Senin, 24 Juni 2013

Komodo, Kembaran Manusia;Kompas.com, Sabtu 9Juni 2012

  • Penulis :
  • Ni Luh Made Pertiwi F
  • Sabtu, 9 Juni 2012 | 07:52 WIB
Satwa endemik Komodo (Varanus komodoensis) di Pulau Rinca, Taman Nasional Komodo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Senin (29/11/2010). | KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO
KOMPAS.com — Pulau Komodo di Nusa Tenggara Timur sudah tak terbantahkan lagi keindahan panorama bukit, pantai, hingga bawah lautnya. Pun dengan hewan komodo itu sendiri.
Komodo, si binatang purba yang masih hidup di masa kini itu, tak sekadar rupa tambun dan menyeramkan. Di balik sosoknya yang bengis itu, tersimpan kisah eratnya persaudaraan.
Tak banyak yang tahu, di Pulau Komodo terdapat Desa Komodo yang dihuni oleh sekitar hampir 2.000 orang. Mereka adalah Suku Komodo yang sudah mendiami pulau tersebut sejak masa silam.
Orang-orang dari Suku Komodo memiliki hubungan erat dengan satwa komodo. Mereka memandang hewan ini sebagai saudara. Bahkan konon, orang-orang Suku Komodo bisa berkomunikasi dengan komodo.
Oleh karena itu, jarang terdengar ada kisah penduduk di Desa Komodo yang diserang oleh binatang komodo. Mereka seakan dapat hidup berdampingan dengan harmonis dengan komodo yang buas.
Kisah eratnya hubungan antara manusia Suku Komodo dengan satwa komodo tergambar dari sebuah legenda Putri Naga. Seorang putri dari dunia gaib bernama Putri Naga menikah dengan manusia bernama Empu Najo.
Dari pernikahan ini lahir bayi kembar berjenis kelamin berbeda. Satu bayi laki-laki adalah manusia yang diberi nama Gerong. Sementara bayi perempuan adalah seekor kadal raksasa. Kadal raksasa itu diberi nama Orah.
Gerong kemudian dibesarkan di lingkungan manusia, sementara Orah besar di hutan. Saat dewasa, Gerong pergi berburu dan tanpa sengaja bertemu seekor komodo. Komodo itu adalah Orah.
Tanpa mengetahui bahwa Orah adalah saudaranya, Gerong hampir saja membunuh. Putri Naga, ibu mereka, berhasil menghentikan Gerong. Putri Naga muncul secara gaib dan memberitahu Gerong bahwa Orah adalah saudara perempuannya dan mereka sebenarnya adalah kembar.
Menuju Desa Komodo
Wisatawan yang berkunjung ke Taman Nasional Komodo (TNK) biasanya hanya tracking di Pulau Komodo dan Pulau Rinca, kemudian berenang di Pantai Merah. Sedikit wisatawan yang mencoba berinteraksi langsung dengan penduduk di Desa Komodo.
Desa ini masuk dalam kawasan TNK yang terletak di Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Jika Anda berlabuh di Loh Liang, dermaga untuk masuk ke Pulau Komodo, Anda akan didatangi oleh anak-anak kecil yang berjualan suvenir.
Mereka biasanya berasal dari Desa Komodo. Kelar tracking di Pulau Komodo, wisatawan akan kembali ke dermaga melewati gubukan suvenir. Ya, para penjual suvenir ini pun berasal dari Desa Komodo.
Penduduk Desa Komodo rata-rata nelayan. Namun, sejak Pulau Komodo mulai ramai dikunjungi wisatawan, banyak dari masyarakat asli Pulau Komodo ini yang menjadi perajin suvenir. Mereka terampil membuat patung komodo dari kayu ataupun suvenir lainnya.
Untuk menuju Desa Komodo dan berkenalan langsung dengan penduduk desa yang ramah pada wisatawan ini, Anda harus terlebih dahulu mampir di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat. Labuan Bajo menjadi pintu masuk menuju kawasan TNK.
Akses ke Labuan Bajo kini sudah semakin mudah. Anda bisa naik pesawat terbang dari Denpasar, Bali. Beberapa maskapai yang menyediakan rute ini adalah Lion Air, Batavia Air, Merpati, dan Trans Nusa. Dari Indonesia bagian timur, bisa melalui rute Kupang-Labuan Bajo.
Pilihan lain adalah melalui jalur laut. Anda bisa naik feri dari Pelabuhan Sape, Bima, Nusa Tenggara Barat. Setelah sampai di Labuan Bajo, Anda tinggal menyeberang dari Pelabuhan Labuan Bajo menuju Loh Liang.
Untuk menuju Loh Liang, Anda bisa mencarter kapal dari biro perjalanan wisata maupun naik kapal milik penduduk. Cara lain yang lebih hemat adalah menumpang kapal nelayan atau kapal penumpang yang biasa digunakan penduduk Desa Komodo untuk rute Labuan Bajo-Desa Komodo. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar