seseorang adalah pendidikan dan kemampuan ekonomi. Oleh sebab itu, kini masyarakat Tana Toraja sudah banyak yang dapat menggelar prosesi Rambu Solo.
Puncak Acara
Rante merupakan puncak prosesi Rambu Solo. Rante  dilaksanakan di lapangan khusus yang telah disiapkan. Rante selalu menarik perhatian wisatawan yang datang, karena dalam Rante terdapat rangkaian ritual. Ritual-ritual yang terdapat di upacara Rante adalah proses pembunguksan jenazah (mabalun, ma’tudan), pembubuhan ornamen-ornamen yang terbuat dari emas dan perak pada peti jenazah (ma’roto), pemindahan dan penurunan peti jenazah dari tongkonan ke La’ Kian (ma’popengkalo alang), dan proses membawa peti jenazah ke tempat peristirahatan terakhir (ma’palao).
Ada pula beberapa atraksi budaya yang selalu ada di Rante, yakni adu kerbau (mappasilaga tedong atau tedong silaga), kerbau-kerbau yang akan disembelih harus diadu terlebih dahulu. Kerbau yang akan disembelih atau biasa disebut ma’ tinggoro tedong adalah kerbau-kerbau yang harus terpilih, bukan kerbau biasa. Biasanya masyarakat Tana Toraja memilih tedong bonga (kerbau bule). Harga tedong bonga tidaklah murah. Satu ekor tedong bonga harganya mencapai 10-50 juta perekor.
Lalu, ada prosesi adu kaki atau biasa disebut dengan sisemba. Ada pula prosesi ma’badong.Ma’ badong merupakan nyanyian dalam bahasa Toraja yang berisi syair-syair pujian, nasihat, dan riwayat hidup. Orang-orang yang melaksanakan ma’ adong disebut pa’ Badong.Pa’ badong  akan berkumpul membentuk lingkaran, saling mengaitkan kelingking, lalu memulai prosesi ma’badong. Ma’badong dilaksanakan pada siang hari (saat pemindahan peti jenazah dan saat tamu datang), maupun pada malam hari. Pada siang hari, yang dapat melaksanakan ma’badong hanyalah group pa’ badong yang sudah terpilih. Sedangkan untuk malam hari, siapa saja boleh melaksanakan ma’ badong.
Salah satu ritual terakhir yang membuat takjub adalah saat iring-iringan pelayat yang mengantarkan jenazah menuju tempat peristirahatan terakhir. Para pelayat bersama-sama memegang kain raksasa berwarna merah di atasnya. Sehingga, kain merah raksasa tersebut terlihat seperti selendang raksasa.
Pesta Besar-Besaran
Rambu Solo memang terlihat seperti pesta yang meriah dan megah. Namun, tujuan dari Rambu Solo bukanlah untuk menghambur-hamburkan uang, melainkan untuk pengabdian dan penghormatan kepada orang yang meninggal dan para leluhur. Kemegahan dan kesempurnaan Rambu Solo merupakan sebuah patokan akan nasib arwah yang meninggal nanti. Apakah arwah tersebut bisa mecapai tingkat yang setara dengan dewa.
(Anggie Cyndia)
Editor : Ni Luh Made Pertiwi F
Sumber: National Geographic Traveler

Kamis, 01 Oktober 2015

KULINER MANGGARAI - dalam berita


KULINER  MANGGAARAI


KUE:

  1. Lemet  (https://www.youtube.com/watch?v=u59whUGZSQ4&t=1051s)
  2. Sobol (cobol)
  3. Rebok
Makanan:

  1. Kolo (Tapa Kolo)


Nikmatnya "Kolo" dari Kampung Sambikoe Flores...

Jumat, 2 Oktober 2015
 http://travel.kompas.com/read/2015/10/02/103600627/Nikmatnya.Kolo.dari.Kampung.Sambikoe.Flores.?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Kknwp
KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR kolo-1= Ritual adat meminta persetujuan alam sebelum beras dimasukkan ke dalam bambu dalam acara 'Tapa Kolo' yakni memasak nasi dengan bambu dengan cara dibakar yang dilakukan warga Kampung Sambikoe, Kelurahan Watu Nggene, Kecamatan Kota Komba, Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur.
SETIAP daerah di bumi Nusantara memiliki makanan khas masing-masing. Bahkan, cara memasaknya pun berbeda. Itulah keunikan yang dimiliki bangsa Indonesia. Berbeda-beda dalam berbagai jenis makanan khas Indonesia, tetapi tetap bersatu. Orang Papua dalam tradisinya selalu melaksanakan ritual bakar batu ketika melaksanakan sebuah upacara khas
daerah itu.

Lain lagi di Nusa Tanah Terjanji Flores, Nusa Tenggara Timur beraneka makanan khas yang diwariskan leluhurnya. Gencarnya promosi pariwisata di wilayah Pulau Flores memberikan dampak positif bagi masyarakat di kampung-kampung.

Sekarang Nusa Tenggara Timur disebut 'Nusa Tanah Terjanji'. Pengakuan itu disampaikan oleh wisatawan asing dan domestik yang menikmati keindahan alam Pulau Flores, baik yang dilihat dari udara maupun saat berpetualangan melihat langsung binatang Komodo serta kawah bekas letusan gunung berapi yang setiap tahun berganti warna. Kawah itu disebut Kawah Kelimutu.

KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR Beras dimasukkan ke dalam bambu dalam acara 'Tapa Kolo' yakni memasak nasi dengan bambu dengan cara dibakar oleh tetua adat Kampung Sambikoe, Kelurahan Watu Nggene, Kecamatan Kota Komba, Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur.
Geliat pariwisata Flores setelah Sail Komodo September 2013 lalu di Manggarai Barat sangat terasa dengan membangkitkan kembali berbagai makanan khas orang Flores yang sudah mereka tinggalkan akibat masuknya pengaruh beras.

Wisatawan yang berkunjung ke pulau Flores bukan hanya menikmati keindahan alamnya, melainkan juga ingin menikmati makanan unik yang dimiliki masyarakat di sembilan Kabupaten yang diapit oleh laut Flores dan Laut Sawu itu.

Salah satu daya tarik wisatawan asing dan Nusantara saat berkunjung ke Pulau Flores adalah menikmati aneka makanan khas orang Flores pada umumnya dan Manggarai Raya pada khususnya.

KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR Memasak 'Tapa Kolo' yakni memasak nasi dengan bambu dengan cara dibakar oleh warga Kampung Sambikoe, Kelurahan Watu Nggene, Kecamatan Kota Komba, Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur.
Salah satu makanan khas orang Flores ada di Kabupaten Manggarai Timur. Orang Manggarai Timur menyebutnya ‘Tapa Kolo’. Tapa diartikan bakar serta kolo artinya masak sesuatu dengan bambu. Jadi ‘Tapa Kolo’ diterjemahkan memasak nasi dengan bambu dengan cara dibakar.

Tapa Kolo merupakan cara memasak nasi orang Manggarai Timur di kampung-kampung. Diceritakan warga masyarakat Kampung Sambikoe bahwa orang Manggarai Timur di zaman dulu belum mengenal masak umbi-umbian serta nasi dengan menggunakan kompor melainkan memasak umbi-umbian dan nasi dengan cara membakar.

Mengapa demikian? Orang Manggarai Raya pada umumnya memasak sesuatu dengan cara membakar. Bahkan umbi-umbian juga dibakar, seperti ubi kayu, ubi tatas, ubi keladi, serta Uwi. Ini merupakan kearifan lokal yang diwariskan leluhur orang Manggarai Raya pada umumnya dan juga orang Manggarai Timur pada khususnya.

KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR Memasak 'Tapa Kolo' yakni memasak nasi dengan bambu dengan cara dibakar oleh warga Kampung Sambikoe, Kelurahan Watu Nggene, Kecamatan Kota Komba, Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur.
Pada zaman dulu bahan-bahan untuk memasak sesuatu diambil dari alam. Salah satunya adalah bambu yang tumbuh di hutan-hutan. Jadi orang Flores itu sangat dekat dengan alam dilihat dari kearifan lokalnya. Sebagian kebiasaan yang diwariskan itu sudah punah dengan pengaruh modern dengan memasak menggunakan alat-alat modern.

Alat-alat modern itu seperti periuk, Kuali dan lain-lainnya hasil dari olahan pabrik. Salah satu yang masih dipertahankan hingga di era digital ini adalah cara memasak dengan ‘Tapa Kolo’.

Ritual dan ‘Tapa Kolo’

Cara memasak ini dipertahankan karena apabila ada ritual adat di kampung-kampung di wilayah Manggarai Timur selalu ada ‘Tapa Kolo’. Bahkan sebelum dimasak dilaksanakan ritual adat oleh tetua adat. Biji beras yang akan dimasukkan di dalam bambu terlebih dahulu diritualkan untuk memberikan makanan kepada alam dan leluhur.

KompasTravel pada Senin (14/9/2015) lalu diundang warga masyarakat Kampung Sambikoe, Kelurahan Watu Nggene, Kecamatan Kota Komba, Manggarai Timur untuk menyaksikan ritual Sundung Wae sekaligus mengolah masakan dengan menggunakan bambu.

KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR Nasi yang sudah dimasak dengan dibakar dalam bambu yang dinamakan 'Tapa Kolo' oleh warga Kampung Sambikoe, Kelurahan Watu Nggene, Kecamatan Kota Komba, Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur.
Saat diamati sebelum mulai masak, Angelus Enggong, tetua adat kampung Sambikoe melaksanakan ritual memberikan makanan kepada alam dan leluhur dengan menyiram biji beras di tanah.

‘Tapa Kolo’ kali ini dilakukan untuk mensyukuri air minum yang sudah masuk di bak penampung. Bukan hanya saat syukuran menerima air minum bersih masuk di bak penampung. Tradisi ‘Tapa Kolo’ juga dilaksanakan saat membuka ladang baru yang akan ditanami padi. Sebelum benih padi ditanam, terlebih dahulu tetua adat meminta restu alam dan leluhur dengan ritual adat.

Ketua Organisasi Proyek Air Kampung Sambikoe, Rafael Rae kepada KompasTravel belum lama ini mengatakan, “Tapa Kolo’ merupakan cara orang dari Kampung Sambikoe untuk memasak nasi. ‘Tapa Kolo’ dilaksanakan saat upacara-upacara adat, baik di tengah kampung maupun di kebun-kebun. ‘Tapa Kolo’ tidak bisa dilaksanakan dalam masakan harian di rumah keluarga-keluarga.

“Sebelum biji beras dimasukkan dalam bambu, terlebih dahulu dilangsungkan ritual adat oleh tetua adat di kampung-kampung,” katanya.

KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR Bambu dibelah untuk mendapatkan nasi yang telah dibakar dalam acara 'Tapa Kolo' oleh warga Kampung Sambikoe, Kelurahan Watu Nggene, Kecamatan Kota Komba, Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur.
Rafael menjelaskan, ‘Tapa Kolo’ dilakukan oleh kaum laki-laki karena membakar bambu dengan menggunakan api yang besar serta kerja sangat berat.

Menurut Rafael, biasanya makan ‘Tapa Kolo’ dicampur dengan kuah ayam. Kalau bukan kuah ayam, kuah daging babi yang sudah diolah kaum perempuan. Mengapa dicampur dengan kuah? Karena nasi yang dimasak dengan cara dibakar hasilnya agak keras.

“Yang beda dengan masakan menggunakan periuk adalah rasanya. Rasa saat kita makan nasi ‘Kolo’ lebih enak dibanding dengan nasi yang dimasak menggunakan periuk. Itulah keunikan dan kenikmatannya,” tambah Rafael.
Penulis : Kontributor Manggarai, Markus Makur
Editor : I Made Asdhiana

Jumat, 11 September 2015

Manusia Baru "Homo naledi", Sepupu, Tante, atau Moyang Kita?

Manusia Baru "Homo naledi", Sepupu, Tante, atau Moyang Kita?

Jumat, 11 September 2015 | 21:43 WIB
 http://sains.kompas.com/read/2015/09/11/21431971/Manusia.Baru.Homo.naledi.Sepupu.Tante.atau.Moyang.Kita.
National Geographic Homo naledi

Terkait



KOMPAS.com — Jenis baru manusia selalu menjadi sesuatu yang mengejutkan. Klaim penemuan jenis Homo naledi di goa Rising Star di Afrika Selatan, seperti penemuan jenis Homo floresiensis di Flores, mengundang decak kagum sekaligus pertanyaan.

Salah satu pertanyaannya, bagaimana hubungan jenis itu dengan kita, Homo sapiens? Apakah dia moyang, tante, atau malah hanya sepupu kita?

Hingga saat ini, jenis manusia paling tua yang ditemukan adalah Ardipithecus ramidus. Jenis manusia tersebut punya karakteristik yang merupakan perpaduan antara manusia dan kera.

"Ardi", demikian jenis manusia itu biasa disapa, ditemukan pada tahun 1994 di Etiopia. Dia diperkirakan hidup sekitar 4 juta tahun lalu. Jadi, kalau ada posisi tetua dalam golongan manusia, dialah yang paling pantas menyandangnya.

"Ardi" belum punya kemampuan bipedal atau berjalan tegak. Jenis manusia paling awal yang punya kemampuan itu adalah Lucy atau Australopithecus afraensis.

ROBERT CLARK / NATIONAL GEOGRAPHIC, Lee Berger Kerangka Homo Naledi dikelilingi ratusan elemen fosil, difoto di Institut Studi Evolusi Universitas Witwatersrand di Johannesburg, Afrika Selatan. Para ilmuwan pada 10 September 2015, mengatakan fosil merupakan anggota baru dari keluarga manusia.
Jenis Au afraensis diperkirakan hidup 3,95-2,95 juta tahun yang lalu. Jenis itu mungkin pantas disebut sebagai tante kita. "Ayah" dan "ibu" H sapiens hidup sezaman dengannya, tetapi sulit untuk mengetahuinya.

Selain Au afraensis yang punya tinggi sekitar 150 sentimeter, manusia modern juga punya tante-tante lain. Salah satunya adalah Australopithecus africanus. Jenis itu hidup sekitar 2,1 juta tahun yang lalu.

Nah, kurang lebih sezaman dengan Lucy, hidup juga manusia-manusia dari genus Homo, yaitu Homo habilis, Homo erectus, dan Homo heidelbergensis. Mereka mungkin bisa disebut paman kita.

H habilis adalah manusia pertama yang membuat alat, sementara H erectus sudah mampu menciptakan kapak genggam dan merawat yang sakit.

Dua spesies itu sangat hebat. Merekalah spesies manusia pertama yang berhasil keluar dari Afrika, menuju Eropa hingga Asia. H erectus juga ditemukan di Jawa.

Sementara itu, H heidelbergensis diperkirakan hidup 700.000-200.000 tahun lalu. Ilmuwan bahkan menduga bahwa mereka adalah "orangtua" H sapiens.

Alamy Neanderthal
Yang kemudian layak disebut sebagai sepupu adalah Homo neanderthalensis. Ilmuwan menduga mereka hidup sezaman dengan H sapiens. Bahkan, kita mungkin mengawininya!

Lee Berger dari University of Witwatersrand dan tim yang menemukan H naledi menyatakan, jenis itu mungkin sudah punya perilaku mengubur rekan yang mati.

Sampai sebelum Berger mengungkapkan opininya, H neanderthalensis adalah satu-satunya manusia selain manusia modern yang punya perilaku itu.

Meski hidup sezaman, sepupu manusia modern itu lantas punah. Sebabnya misterius. Namun, kepunahannya mungkin karena kalah bersaing dengan kita manusia modern.

Manusia modern punya moyang, tante, paman, dan sepupu yang sudah dikenal. Kini, ada H naledi. Ke mana jenis itu harus digolongkan?

Berger mengungkapkan, prediksi usia maksimum H naledi adalah 3 juta tahun. Jika setua itu, jenis itu bisa dikatakan moyang kita.

Untuk memastikannya, sulit. Penanggalan karbon sulit dilakukan pada tulang karena akan merusak. Sementara itu, tak ada material lain seperti batu yang bisa membantu.

Arkeolog EW Saptomo yang terlibat pada penemuan H floresiensis atau "The Hobbit" mengatakan kepada Kompas.com, Jumat (11/9/2015), kuncinya adalah DNA. Permasalahannya, analisis DNA juga punya tantangan.

Jadi, teka-teki hubungan saudara antara H sapiens dengan H naledi belum bisa dijawab. Penelitian masih perlu dilakukan, termasuk untuk menjawab hal yang lebih mendasar, apakah H naledi memang spesies baru.
Editor : Yunanto Wiji Utomo

Rabu, 09 September 2015

Tarian Wai Doka dari Flores Ini Sudah Dikenal di Belgia

Tarian Wai Doka dari Flores Ini Sudah Dikenal di Belgia

Kamis, 10 September 2015
 https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=2079567678751654825#editor/target=post;postID=2368711178579443882
KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR Para siswa dan siswi SMAN Negeri II Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, membawakan tarian Wai Doka, Sabtu (5/9/2015). 
 SALAH satu dari ke 36 Kedaluan atau Hamente di wilayah Manggarai Raya adalah Kedaluan atau Hamente Kepo. Kedaluan Kepo berada di Kampung Mok. Konon, Mok adalah singkatan Markas Orang Kepo, Desa Mbengan, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Desa Mbengan yang bertetangga dengan Desa Ranakolong dan wilayah Ketang serta Kelurahan Ronggakoe. Kedaluan itu hidup masyarakat yang memiliki adat istiadat, ritual dan seni tari. Bahkan di Kampung itu ada rumah adat yang disebut “Mbaru Embo”.

Bahkan bisa disebut Kampung Mok di Desa Mbengan sebagai Kampung Budaya di Kabupaten Manggarai Timur. Mengapa disebut Kampung Budaya? Karena di kampung itu masih mempertahankan adat istiadat, seni tari dan ritual-ritual dari nenek moyang Suku Kepo.

KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR Tarian Wai Doka dibawakan oleh siswa dan siswi SMAN Negeri II Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (5/9/2015).
Ada satu seni tari yang merupakan warisan leluhur Suku Kepo itu adalah Tarian Wai Doka. "Wai" artinya "kaki" dan "Doka" artinya "jalan dengan bambu". Jadi Wai Doka diterjemahkan, seseorang berjalan dengan menggunakan bambu.
 Wai Doka hanya dimiliki masyarakat adat Suku Kepo di kampung Mok. Sementara di kampung lain tidak mengenal Wai Doka. Wai Doka ini tarian unik yang sudah diwariskan secara turun temurun dari leluhur orang Suku Kepo.

Pada sabtu (5/9/2015) lalu, KompasTravel diundang pihak Sekolah Menengah Atas Negeri 2 Kota Komba (SMAN 2) untuk merayakan ultah ke-5. Kepercayaan yang diundang harus diterima dan dihadiri.
Ternyata, KompasTravel menyaksikan sendiri siswa dan siswi SMAN Negeri 2 Kota Komba membawakan tarian Wai Doka saat menjemput pejabat dari Pemkab Manggarai Timur dan pimpinan DPRD Manggarai Timur untuk menghadiri perayaan itu sekaligus ada dialog dengan orangtua murid dengan pejabat dari Manggarai Timur.

Pejabat yang hadir adalah Wakil Bupati Manggarai Timur Agas Andreas, Wakil Ketua II DPRD Kabupaten Manggarai Timur Wilfridus Jiman, dan Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga, Kabupaten Manggarai Timur Frederika Sok.

Saat Wakil Bupati Manggarai Timur itu tiba, siswa dan siswi menjemputnya dengan tarian Wai Doka serta penari-penari perempuan yang diiring musik gong dan gendang.

Kepala SMAN 2 Kota Komba, Bernabas Ngapan kepada KompasTravel dalam perbincangan lepas belum lama ini menjelaskan, tarian Wai Doka merupakan warisan budaya dari masyarakat Suku Kepo. Untuk itu, siswa dan siswi SMAN Negeri II Kota Komba terus melanjutkan dan melestarikan serta mempertahankan tarian ini.

Bernabas menjelaskan, beberapa tahun lalu, Tarian Wai Doka mampu ‘menghipnotis’ warga Kota Maumere yang memadati jalan-jalan di Kota Maumere dalam sebuah pergelaran seni. Pemkab Manggarai Timur mengutus siswa dan siswi dari SMAN Negeri Kota Komba untuk membawakan tarian Wai Doka serta tarian pendukung lainnya.
Bahkan, festival budaya di tingkat Kabupaten Manggarai Timur, SMA Negeri 2 terus dilibatkan dengan membawakan tarian Wai Doka.

“SMAN 2 Kota Komba akan terus melestarikan budaya lokal seperti Tarian Wai Doka, tarian Mbata dan beberapa tarian lainnya yang berada di wilayah Kecamatan Kota Komba. Selama ini, apabila ada kunjungan pejabat dari Kabupaten Manggarai Timur ataupun dari luar selalu dijemput dengan Tarian Wai Doka,” jelasnya.

Tokoh masyarakat Desa Ranakolong, Stanislaus, mengatakan, tarian Wai Doka hanya ada di Kampung Mok. Tarian ini tidak ada di kampung lainnya. Tarian ini biasanya diperuntukkan untuk menjemput tamu-tamu besar sejak zaman kerajaan Manggarai Raya.

KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR Tarian Wai Doka di Kampung Mok, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, Flores, Nusa Tenggara Timur.
Seperti ada kunjungan dari pihak kerajaan, warga di Kampung Mok menjemput dengan tarian Wai Doka. Hingga saat ini, kunjungan dari pejabat pemerintah dengan level tinggi seperti bupati dan wakilnya serta pejabat negara lainnya dari provinsi dan pusat yang mengadakan kunjungan ke Desa Mbengan, pasti warga masyarakat Kampung Mok menjemput dengan Tarian Wai Doka.
“Saya ingat ketika kami sambut baru di Paroki Santo Agustinus Mok, tarian Wai Doka dibawakan untuk menjemput tamu-tamu,” kisahnya.

Sudah Dikenal di Belgia

Beberapa tahun lalu, rombongan wisatawan dari Belgia sedang mengunjungi Pulau Flores. Saat itu wisatawan menginap di Mbolata Cottage, milik Fransisko Huik De Rosari. Saat itu pemilik Mbolata Cottage menawarkan kunjungan ke Kampung Mok untuk melihat keunikan tarian-tarian dan ritual di Kampung Mok.

Setiba di Kampung Mok, rombongan wisatawan Belgia itu disambut dengan acara adat dan dilanjutkan penjemputan dengan tarian Wai Doka. Saat itu wisatawan yang berkunjung di kampung itu mengambil gambar lewat kamera tarian Wai Doka dan Tarian Umbi Ro.

Selain Tarian Wai Doka, ada juga tarian Umbi Ro atau tarik tambang adat dengan ritual adat dengan berpakaian adat.

Tak hanya tarian-tarian, ada juga sebuah rumah adat di Kampung Mok. Rumah adat itu dinamakan Mbaru Embo. Mbaru Embo itu sangat unik di mana tak sembarang orang bisa mengunjungi rumah adat tersebut.

Rumah adat itu hanya bisa masuk di dalamnya pada ritual-ritual tertentu dan pada bulan tertentu. Tak semua orang bisa masuk, hanya keturunan dari nenek moyang dari Mbaru Embo yang bisa masuk.