Jumat, 11 Oktober 2013

TOMBO ATA DURIT



NGOENG
Ini ungkapan orang Manggarai. Jika dikaji, kata ini bisa terdiri dari dua suku kata ngo dan eng. Ngo artinya pergi dan eng artinya mau. Maka, ngoeng artinya pergi mau. Pergi mau ini sama dengan ingin. Misalnya, bo ngoeng landing - mau sekali tetapi - am benang keta le eman - mungkin ayahnya melarang. Bo ngoeng laku ikeng hio am ceheng keta le enden, am rega keta le eman - saya mengingini sekali nocan itu namun mungkin dilarang ibunya dan diomongin besar ayahnya.
Bo ngoengegh laku ikeng hio, am kenta le eman, am retes keta le enden, am mawang keta le naran, am curup keta le hae ukun, am toe keta le nai koen...nai koen du pucin.
Ngoeng juga ketika dipisahkan ng - oeng. Oeng itu artinya menyapa. Berarti di sini ada kehendak, keinginan, suatu kemauan, ingin. Menyapa berarti sudah mengingini, menyukai untuk kekerabatan, pertemanan dan bisa juga cinta. Kamis (15/9/2016)
Colek# Keraeng Otwin Otwin Wisang, Keraeng Alfan Manah, Keraeng Yos Syukur, Keraeng Hironimus Dale, Keraeng Cyprian Guntur, Keraeng Abin Apul, Keraeng Bung Roman, dan Keraeng Kristian Nanggolan, Keraeng Patrist Syariyantho, Keraeng Felix Janggu.


Sumber: https://www.facebook.com/melky.pantur.5?fref=nf&pnref=story.unseen-section., link dengan 
https://www.facebook.com/alfan.manah?pnref=lhc.unseen


Mbau (plasenta)  tersebut kemudian bakal dijadikan sebagai wae cemok - plasenta leluhur - yang sesuai wasiat Sang Kakek keturunannya akan mencari asal mereka dengan menggelar ritus takung wae cemok - memberi makan saudara leluhur. Putera mungil itu kemudian bertotem ikan mas dan belut - ketika putera itu tiada, maka dia disebut wura sedangkan ceki/totemnya ikan mas dan belut - saat dia memiliki keturunan kelak - keturunannya akan menggelar ritus takung wae cemok dan teing hang wura agu ceki - memberi makan roh leluhur. Ceki adalah perwujudan dari Yang Mahakuasa!". (https://plus.google.com/117748896674938088790/posts/Jz6VydfPuCt)
 
 Pengajaran-Pengajaran.

Tentang Cear Cumpe.

Keesokan harinya, bayi mungil ganteng itupun dimandikan Nisa di mata air dekat gubuk mereka dan dijemur di atas susunan batu di mana plasenta bayi itu dikuburkan. Mereka menyusun tempat dikuburkannya plasenta itu mirip mezbah bundar tersusun dari batu. Haryo dan Ayahnya menamai mezbah bundar itu compang. Saat Nisa tengah menjemurkan puteranya di situ, tiba-tiba datang tiga orang dari langit. Pakaian mereka seperti petir. Salah satu dari mereka berpesan: "Di atas mezbah ini kami akan turun menerima seluruh persembahan kamu. Buatlah persembahan di atas tempat itu dan panjatkanlah puji-pujian bagi Pencipta".

Dalam hati Haryo berguman: "Pencipta tidak butuh persembahan dan puji-pujian. Mana mungkin?". Maka, berkatalah salah satu dari mereka, dan berkata: "Aku tahu apa yang kau pikirkan anak-Ku Haryo sebab kami tidak membutuhkan persembahan melainkan belaskasihan. Hendaklah kamu saling mengasihi sama seperti Aku telah mengasihi kamu!".

Mendengar itu tersungkurlah mereka semua. Lalu, diperlihatkan kepada mereka suatu tanda. Tiba-tiba datanglah seekor kerbau jantan dan seekor babi di compang tersebut lalu muncullah sebuah pedang yang terbuat dari emas 24 karat menghunus ke arah kedua hewan tersebut. Datang pula seekor kuda cokelat dan seekor babi kecil lalu pedang emas tersebut menghunus. Berkatalah salah satu dari mereka bertiga: "Lakukanlah itu dan hendaklah kamu saling mengasihi. Yang Ku-maksudkan bukan kurban itu melainkan berkumpulah kalian dan berbelaskasihlah!".

Tentang Mata Air.

Hari berikutnya, Nisa hendak memandikan puteranya di mata air. Haryo pun ada di situ. Saat tengah mandi, datang pulalah mereka bertiga dan berkata: "Mata air ini disucikan bagi kamu. Hendaklah kamu merawat mata air ini sebagai sumber penghidupan! Mulai hari ini, kamu dan seluruh keturunanmu melakukan syukuran agar kalian terbebas dari dahaga!".

Tentang Compang, Natas dan Lingko.

Keesokan harinya, saat Lalongn Tana dijemur datang pula tiga orang tadi dan berkata: "Hendaklah di depan gubuk ini kamu jadikan alun-alun untuk bermain. Di alun-alun inilah kamu menari memuji Sang Pencipta! Hendaklah kamu menamainya natas". Mereka pun berkata: "Ketika putera ini menjadi remaja, buatlah sebuah ladang seperti cakra. Bentuklah seperti sarang laba-laba. Kamu harus menamainya lingko! Di tengahnya hendaklah kamu tancapkan teno. Angkatlah seorang tetua Teno sebagai hakim atas lingko. Sebelum kamu membukanya hendaklah kamu menggelar kurban menggunakan kerbau dan babi! Hendaklah kamu menamainya lingko randang ela, lingko randang kaba!".

Tentang Mbaru Gendang.

Mereka juga berkata: "Si Kakek telah menyediakan gubuk bagi kamu. Lihatlah! Bentuknya bulat kerucut. Di dalamnya ada siri bongkok dan lima tingkatan di dalamnya. Tingkatan itu mulai dari dasar leba mese sebagai tempat menyimpan bahan-bahan penghasilan bumi; lempa rae sebagai tempat menyimpan hasil panen agar tidak bisa diambil anak kecil; sekang kode sebagai tempat penyimpanan barang pusaka; sepot neka lelo sebagai tempat penyimpanan yang tidak bisa dilihat oleh orang lain; dan ruang koe sebagai tempat balok-balok penghubung yang kesemuanya diarahkan ke situ sebelum mencapai bubungan. Buatlah tempat penyimpanan hasil bumi dan seluruh barang berharga lainnya, seperti joreng dan lancing! Persembahkanlah kurban persembahan kepada Yang Mahakudus di gubuk tersebut dengan menyimpan hasil persembahan di langkar di mana sesajian ditempatkan di situ. Hendaklah kamu menamai gubuk itu kelak Mbaru Gendang!".

Tentang Congko Lokap.

Mereka berkata lagi: "Ketika kamu beranak cucu, gantilah rumah itu dengan menggelar acara ini. Sebelum penggalian pertama buatlah persembahan dengan telur ayam kampung dan ayam. Maksudnya, neka manga babang agu bentang karena kamu telah mengorbankan binatang lain di bawah tanah. Setelah itu, ambillah pohon di hutan untuk tiang tengah atau siri bongkok. Sebelum dipotong buatlah ritus dengan persembahkan telur. Ketika kamu hendak membawanya ke pa'ang atau gerbang adat buatlah arak-arakan dengan menaikkan seorang perawan yang diambil dari keturunan anak rona yang terpandang. Acara itu kamu namakan roko molas poco. Disebut roko molas poco karena hutan menjadi anak rona dari Gendang bersangkutan. Sebelum ditancapkan, buatlah dengan acara berupa mengurbankan seekor babi. Maksudnya, neka goro bongkok, gege leles, lako ngando, mburuk bubung, bentang lepar, becangs leba - rumahnya kokoh dan kuat. Untuk raung bubung dan puncaknya buatlah congko lokap dengan mempersembahkan hewan kurban berupa seekor kerbau dan babi jantan di compang. Gelarlah acara barong wae, barong boa, barong compang sebelum digelarnya congko lokap. Buatlah pulal teing hang neteng bendar sebelum sae - tarian di natas. Saat persembahkan kerbau dan babi di compang, gelarlah lilik compang dengan mendaraskan lagu puji-pujian ke Pencipta. Kami akan turun ke compang dan menerima persembahan kalian. Berkumpulah dan makan bersamalah - reje leleng wan koe etan tua, cing taki sili, wela taki peang, padir wai rentu sa'i kudut saung bembang nggereta wake caler nggerwa, jengok le ulus, wiko lau wais! Untuk bendar, buatlah acara raum bubung dengan seekor ayam jantan. Saat peletakan batu pertama, buatlah acara tesi dengan menggunakan telur ayam kampung!".

Tentang Angka Lima.

Mereka pun berkata: "Keturunan negeri ini mengenal apa yang disebut dengan sanda lima. Di sini nanti akan mengenal angka lima sebagai hal yang kudus. Angka lima akan terlihat dalam filosofi gendang onen lingkon peang - mbaru, natas, compang, wae teku dan lingko. Saat lilik compang harus lima kali. Selain itu, konsep mbarunya ada lima - gendang, tembong, tambor, niang - bendar. Konsep tariannya - sae, mbanta, sanda, danding dan caci. Konsep bagian dalam rumah adat, ada lima - leba mese, lempa rae, sekang kode, sepot neka lelo, dan rruang koe. Konsep keseluruhan mbaru Gendang - lutur, leba, gando, lepar, dan bilik.

Tentang Beka agu Buar.

Mereka kembali berpesan: "Ketika keturunan kamu berkeripan seperti bintang di langit dan pasir di tepi pantai, hendaklah kamu mengucap syukur. Persembahankan kurban persembahan berupa kerbau putih, babi, kambing dan ayam. Sebelumnya, buatlah acara teing hang wura agu ceki.

Tentang Pengampunan.

Mereka berkata lagi: "Ketika kamu banyak nanti, di kampung adat buatlah acara penyucian, tolak bala manakala keturunan kalian mendapat cobaan. Buatlah acara paki jarang bolong. Gelarlah acara buang sial di jurang - tengku - dengan mempersembahkan hewan kurban berupa seekor anjing hitam buta yang belum melihat dengan ayam hitam. Gelarlah barong wae, boa dan compang. Gelarlah pantek dan permintaan keturunam dan berkat. Saat puncak, persembahkanlah seekor kuda hitam - bolong - dan babi hitam. Berdoalah kepada pencipta di compang dengan mendaraskan pujian-pujian atau lilik companglah kalian. Ketika kamu toko loce data - meniduri isteri orang, meniduri inang, saudari buatlah ritus penyucian kepu munak - pemotongan penyucian. Ketika bermasalah, gelarlah rekonsiliasi - hambor, ela wase lima dan wunis peheng. Bila perang terjadi buatlah acara oke dara ta'a - tolak bala di cunga - jurang!".
Sumber: https://plus.google.com/117748896674938088790/posts/Jz6VydfPuCt
 
 
 
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar