Kamis, 03 Maret 2016

TRADISI KEPOK DI MANGGARAI


http://travel.kompas.com/read/2016/01/04/132800827/Tradisi.Kepok.Menyambut.Imam.Baru.di.Manggarai.Barat?utm_campaign=related&utm_medium=bp-kompas&utm_source=travel&

Tradisi "Kepok" Menyambut Imam Baru di Manggarai Barat

KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR Tradisi 'Kepok' dengan ayam jantan putih dalam menyambut Imam baru di Kabupaten Manggarai Barat, Flores, Nusa Tenggara Timur, Jumat (20/11/2015).


SENJA di Laut Flores, Jumat (20/11/2015) lalu menyambut kedatangan Imam baru, Pater Dionisius Anggo Man, OFM bersama dua rekannya di jalan pedesaan dari arah Tentang, Kecamatan Ndoso menuju ke Golowelu, Ibu Kota Kecamatan Kuwus, Kabupaten Manggarai Barat, Flores, Nusa Tenggara Timur.

Imam yang ditahbiskan oleh Mgr. Hubertus Leteng, Pr di Lapangan Sepakbola Ndoso, Kamis (19/10/2015) lalu bersama lima rekannya menambah deretan imam di Keuskupan Ruteng serta ordo Fransiskan Indonesia.

Biasanya, sesudah Upacara Tahbisan, Imam baru pada hari berikutnya merayakan Misa Sulung di Paroki asalnya. Pater Dion, OFM berasal dari Paroki Roh Kudus Golowelu.

Pada Jumat (20/11/2015), tiga Imam baru dari Ordo Fransiskan Indonesia itu dihantar keluarganya dari Kampung Tentang menuju ke Golowelu.

KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR Tua adat menyambut dengan tawu yang berisi moke untuk menyambut Imam baru di Kabupaten Manggarai Barat, Flores, Nusa Tenggara Timur, Jumat (20/11/2015).
Iring-iringan kendaraan roda dua dan roda empat menghantar Imam baru menuju ke Paroki Roh Kudus Golowelu.

Setiba di pintu masuk Gereja Roh Kudus Golowelu, tetua adat bersama dengan kaum perempuan sudah menunggu kedatangan Imam baru tersebut.

Sambil memegang ‘Tawu’ yang berisi tuak, tetua adat dengan pakaian adat khas Manggarai Raya menyambut gembira atas peristiwa pentahbisan Imam baru dari parokinya.

Sementara kaum perempuan dengan pakaian kebaya dan balibelo di kepala mereka menantikan kedatangan Imam baru itu.

Kain selendang Songke Manggarai serta topi songke Manggarai sudah disiapkan untuk dikalungan kepada Imam baru dan beberapa rombongan tersebut.

KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR Warga Manggarai Barat, Flores, Nusa Tenggara Timur, Jumat (20/11/2015), mengantarkan Imam baru dengan gong dan kendang.
Selanjutnya tetua adat melaksanakan ritual ‘Kepok’ dengan Tuak didalam ‘Tawu’ untuk menyapa imam baru dan rombongannya sebelum memasuki Pastoran Paroki Roh Kudus Golowelu.

Sesudah ritual itu dilaksanakan, Imam baru dan rombongannya diantar dengan tarian Sanda dari pintu masuk menuju ke Gereja untuk melaksanakan ibadat singkat.

Sesudah ibadat singkat di dalam Gereja, Imam baru dan rombongan diantar ke Pastoran Paroki untuk melanjutkan ritual adat. Saat tiba di ruang Tamu, tetua adat melaksanakan ritual ‘Kepok’ dengan menggunakan ayam jantan berwarna putih sebagai tanda syukur atas rahmat yang diterimanya.

Pater Dionisius Anggo Man, OFM mengucapkan terima kasih banyak atas penyambutan dari tua-tua adat serta umat di Paroki Roh Kudus Golowelu.


KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR Menyambut Imam baru di Manggarai Barat, Flores, Nusa Tenggara Timur, Jumat (20/11/2015), diiringi dengan tarian adat setempat.
Tradisi ‘Kepok’ Cara Orang Manggarai Menyambut Tamu

Semakin gencarnya Pariwisata di Pulau Flores bagian barat dengan masuknya Komodo sebagai satu dari tujuh keajaiban dunia membangkitkan semangat orang Manggarai Raya untuk mempertahankan berbagai ritual-ritual. Salah satu yang terus dilakukan adalah ritual ‘Kepok’ untuk menyambut tamu.

Ritual ‘Kepok’ dengan benda Tuak lokal serta ayam jantan warna putih sebagai tanda ketulusan orang Manggarai Raya menerima tamu yang berkunjung ke wilayah Manggarai Raya.

Saat kunjungan mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menghadiri puncak Sail Komodo pada September 2013 lalu, tua-tua adat melaksanakan ritual ‘Kepok’ di Bandar Udara Komodo.

KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR Imam baru di Manggarai Barat, Flores, Nusa Tenggara Timur, Jumat (20/11/2015), dengan ayam putih di tangannya.
Selanjutnya, pada kunjungan Presiden Joko Widodo bersama Ibu Negara Iriana Widodo di Manggarai Barat pada Desember 2015, juga disambut dengan ritual ‘Kepok’ di Bandara Komodo Labuan Bajo sebelum meresmikan Terminal Penumpang Bandara Komodo.

Bahkan, tamu-tamu asing yang melaksanakan kunjungan ke wilayah Pulau Flores Bagian Barat disambut dengan ritual ‘Kepok’. Ritual ini sebagai ungkapan ketulusan orang untuk menerima tamu secara terbuka. Setiap tamu disambut dengan ramah sebagai budaya orang Flores Barat.
Penulis : Kontributor Manggarai, Markus Makur
Editor : I Made Asdhiana

SEJARAH SUKU SESO DI MANGGARAI TIMUR

http://travel.kompas.com/read/2016/01/20/092932427/.Ndetok.Nii.Ritual.Suku.Seso.di.Manggarai.Timur.Memberkati.Benih?utm_campaign=related&utm_medium=bp-kompas&utm_source=travel&

"Ndetok Nii", Ritual Suku Seso di Manggarai Timur Memberkati Benih

KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR Ritual 'Ndeto Nii' dari Suku Seso di Kampung Sambikoe, Kelurahan Watunggene, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, Flores, Nusa Tenggara Timur.
NDETOK Nii merupakan sebuah ritual tahunan yang dilaksanakan warga Suku Seso di Kampung Sambikoe, Kelurahan Watunggene, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, Flores, Nusa Tenggara Timur.

Ndetok Nii merupakan sebuah ritual memberkati benih jagung, padi sebelum ditanam ke ladang. Ritual ini adalah pemberkatan benih secara adat istiadat Suku Seso di Manggarai Timur. Kampung Sambikoe terletak di atas bukit yang dihuni oleh Suku Seso serta berbagai suku lainnya.

Pada November 2015 lalu, ritual ini dilakukan di Rumah adat Suku Seso di Kampung Sambikoe yang dilakukan oleh tua adat Suku Seso, Damianus Tarung bersama dengan adiknya Stefanus bersama dengan anak-anak mereka serta warga Suku Seso di kampung tersebut.

Ritual ini selalu dilaksanakan sebelum musim tanam pada Desember setiap tahun. Dan pelaksanaan ritualnya dilaksanakan akhir November. Seperti tahun 2015 lalu, memasuki masa tanam Desember, ritual ini kembali dilakukan. Sayangnya, Desember 2015 hujan yang dinanti belum turun.

Jumat, 13 November 2015 lalu, malam telah tiba. Para petani sudah kembali dari ladang masing-masing. Seharian mereka membersihkan rumput di ladang-ladang itu untuk persiapan menanam benih jagung dan padi. Ladang milik petani itu tak jauh dari kampung halamannya.

KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR Ritual pemberkatan benih oleh Suku Seso di Kampung Sambikoe, Kelurahan Watunggene, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, Flores, Nusa Tenggara Timur.
Tetua adat Suku Seso sebagai pemilik ulayat di sekitar itu sudah menginformasikan bahwa benih jagung dan padi tidak diperkenankan ditanam sebelum ritual Ndetok Nii dilaksanakan.

Malam itu berbeda dengan malam sebelumnya. Jumat malam itu sudah ditentukan oleh tetua adat Suku Seso, Damianus Tarung, bahwa dilaksanakan ritual Ndetok Nii di rumah adat.

Semua warga suku bergegas dari rumah masing-masing menuju ke rumah adat itu sambil membawa bekal-bekal yang disiapkan. Sebagian warga suku membawa kayu api, air minum, benih jagung, dan padi serta moke lokal.

Hidangkan Jojong Dao

Warga suku sudah berkumpul di rumah adat Sambil bercerita tentang kemarau panjang yang melanda wilayah itu. Panas tahun 2015 ini sangat panjang dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya.

Semua warga khawatir terhadap cuaca panas yang mengakibatkan rumput mati, debit mata air berkurang serta tanaman tidak bisa ditanam.

KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR Jojong Dao, makanan khas di Manggarai Timur, NTT, yang terbuat dari ubi kayu.
Ketika warga suku bercerita dan bersenda gurau, tuan rumah menghidangkan makanan khas Manggarai Timur. Makanan khas itu adalah Jojong Dao. Jojong Dao dimasak menggunakan Lewing Tana (periuk yang terbuat dari tanah liat).

Jojong Dao itu makanan yang diolah dari ubi kayu dicampur dengan "gola kolang" atau gula merah yang diambil dari pohon enau serta kelapa. Jojong dao adalah hidangan pembuka kepada tamu-tamu di rumah adat tersebut.

Kaum perempuan Suku Seso dan suku lainnya di wilayah Selatan dari Kabupaten Manggarai Timur masih melestarikan makanan khas tersebut.  Setelah hidangan itu selesai maka tetua adat Suku Seso mulai melaksanakan ritual tersebut.

Ritual Ndetok Nii

Sebelum ritual dilaksanakan, bahan-bahan yang disiapkan adalah benih jagung, benih padi, ayam jantan, beras. Semua bahan itu disimpan di dalam bakul.

KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR Ritual 'Ndeto Nii' dari Suku Seso di Kampung Sambikoe, Kelurahan Watunggene, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, Flores, Nusa Tenggara Timur.
Malam itu tua adat Suku Seso, Damianus Tarung, yang membacakan mantra adat untuk memberkati benih yang sudah simpan di dalam bakul sambil memegang ayam jantan.

Ritual ini dilaksanakan di Watu Nurung (tempat sesajian kepada leluhur) yang berada di sebuah tiang rumah di bagian dapur. Setelah diritualkan, ayam disembelih.

Lalu darah ayam dituangkan di Watu Nurung, benih padi dan benih jagung serta alat-alat yang diperlukan untuk menanam benih tersebut.

Selain itu, Lema Manuk (lidah ayam) dilihat oleh tetua adat tersebut. Ada tanda-tanda yang dapat dilihat di lidah ayam tersebut, apakah disetujui oleh leluhur dan alam.

Tua adat Suku Seso, Damianus Tarung kepada KompasTravel menjelaskan, ritual ini terus dilaksanakan setiap tahun sebelum musim tanam tiba.

Jika ritual ini tidak dilaksanakan maka tanaman yang ditanam tidak akan tumbuh. Walaupun sebagian tanaman ini tumbuh tetapi hasilnya tidak terlalu melimpah.

KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR Tua adat Suku Seso di Kampung Sambikoe, Kelurahan Watunggene, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, Flores, Nusa Tenggara Timur, melihat urat ayam dalam ritual 'Ndeto Nii'.
“Ritual ini merupakan warisan leluhur Suku Seso sebelum musim tanam. Ritual ini juga sebagai tanda menghargai benih padi, jagung dan lainnya. Sebab, tanaman ini memberikan kehidupan kepada manusia yang hidup wilayah ulayat Suku Seso,” jelasnya.

Asal usul Suku Seso

Dikisahkan secara turun temurun oleh leluhur, lanjut Damianus Tarung, leluhur suku ini berasal dari India. Leluhur berlayar dengan tiga perahu dari India dan berlabuh di Lengge Lapu (sekarang muara Waemokel). Dalam perahu itu ada besi, emas, pakaian, buah koli dan kenari.

Saat itu di daratan ada tuan tanah dari Suku Rombo yang tinggal di Kampung Nale dan sekitarnya. Dari atas bukit terlihat perahu di Lengge Lapu (sekarang Muara Waemokel).

Waktu itu, sambung Tarung, Ketua Suku Rombo, Ine Gegu (seorang perempuan) diundang ke Lengge Lapu. Ia datang ke Lengge Lapu dan bertanya untuk apa? Lalu leluhur dari India itu menjawabnya kami mencari tanah.

KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR Tua adat Suku Seso di Kampung Sambikoe, Kelurahan Watunggene, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, Flores, Nusa Tenggara Timur, melihat lidah ayam dalam ritual 'Ndeto Nii'.
Lalu sesudah itu dilakukan perjanjian dengan menukarkan barang dan tanah. Untuk batas tanah di pinggir laut diukur dengan kaki belakang (tumit) sampai matahari terbenam.

Lalu untuk batas tanah daratan dilaksanakan pada sore hari sampai matahari terbit sambil membacakan syair  "Lele Jeje  Rombo Lale, Sele Seso Ndia Mai". Cara mengukurnya dengan tumit, kaki bagian belakang. Jadi batas dengan Suku Sulit di Watu Mbelar.

Sedangkan perbatasan timur barat dengan menggunakan seekor anjing. Ekor anjing diisi dengan abu dapur dengan sumpat adat. Hasilnya batas barat hak ulayat Suku Seso adalah di Tiwu Ngina di Kampung Kala Bumbu sedangkan batas timurnya di Leko Ranggo.
Penulis : Kontributor Manggarai, Markus Makur
Editor : I Made Asdhiana

TARIAN MANGGARAI - versi media


 

Umbiro, Tradisi Kampung Rajong Koe di Flores Menghormati Alam

http://travel.kompas.com/read/2017/08/09/091500627/umbiro-tradisi-kampung-rajong-koe-di-flores-menghormati-alam
Kontributor Manggarai, Markus Makur
Kompas.com - 09/08/2017, 09:15 WIB
Dua penari dari Sekolah Dasar Inpres Nunur, Desa Mbengan, Kecamata Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, Selasa (1/8/2017) menyiapkan tali untuk tarian Umbiro.
Dua penari dari Sekolah Dasar Inpres Nunur, Desa Mbengan, Kecamata Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, Selasa (1/8/2017) menyiapkan tali untuk tarian Umbiro. (KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR)
KOMPAS.com - Dingin dan kabut menyelimuti kemah di lapangan sepak bola Sekolah Dasar Katolik Waekekik, Desa Ranakolong, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, Flores, Nusa Tenggara Timur.
Selasa (1/8/2017), Sekolah Dasar Katolik Waekekik merayakan pesta yang ke-54 tahun. Saat suasana hening yang diselimuti dingin dan kabut, tiba-tiba dikejutkan dengan munculnya penari dari Sekolah Dasar Inpres Nunur, Desa Mbengan dari berbagai sudut panggung di tempat syukuran tersebut.
(BACA: Menari Ndundu Ndake Bersama Perempuan Flores)
Penari yang membawakan ritual Umbiro adalah siswa dan siswi Sekolah Dasar Inpres Nunur. Untuk atraksi Umbiro memerlukan 30 orang penari yang terdiri dari laki-laki dan perempuan.
Secara perlahan-lahan dengan hentakan kaki di tanah dipadukan dengan kain selendang memberikan suasana gembira kepada ribuan penonton yang memadati kemah syukuran pesta emas sekolah tersebut.
(BACA: Jangan Ditiru! Kelakuan Turis Menginjak Cagar Budaya di Yogyakarta)
Iringan gong dan gendang serta lagu-lagu khas Manggarai Timur memberikan nuansa berbeda yang dibawakan oleh siswa dan siswi kelas tiga, empat dan lima.
Hiburan yang dibawakan penari dengan meritualkan Umbiro membangkitkan ingatan tetua adat di Desa Ranakolong dan Desa Mbengan terhadap tradisi Umbiro yang diwariskan leluhur di dua desa tersebut.
Penari mementaskan tarian Raga Sae mengantar tamu dalam berbagai ritual adat di Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur. Penari memegang sebuah tongkat di tangan sambil menari, Selasa (1/8/2017).
Penari mementaskan tarian Raga Sae mengantar tamu dalam berbagai ritual adat di Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur. Penari memegang sebuah tongkat di tangan sambil menari, Selasa (1/8/2017).(KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR)
Para tetua adat yang menyaksikan ritual itu yang dibawakan dalam bentuk seni drama dan tari oleh siswa dan siswi Sekolah Dasar Inpres Nunur mengingatkan mereka akan kearifan dan kebijaksanaan yang diwariskan leluhur di ladang dan kebun komunal.Orang Manggarai Timur sangat menghargai dan menghormati padi sebagai ibu bumi. Sebanyak 90 persen orang Manggarai Timur berprofesi sebagai petani, baik petani ladang maupun sawah.
Mereka membersihkan lahan di ladang untuk menanam padi didahului berbagai ritual adat yang menghormati tanah.
Orang Manggarai Timur sangat menyatu dengan alam. Segala sesuatu yang berhubungan dengan menanam berbagai jenis holtikultura selalu didahului oleh ritual adat yang menghormati alam semesta dan Tuhan Maha Pencipta.
Ada ritual Weri Mata Nii (berkat benih padi) yang diritualkan dengan darah ayam. Ada juga ritual Pasok Mata Nii (tanam benih padi dan jagung yang sudah diberkati secara adat). Ada ritual Raut Kalang (bersih rumput di sela-sela padi).
Selanjutnya ada ritual Umbiro yang dilaksanakan di pinggir ladang ketika padi mulai berisi. Ritual ini selalu dibawakan oleh para petani di Manggarai Timur, khususnya di wilayah selatan di antaranya Desa Mbengan, Desa Ranakolong, Desa Gunung, Desa Gunung Baru serta 22 desa lainnya.
Penari mementaskan tarian Raga Sae mengantar tamu dalam berbagai ritual adat di Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur. Penari memegang sebuah tongkat di tangan sambil menari, Selasa (1/8/2017).
Penari mementaskan tarian Raga Sae mengantar tamu dalam berbagai ritual adat di Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur. Penari memegang sebuah tongkat di tangan sambil menari, Selasa (1/8/2017).(KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR)
Ritual Umbiro adalah ritual meminta kepada alam semesta agar buah padi panjang dan bulirnya melimpah. "Umbi" adalah tarik dan "Ro" adalah nama sebuah tali yang hidup dan tumbuh di hutan.Ritual ini seperti tarik tambang adat. Uniknya, yang melakukan Umbiro adalah kaum perempuan melawan kaum laki-laki dengan berpakaian adat songke, selendang dan destar di kepala serta Bali Belo.
Saat meritualkan Umbiro diiringi lagu-lagu yang berhubungan dengan padi. Meminta alam semesta, leluhur dan Tuhan Maha Pencipta untuk memberikan hasil yang berlimpah dan menjaga padi dari gangguan roh-roh halus.
Umbiro juga adu kemampuan antara kaum perempuan dengan laki-laki. Sebelum dilaksanakan ritual itu di pinggir ladang, terlebih dahulu dipersembahkan sesajian kepada alam, leluhur dan Tuhan Maha Pencipta dengan benda ayam, babi dan kambing serta benda-benda lainnya.
Ritual adat orang Manggarai Timur selalu berhubungan dengan alam semesta, padi, jagung, serta berbagai umbi-umbian.
Ritual ini secara alamiah dibuat leluhur orang Manggarai Timur karena pada zaman dahulu alam selalu dekat dengan manusia dan segala sesuatu berhubungan dengan alam semesta.
Siswa dan siswi Sekolah Dasar Inpres Nunur, Desa Mbengan, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, Flores, NTT, Selasa (1/8/2017) menari Umbiro sebelum puncak tradisi Umbiro dengan menarik tali.
Siswa dan siswi Sekolah Dasar Inpres Nunur, Desa Mbengan, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, Flores, NTT, Selasa (1/8/2017) menari Umbiro sebelum puncak tradisi Umbiro dengan menarik tali. (KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR)
Lalu tradisi ini diwariskan kepada anak-anak dan generasi berikutnya sampai di zaman teknologi pertanian yang sangat canggih.Kepala Suku Ndolu di Desa Ranakolong, Thomas Jala kepada KompasTravel, Selasa (1/8/2017) menjelaskan, tradisi Umbiro selalu diritualkan di ladang-ladang komunal secara bersama-sama.
Maksud dari tradisi ini adalah meminta alam semesta, tanah, leluhur dan Tuhan agar buah padi panjang dan bulir-bulirnya padat dan berlimpah. Ritual ini selalu dilaksanakan di ladang-ladang masyarakat.
"Segala sesuatu yang kami lakukan selalu berhubungan ritual-ritual adat, baik dengan alam semesta maupun manusia. Kami orang adat yang selalu menghargai tradisi dan ritual-ritual yang diwariskan leluhur. Yang lebih mendalam dari berbagai ritual adat adalah ritual menghormati padi, jagung dan berbagai jenis umbi-umbian. Ada juga ritual menghormati sumber mata air yang disebut Karong Wae (ritual menghormati sumber mata air),” katanya.
              
Thomas mengaku bangga bahwa ritual-ritual yang berhubungan dengan padi, jagung dibuat dalam bentuk tari-tarian yang dikembangkan oleh pelajar dan guru di Sekolah Dasar Inpres Nunur, SDK Waekekik, SDI Messi dan Sekolah Menengah Atas Negeri II Kota Komba.
Berbagai ritual itu dipentaskan dalam berbagai festival budaya di tingkat kabupaten bahkan dipentaskan dalam gala dinner lomba balap sepeda internasional.
"Saya dengar bahwa tradisi Umbiro sudah terkenal di Belgia, bahkan baru-baru ini tari-tarian itu dipentaskan kepada pebalap sepeda internasional yang datang dari berbagai negara di dunia ini," katanya.
Tua-tua adat dari Kampung Rajong Koe, Desa Mbengan, Kecamatan Kota Komba, Manggarai Timur, Flores, NTT, Selasa (1/8/2017) menabuh gendang dan gong untuk mengiringi para penari Umbiro.
Tua-tua adat dari Kampung Rajong Koe, Desa Mbengan, Kecamatan Kota Komba, Manggarai Timur, Flores, NTT, Selasa (1/8/2017) menabuh gendang dan gong untuk mengiringi para penari Umbiro. (KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR)
Instruktur sekaligus Guru SDI Nunur, Binsensius Joman menjelaskan, saat merayakan pesta emas SDK Waekekik, Selasa (1/8/2017), sebanyak 30 siswa dan siswi sekolah dasar mementaskan tarian Umbiro.Bahkan, saat gala dinner Tour de Flores di Pantai Muara Borong dipentaskan tarian ini. Tradisi ini berhubungan dengan menghormati padi dan jagung serta umbi-umbian.
Menurut Joman tradisi Umbiro adalah tradisi yang dilaksanakan di pinggir ladang saat padi mulai berbunga dan biasanya dilaksanakan pada bulan Maret.
"Ada sepuluh nyanyian dibawakan di antaranya Mai taung, Sai Ndereng, Api sili, Kepe Le, totok ametong, lowing, suku wela suwuk, ole nara ge, Beteng Jerek, O rure, dan Kole Ge," katanya.
Dua syair dari sepuluh syair lagu, lanjut Joman, adalah "Kepe Le Kepe Le, Le Mori Mori Mese, tadu Lau Lau Woja Galung" artinya alam dan leluhur jaga ladang serta Tuhan Maha Pencipta memberkati padi agar berbuah melimpah.
Berikutnya "O Rue Le Mai Wela Tete, Ndo Kaka Ndewe Radi Teku Lewe" artinya semoga semua tanaman di ladang seperti padi, ubi tatas, jagung bertumbuh subur dan tidak diganggu oleh berbagai jenis burung.
Pastor John Jonga, peraih Yap Thiam Hien Award 2009 asal Kampung Nunur, Desa Mbengan saat menghadiri Pesta emas SDK Waekekik mengaku bulu kuduknya merinding saat siswa dan siswi Sekolah Dasar Inpres Nunur dan SMAN II Kota Komba mementaskan tari-tarian yang berhubungan dengan pertanian.
Para penari mulai menarik tali sambil bernyanyi dalam tradisi Umbiro pada perayaan pesta ke-54 tahun Sekolah Dasar Katolik Waekekik, Desa Ranakolong, Kota Komba, Manggarai Timur, Flores, NTT, Selasa (1/8/2017).
Para penari mulai menarik tali sambil bernyanyi dalam tradisi Umbiro pada perayaan pesta ke-54 tahun Sekolah Dasar Katolik Waekekik, Desa Ranakolong, Kota Komba, Manggarai Timur, Flores, NTT, Selasa (1/8/2017). (KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR)
Tarian Umbiro dan Riik Kozu berhubungan dengan menghormati padi dan jagung serta umbi-umbian."Saya meneteskan air mata dan mengingat masa lalu ketika orangtua dan nenek moyang saya meritualkan tradisi-tradisi ini untuk menghormati padi, jagung dan umbi-umbian. Saya bangga dengan pelajar di Manggarai Timur yang mementaskan tarian ini. Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur harus mendukung dan mempertahankan ritual-ritual adat. Pemerintah harus mempromosikan keunikan-keunikan Manggarai Timur,” ungkapnya.
              
Jonga yang bertugas di Papua menjelaskan bahwa dirinya lahir dan dibesarkan dalam berbagai tradisi yang diwariskan leluhur dan orangtua untuk menghormati alam semesta dan Tuhan Maha Pencipta.
Pastor Daniel Ivan Darto Simamora, OFMCap kepada KompasTravel merasa bangga dan kagum dengan pementasan tarian Umbiro dan Riik Kozu yang dibawakan oleh siswa-siswi sekolah ini.
Ini membuktikan bahwa anak-anak masih menjaga dan mencintai budaya yang diwariskan leluhur orang Manggarai Timur, Flores.
“Orang Batak juga sangat menghargai budaya dan berbagai tari-tarian. Bahkan, segala aspek kehidupan orang Batak selalu berhubungan dengan adat istiadat dan ritual-ritual adat yang berhubungan dengan alam semesta,” katanya.
Para penari mulai menarik tali sambil bernyanyi dalam tradisi Umbiro pada perayaan pesta ke-54 tahun Sekolah Dasar Katolik Waekekik, Desa Ranakolong, Kota Komba, Manggarai Timur, Flores, NTT, Selasa (1/8/2017).
Para penari mulai menarik tali sambil bernyanyi dalam tradisi Umbiro pada perayaan pesta ke-54 tahun Sekolah Dasar Katolik Waekekik, Desa Ranakolong, Kota Komba, Manggarai Timur, Flores, NTT, Selasa (1/8/2017). (KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR)
Instruktur Seni Drama dan Tari Riik Kozu sekaligus Kepala Sekolah Menengah Atas Negeri II Kota Komba, Bernabas Ngapan menjelaskan, tradisi Umbiro selalu diritualkan oleh warga masyarakat di Desa Mbengan dan Desa Ranakolong, baik dilakukan secara bersama-sama maupun dilakukan oleh berbagai suku."Warga di Desa Mbengan dan Desa Ranakolong sangat menghormati padi dan jagung. Mulai masa tanam sampai masa panen selalu ada ritual yang berhubungan dengan padi. Saya ingat sewaktu kecil saat pergi ke ladang. Saat itu padi sedang mulai berisi. Sebelum masuk ladang, terlebih dahulu minta permisi kepada alam dan memasuki ladang dengan suasana tenang dan hening. Tidak boleh ribut. Tidak bersuara. Tidak boleh menyanyi. Betul-betul suasana hening dan tenang,” kenang Bernabas.

 

Sehari Menari Sanggu Alu dan Lipa Songke di Waemokel Flores

KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR Pelajar Sekolah Menengah Pertama Katolik Waemokel, Kelurahan Watunggene, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, Flores, Nusa Tenggara Timur, pentaskan atraksi Sanggu Alu, Selasa (9/2/2016).
LONCATAN kaki kanan pelajar Sekolah Menengah Pertama Katolik Waemokel, Kelurahan Watunggene, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, Flores, Nusa Tenggara Timur di celah-celah bambu kecil menandakan atraksi tarian Sanggu Alu dimulai.

Hentakan kecil bambu yang digerakkan oleh anggota penari laki-laki  mengajak penari perempuan untuk bersiap-siap meloncat di celah-celah bambu tersebut.

Satu per satu penari perempuan yang berpakaian kain songke dan kebaya berjingkrak-jingkrak di celah-celah bambu yang terus digerakkan oleh penari laki-laki.

Kelincahan sangat diperlukan dalam tarian Sanggu Alu. Jika tidak lincah, maka kaki kanan dari penari perempuan akan terbentur dengan bambu yang digerakkan oleh penari laki-laki.

Irama kaki yang sama membuat keindahan dan keunikan tarian Sanggu Alu menjadi daya tarik pelajar di dekolah menengah tersebut.

KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR Persiapan bambu untuk atraksi Sanggu Alu di Sekolah Menengah Pertama Katolik Waemokel, Kelurahan Watunggene, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, Flores, Nusa Tenggara Timur, Selasa (9/2/2016).
Bunyi gesekan bambu kecil yang dilakukan penari laki-laki dan dipadukan loncatan indah penari perempuan di celah-celah bambu itu memberikan daya tarik kepada penonton yang memadat Aula Sekolah Menengah Pertama Katolik Waemokel, Selasa (9/2/2016) lalu.

Pada hari itu dirayakan ulang tahun pelindung SMPK Waemokel, Santo Arnoldus Jansen dan ulang tahun sekolah yang ke-38 serta merayakan Natal 2015 dan Tahun Baru bersama di lembaga tersebut.

Tepuk tangan meriah dari penonton, yang adalah pelajar SMPK Waemokel lainnya memberikan semangat kepada penari Sanggu Alu untuk terus menari-nari di celah-celah bambu.

Tarian Sanggu Alu yang diwariskan leluhur di Kabupaten Manggarai Timur terus dilestarikan di Sekolah Menengah Pertama Katolik Waemokel.

KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR Tarian Sanggu Alu dipentaskan pelajar Sekolah Menengah Pertama Katolik Waemokel, Kelurahan Watunggene, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, Flores, Nusa Tenggara Timur, Selasa (9/2/2016).
Satu-satunya sekolah menengah pertama di Kabupaten Manggarai Timur yang terus mempertahankan tarian khas ini. Bahkan, tarian ini selalu dipentaskan di sekolah tersebut dalam mata pelajaran kurikulum lokal.

Kepala Sekolah SMPK Waemokel, Robertus Wahab kepada KompasTravel menjelaskan, tarian Sanggu Alu merupakan kekhasan di lembaga sekolah ini. Setiap kali ada perayaan di sekolah selalu dipentaskan tarian ini.

“Ini merupakan kreativitas pelajar di SMPK Waemokel dalam melestarikan tarian khas lokal yang diwariskan leluhur di Manggarai Timur,” kata Robertus.


KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR Pelajar Sekolah Menengah Pertama Katolik Waemokel, Kelurahan Watunggene, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, Flores, Nusa Tenggara Timur membawa bambu kecil, Selasa (9/2/2016).
Tampil di Berbagai Acara Budaya Lokal

Robertus menjelaskan, tarian Sanggu Alu selalu ditampilkan dalam berbagai acara budaya lokal serta peringatan-peringatan hari besar seperti Perayaan 17 Agustus, perayaan Hari Pendidikan, 2 Mei serta berbagai perayaan di lembaga gereja.

Seperti pada Hari Pangan Sedunia yang diselenggarakan oleh Keuskupan Ruteng di Paroki Santo Arnoldus dan Joseph Waelengga pada 2015 lalu dipentaskan tarian Sanggu Alu oleh pelajar SMPK Waemokel.

Selain Tarian Sanggu Alu, lanjut Robertus, ada juga tarian yang tak kalah menariknya, yakni tarian Lipa Songke. Tarian ini dibawakan oleh siswi.

Tarian ini diiringi lagu dan musik Manggarai. "Lipa" artinya kain selimut, sedangkan "Songke" adalah kain khas masyarakat Manggarai. Jadi tarian Lipa Songke adalah tarian menggunakan kain songke.

Liukan badan penari dengan iringan musik khas Manggarai Raya mampu memikat pelajar lainnya yang sedang menonton serta tidak beranjak dari kursi mereka. Mereka menyimak dan menikmati penampilan dari penari perempuan di sekolah tersebut.

Kain selendang, kebaya serta kain songke memberikan nilai tersendiri dalam tarian Lipa Songke. Langkah kaki dari penari perempuan seirama dengan alunan musik khas Manggarai Raya memberikan keunikan tersendiri dari tarian ini.

“Lembaga ini terus melestarikan dan mengembangkan tarian-tarian khas masyarakat Manggarai Raya. Salah satu cara untuk mencintai tarian lokal ini adalah pelajar dilatih dan dipentaskan di berbagai event budaya di wilayah Manggarai Timur,” jelas Robertus.

KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR Pelajar Sekolah Menengah Pertama Katolik Waemokel, Kelurahan Watunggene, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, Flores, Nusa Tenggara Timur, membawakan tarian Lipa Songke.
Anggota Komite Sekolah Menengah Pertama Waemokel, Yoseph Geong kepada KompasTravel menjelaskan, tarian Sanggu Alu merupakan tarian khas masyarakat Manggarai Timur. Untuk wilayah Manggarai dan Manggarai Barat, tarian ini disebut dengan tarian Rangkuk Alu.

Yoseph memaparkan, tarian ini tarian ungkapan kegembiraan dari masyarakat pasca panen. Bahkan, tarian ini ditampilkan pada malam hari di bulan terang.

“Saya bangga dengan pelajar Sekolah Menengah Pertama Waemokel yang selalu menampilkan budaya lokal seperti tari-tarian khas masyarakat Manggarai Timur. Saya berharap pengembangan dan pelestarian tarian ini terus dipertahankan dan menjadi ciri khas di lembaga ini,” katanya.


KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR Pelajar Sekolah Menengah Pertama Katolik Waemokel, Kelurahan Watunggene, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, Flores, Nusa Tenggara Timur, membawakan tarian Lipa Songke.
Paket Wisata Budaya di Manggarai Timur

Kekayaan tarian khas masyarakat Manggarai Timur serta berbagai ritual-ritual budaya memberikan nilai tersendiri bagi wisatawan asing dan domestik yang berwisata ke wilayah Manggarai Timur.

Keaslian budaya serta tariannya mampu memikat wisatawan Eropa yang sudah pernah mengunjungi Manggarai Timur, seperti tarian Vera yang pernah menghibur wisatawan Perancis, tarian Wai Doka dan Umbiro disuguhkan kepada wisatawan Belgia. Tarian Padoa dari masyarakat Sabu di Manggarai Timur juga dipentaskan kepada wisatawan asing beberapa tahun lalu.

Menangkap peluang itu, Pastor Paroki Santo Arnoldus dan Joseph, Romo Hieronimus Jelahu memprogramkan pementasan tarian khas masyarakat di wilayahnya pada hari Ulang Tahun paroki di tahun ini.

“Saya bersama dewan paroki serta masyarakat di wilayah paroki siap menyelenggarakan pementasan budaya dengan melibatkan sekolah-sekolah yang ada disekitar paroki ini. Saya berharap Waelengga sebagai pintu masuk wisatawan ke wilayah Manggarai Raya menjadi pusat atraksi-atraksi budaya kepada wisatawan mancanegara dan domestik,” katanya.
Penulis : Kontributor Manggarai, Markus Makur
Editor : I Made Asdhiana

Selasa, 16 Februari 2016

MENELUSURI HUBUNGAN SULSEL (BOSOSWA) DENGAN MANGGARAI

MENELUSURI HUBUNGAN SULSEL (BOSOSWA) DENGAN MANGGARAI

Ada yang mengklaim bahwa  ada leluhur orang Manggarai yang berasal dari  Sulawesi Selatan (Bone, Sopeng, Wajo). Apa benar demikian? Apa buktinya?

 Bahasa:
Mungkin bahasa bisa dijadikan salah satu bukti.
Beberapa kata yang  sama, misalnya:
  1. Karaeng (Makasar) = Kraeng (Manggarai)
  2. Palumara (M) = Pelmara (Manggarai)
  3. Leang (M) = Liang (Manggarai).
  4. Lipa (Makasar) = Lipa (= Kain, Manggarai)
  5. Tabe (Selayar, SULSEL)  + Tabe Manggarai (https://www.youtube.com/watch?v=pQ4QVRgUITY). 
  6. Apa kareba = Apa  kabar? (https://www.youtube.com/watch?v=TnnTta9y8J8),  (PELAYANAN PASTOR ANDI SIMON SEMAKIN RAMEE PENGUNJUNG MEREKA DATANG INGIN MENGALAMI MUJIZAT KUASA DOA); ada di menit  sekitar 17 - 20. 


Selain kata, juga nama tempat ada yang mirip, misalnya:

Kalumpang (Mamuju, SulBar) = Kelumpang (di Rahong Utara, Manggarai), http://regional.kompas.com/read/2013/09/03/1719576/Siswa.SD.Sabung.Nyawa.Seberangi.Sungai.demi.Bersekolah?utm_campaign=related&utm_medium=bp&utm_source=news&


Sabtu, 13 Februari 2016

LIANG BUA

Warga Curigai Tujuan Penelitian Bertahun-tahun di Liang Bua




4157
 http://www.floresa.co/2016/02/07/warga-curigai-tujuan-penelitian-bertahun-tahun-di-liang-bua/





Lokasi wisata Liang Bua (Foto: Ist)
Ruteng, Floresa.co – Sudah belasan tahun, terhitung sejak 2001 sejumlah ahli melakukan penelitian di Gua Liang Bua, Kecamatan Rahong Utara, Kabupaten Manggarai- Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Pada September 2003, memang ada penemuan homo floresiensis, manusia purba Flores oleh sejumlah pakar antropologi dari tim gabungan Australia dan Indonesia.
Terkait penemuan manusia purba itu, belakangan, tim gabungan Australia dan Indonesia kemudian menyimpulkan bahwa itu merupakan fosil yang berasal dari spesies bukan manusia.
Kesimpulan itu dikritik oleh peneliti lain yang dimotori oleh Teuku Jacob, ahli dari Universitas Gajah Madah (UGM). Menurut dia, fosil dari Liang Bua ini berasal dari sekelompok orang katai Flores, yang sampai sekarang masih bisa diamati pada beberapa populasi di sekitar lokasi penemuan.
Itu sebabnya, pada 2007 lalu tim peneliti dari UGM melakukan penggalian ulang.
Keberadaan peneliti yang hampir 10 tahun di lokasi itu tersebut membuat tanda tanya besar bagi warga sekitar.
Lantaran para peneliti tertutup dengan masyarakat sekitar, mereka menduga, ada yang tidak beres dengan kegiatan penelitian di lokasi yang berjarak kurang lebih 13 km arah utara kota Ruteng, ibu kota Kabupaten Manggarai itu.
“Patut kami duga para peneliti hanya mengambil kekayaan alam di Liang Bua untuk keuntungan pribadi mereka. Peneliti juga sangat tertutup dengan masyarakat,” ujar Fidelis Randut, warga Desa Liang Bua kepada Floresa.co, Sabtu (6/2/2016).
Ia mengaku, selama penelitian, tampak tidak ada pendampingan intens dari dinas terkait di Kabupaten Manggarai.
Menurutnya, jika peneliti melakukan pencurian barang tertentu dari dalam Gua Liang Bua pasti bakal tak satu yang bisa mengetahuinya.
”Kalau saya amati, masyarakat Liang Bua sudah tertipu dengan adanya fosil homo hloresiensis. Masa sudah puluhan tahun belum ada hasilnya. Sejauh ini kita belum tahu persis Sumber Daya Alam apalagi di Gua Liang Bua,” katanya mencurigai.
Dihubungi terpisah, Minggu (7/2), Petrus Rabu, Sekretaris Desa Liang Bua mengaku, memang tidak ada pendampingan dari pemerintah setempat sejak tahun 2007 lalu.
Ia mengaku pernah memang pernah ikut dalam proses penggalian dan yang ditemukan adalah tulang-tulang yang berserakan di bawah tanah.
“Sepengetahuan saya, tulang-tulang yang didapatkan dalam tanah itu di bawah ke Jakarta,” katanya.
Penggalian, kata dia, dilakukan di banyak tempat, dengan kedalaman sekitar 11 meter.
“Kami tidak tahu persis di kampung ini. Selama ini kami hanya anggap mereka sebagai peneliti saja,” ujarnya.
Floresa.co sudah berupaya meminta tanggapan dari pejabat di lingkup Setda Manggarai terkait hal ini.
Hingga berita ini diturunkan, kami belum berhasil mendapat respon mereka. (Ardy Abba/ARL/Floresa)






Kecurigaan Terhadap Penelitian di Liang Bua

2020
 http://www.floresa.co/2016/02/10/kecurigaan-terhadap-penelitian-di-liang-bua/






Alfan Manah (kanan) saat mengunjungi Gua Liang Bua pada 2012. (Foto: dok pribadi)
Oleh: ALFAN MANAH
Pada 7 Februari lalu, Floresa.co mempublikasi berita berjudul “Warga Curigai Penelitian Bertahun-tahun di Liang Bua.” Dalam berita itu, dijelaskan bahwa warga bernama Fidelis Randut menduga para peneliti hanya mengambil kekayaan alam di Liang Bua untuk keuntungan pribadi mereka, lantaran para peneliti tertutup dengan masyarakat sekitar. Ia juga mengatakan, penelitian yang dilakukan puluhan tahun itu tak ada hasilnya.
Usai menyimak berita tersebut, saya merasa tergerak untuk menyampaikan beberapa pokok pikiran berdasarkan cacatan selama melakukan kegiatan peliputan di Situs Liang Bua pada tahun 2012.
Sebelum lebih jauh saya menanggapi pendapat Fidelis Randut yang termuat pada berita tersebut, mari kita simak gambaran sepintas tentang Situs Liang Bua.
Liang Bua adalah sebuah gua kuno yang menjadi tempat tinggal manusia purba yang hidup pada 94.000 tahun silam. Gua itu merupakan cekungan berukuran besar, dengan mulut selebar lebih dari 15 meter dan kedalaman sekitar 7 meter. Langit-langit berupa batu dengan ujung menggelantung.
Situs Liang Bua terletak di Desa Liang Bua, Kecamatan Rahong Utara, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Gua ini terlihat bersih dan bekas-bekas galian fosil masih terlihat.
Menurut Lorens Hena, salah seorang yang dipekerjakan para ahli arkeologi asal Museum Arkeologi Nasional dan para ahli arkeologi asal Australia pada penggalian situs tersebut, bahwa tempat tersebut merupakan tempat tinggal nenek moyang manusia Flores zaman dulu.
Hemat saya, mencurigai tujuan penggalian Situs Liang Bua untuk penelitian dan sampai menilai bahwa penelitian tersebut tidak ada hasilnya adalah tidaklah berdasar.
Apalagi, tim penggalian situs purbakala di bawah pimpinan ilmuwan Australia dan Indonesia telah menemukan sisa-sisa kerangka delapan manusia dengan ukuran tubuh agak pendek dan volume otak kecil di dalam gua Liang Bua. Fosil-fosil tersebut kemudian diberi nama Homo Floresiensis (Manusia Flores), yang diambil dari nama pulau tempat ditemukannya fosil tersebut.
Salah satu kerangka yang diperkirakan seorang perempuan berusia 30-an tahun dan meninggal sekitar 18.000 tahun lalu, tingginya hanya 1 meter. Volume otak wanita itu hanya 380 cc. Informasi ini penting, sebab ukuran otak tersebut boleh dikatakan kecil, bahkan untuk seekor simpanse sekalipun.
Penyelidikan atas penemuan itu, yang diperkirakan berlaku paling tidak bagi 8 kerangka tersebut, menunjukkan bahwa Homo Floresiensis hidup di dalam gua ini antara 95.000 dan 12.000 tahun yang lalu.
Pendapat bersama dari para ilmuwan yang meneliti perkakas dan tulang-belulang hewan yang berhasil ditemukan dalam penggalian di dalam gua tersebut adalah bahwa individu-individu Homo Floresiensis memperlihatkan perilaku kompleks yang memerlukan kemampuan berbicara, dengan kata lain mereka adalah manusia cerdas yang hidup bermasyarakat dan memiliki keterampilan (kemampuan berkarya).
Batu-batu yang dipahat dan diasah tajam untuk keperluan tertentu ditemukan di dalam gua itu, dan keberadaan kerangka hewan memperlihatkan bahwa mereka adalah para pemburu yang berhasil, yang mampu menangkap binatang-binatang yang lebih besar dari tubuh mereka sendiri.
Penggalian lanjutan di Situs Liang Bua pada tahun 2012 yang lalu dilakukan dalam rangka menemukan kedelapan temuan yang terfragmentaris itu. Hal ini juga dilakukan untuk menjawab keraguan dari sejumlah pihak yang menyebutkan bahwa Homo Floresiensis adalah spesies manusia modern atau Homo Sapiens yang kerdil.
Jatmiko, seorang peneliti dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional di sela-sela kegiatan penelitian di Liang Bua ketika itu mengakui bahwa ada pendapat yang mengatakan Homo Floresiensis adalah manusia kerdil yang masuk dalam spesies Homo Sapiens atau manusia modern. Karena itu, pihaknya melakukan penelitian lanjutan untuk menjawab semua keraguan itu.
Tim penggalian tahun 2012 itu terdiri dari Thomas Sutikno, Jatmiko, Sri Warsito, Rokus Awe Due dari Puslit Arkenas, Matthew Tocheri, Mike Morwood. Dan tim peneliti ini dibantu oleh 41 orang lokal terlatih yang sudah bergabung dalam tim penggalian di Liang Bua sejak tahun 1979.
Terkait punahnya spesies Homo Floresiensis, Jatmiko menjelaskan pihaknya juga sedang meneliti tentang penyebab punahnya spesies ini. “Ada dugaan sementara punahnya spesies ini akibat letusan gunung berapi yang sangat dahsyat terjadi pada sekitar 13.000 tahun yang lalu.
Diduga, letusan Gunung Tambora, atau Gunung Berapi yang kini menjadi Danau Toba ataukah Gunung Berapi di Flores yang kini menjadi Danau Rana Mese,” terang Jatmiko. Dikatakannya, dugaan itu didasarkan atas struktur lapisan tanah vulkanik setebal 80 cm yang ditemukan berada tepat diatas kerangka tulang Homo Floresiensis ditemukan.
Salah seorang tim local penggailian Liang Bua 2012, Hendrikus Bandar (72) yang bertugas sebagai seorang pencatat tanah yang sudah ditimbang mengatakan bahwa dirinya telah bergabung dalam tim ini sejak tahun 1979. “Tim penggalian menggunakan tenaga warga sekitar Liang Bua yang terlatih sejak tahun 1979,” ujarnya.
Masyarakat setempat meyakini manusia purba itu berukuran pendek, setinggi 80 cm-100 cm. Penampilan mendekati bentuk monyet, tetapi sudah punya kemampuan berburu. Mereka makan binatang, seperti tikus atau kelelawar.
Lorens Hena termasuk salah satu warga yang diajak para peneliti arkeologi untuk menggali fosil manusia purba di dalam goa tersebut sejak awal tahun 2000-an.
Menurut Hena, sebelum digali untuk penelitian, gua besar ini pernah dipakai untuk tempat sekolah, yaitu mulai tahun 1960-an sampai 1970-an. Sekolah Rakyat, tempat anak-anak kampung belajar. Kadang, gua ini dipakai untuk upacara adat dan persembahan sesaji untuk leluhur.
Untuk diketahui bahwa Homo Floresiensis atau “Manusia Purba dari Flores”, dijuluki “hobbit” dan “llo” adalah spesies yang kini sudah punah, dalam genus Homo. Sisa-sisa fosilnya ditemukan pada tahun 2003 di Liang Bua, Manggarai. Kerangka parsial dari sembilan orang telah ditemukan, termasuk satu tengkorak lengkap. Bekas-bekas inilah yang menjadi subyek penelitian intensif untuk menentukan apakah mereka merupakan spesies yang berbeda dari manusia modern, dan kemajuan ini menimbulkan kontroversi ilmiah.
Hominin ini adalah luar biasa bagi tubuh yang kecil dan otak dan untuk bertahan hidup sampai waktu yang relatif baru pada sekitar 18.000 hingga 13.000 tahun yang lalu. Dipulihkan bersama sisa-sisa kerangka adalah alat-alat batu dari wawasan arkeologi mulai dari 94.000 sampai 13.000 tahun yang lalu.
Dua penelitian ortopedi diterbitkan pada tahun 2007 keduanya melaporkan bukti yang mendukung status spesies untuk Homo Floresiensis. Sebuah studi dari tiga token dari karpal (pergelangan tangan) tulang menyimpulkan ada kesamaan dengan tulang-tulang karpal dari seekor simpanse atau hominin awal seperti Australopithecus dan juga perbedaan dari tulang manusia modern. Sebuah studi tentang tulang dan sendi pada lengan, bahu, dan anggota tubuh bagian bawah juga menyimpulkan bahwa Homo Floresiensis lebih mirip dengan manusia purba dan kera daripada manusia modern.
Pada tahun 2009, penerbitan analisis cladistic dan studi pengukuran tubuh komparatif  memberikan dukungan lebih lanjut untuk hipotesis bahwa Homo Floresiensis dan Homo Sapiens adalah spesies terpisah.
Untuk menjawab keraguan sejumlah warga seperti Fidelis Randut, saya sarankan Pemerintah Kabupaten Manggarai perlu membuat Museum Sejarah dan Budaya Manggarai yang juga turut memajang duplikat tulang belulang Homo Floresiensis agar warga mudah memperoleh informasi yang tepat.
Penulis berasal dari Ruteng, sekarang bekerja di Yayasan Senyum Bali. Ia juga masih aktif menulis di beberapa media.





GEREJA DAN ADAT


Adat dan Gereja bersinggungan pada manusia dan alam. 

Adat dan gereja melayani manusia. Manusia membutuhkan lingkungan yang baik supaya hidup baik.  Ketika  adat dan gereja peduli lingkungan, berarti peduli manusia, sebaliknya, ketika adat dan gereja peduli manusia berarti peduli lingkungan.

 

 

Inilah Alasan Keuskupan Ruteng Desak Pencabutan IUP

840

Aksi tolak tambang para imam di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Senin (13/10/2014)

Aksi tolak tambang para imam di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Senin (13/10/2014)
Aksi tolak tambang para imam di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Senin (13/10/2014)

Floresa.co – Keuskupan Ruteng-Flores, Nusa Tenggara Timur menggelar aksi unjuk rasa menolak kehadiran tambang pada hari Senin (13/10/2014).
Aksi ini yang digelar secara simulatn di tiga tempat, yakni di Ruteng, Labuan Bajo dan Borong, ibukota masing-masing kabupaten Manggarai, Manggarai Barat dan Manggarai Timur diikuti ratusan pastor dan ribuan umat.
Keuskupan Ruteng memang sudah secara tegas menyatakan sikap menolak tambang dalam Sinode yang digelar di Ruteng, September lalu.
Dalam dokumen hasil Sinode, mereka menyatakan secara tegas alasan mereka menolak kehadiran tambang. Hal itu dikatakan, sebagai hasil dari “refleksi kritis dan diskusi mendalam dalam terang Iman Katolik”.
Bagi Keuskupan Ruteng, tidak ada sikap lain, selain menuntut agar para bupati mencabut semua Izin Usaha Pertambangan (IUP)
Berikut merupakan dokumen lengkap hasil sinode yang sudah diunggah di situs milik Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), mirifica.net.
Setelah melakukan refleksi kritis dan diskusi mendalam dalam terang Iman Katolik tentang persoalan tambang mineral dan dampak destruktifnya di Manggarai Raya, Kami, Uskup, Para Pastor, Suster, Bruder, Pimpinan Lembaga Pendidikan dan Bapak/ibu awam peserta Sinode III yang mewakili umat Keuskupan Ruteng, pada hari ini, Kamis, 25 September 2014, mengungkapkan solidaritas yang  sangat mendalam  dengan para korban tambang. Sekaligus kami menuntut pencabutan semua izin usaha pertambangan mineral yang diterbitkan Pemerintah daerah di seluruh wilayah Keuskupan Ruteng yang mencakup tiga wilayah administratif pemerintahan, yakni Kabupaten Manggarai, Kabupaten Manggarai Barat dan Kabupaten Manggarai Timur.
Dasar Tuntutan
Pertambangan mineral (mangan, emas, pasir besi, batu bara, dll) mengakibatkan kerusakan ekologis yang sangat masif dan radikal. Entah model terbuka atau tertutup, kegiatan pertambangan merusak ekosistem kehidupan. Bukan hanya tanah, hutan dan sumber-sumber air yang dihancurkan oleh pertambangan mineral tetapi juga kestabilan iklim yang menjamin kehidupan manusia dan eksistensi planet bumi. Pelepasan masif karbon ke udara akibat kegiatan tambang merupakan pemicu perubahan iklim serta pemanasan global dewasa ini.
Dengan demikian dampak pertambangan mineral tidak hanya merusak alam lingkungan tetapi juga kehidupan manusia. Pencemaran tanah, air, udara oleh zat-zat beracun akibat kegiatan pertambangan menimbulkan pertama-tama bahaya kerusakan kesehatan manusia khususnya para pekerja maupun warga sekitar lingkar tambang berupa  penyakit kulit, pernafasan (ISPA), dan pencernaan. Penyakit-penyakit ini selanjutnya mengakibatkan kerusakan fungsi alat-alat vital tubuh seperti paru-paru, jantung dan hati.
Lebih dari itu kegiatan pertambangan mengakibatkan proses pemiskinan dan pemelaratan yang sistematis dan masif bagi masyarakat. Wilayah isin usaha  pertambangan yang meliputi puluhan ribu hektar ternyata  mencakup juga wilayah sumber mata air, wilayah hutan, perkebunan, pertanian serta pusat pemukiman masyarakat. Hal Ini mencaplok sumber-sumber kehidupan orang banyak dan generasi selanjutnya. Maka yang terjadi perusakan kehidupan ekonomi masyarakat. Argumen Pemerintah tentang peningkatan kesejahteraan masyarakat oleh usaha pertambangan juga tidak terbukti. Pertambangan ternyata tidak membawa dampak ekonomis yang sangat signifikan baik bagi masyarakat setempat maupun terhadap struktur APBD Pemerintah Daerah. Sebaliknya keuntungan kecil dari kegiatan pertambangan tidak sebanding dengan biaya yang dibutuhkan untuk memperbaiki atau recoverylingkungan hidup yang rusak. Uang sebanyak apapun tidak mampu memulihkan kembali tanah, lembah, dan bukit yang telah dirusakkan oleh usaha pertambangan.
Yang paling merisaukan akhir-akhir ini adalah konflik sosial yang diakibatkan oleh pertambangan. Masyarakat lingkar tambang dipecahbelahkan antara yang pro dan kontra terhadap kehadiran perusahan tambang. Hal ini membawa konflik horizontal dan rusaknya keharmonisan, persaudaraan, persatuan dan perdamaian baik dikampung-kampung atau komunitas adat di daerah lingkaran tambang maupun dalam skala yang lebih luas antara warga (umat) di desa, kecamatan atau seluruh wilayah Manggarai Raya.
Selain itu kegiatan pertambangan juga merusak budaya. Tanah adat atau lingko adalah unsur penting dalam budaya Manggarai sebagaimana terlihat dalam ungkapan gendang one, lingkon pe’ang (rumah adat didalam, lingko di luar). Rumah adat/kampung dan tanah adat/lingko adalah unsur dwitunggal yang hakiki dalam budaya Manggarai; kehilanggan salah satunya adalah kepincangan budaya dan kehidupan masyarakat Manggarai. Perusahan tambang sering berdalih bahwa mereka telah membangun rumah adat (Mbaru Gendang/Mbaru Tembong), anehnya pada saat yang sama mereka merusak lingko, padahal gendang tanpa lingko tak bermakna.
Secara iuridis kegiatan pertambangan yang dilakukan diatas tanah masyarakat wajib hukumnya untuk mendapat izin penggunaan hak atas tanah dari pemiliknya. UU Pertambangan Minerba No.4 Tahun 2009, Pasal 136 dengan tegas menyebutkan bahwa   izin usaha pertambangan bukan bukti izin penguasaan hak atas tanah. Pemegang izin kuasa pertambangan sebelum melakukan kegiatan pertambangan wajib mendapat persetujuan dari masyrakat sebagai pemilik hak tas tanah tersebut.  De facto, pemerintah daerah dan perusahan-perusahan tambang telah melakukan upaya-upaya manipulatif  untuk mendapat izin masyarakat dengan cara membuat tanda tangan palsu, rekayasa tokoh adat, melibatkan masyarakat adat lain untuk membuat pernyataan dukungan.
Investasi kegiatan pertambangan selalu melibatkan aparat keamanan baik Polri maupun TNI untuk menjaga keamanan tetapi juga menjadi alat penindas investor terhadap masyarakat. Beberapa kenyataan sudah membuktikan bahwa banyak masyarakat yang mengalami penindasan fisik dan penindasan mental melalui kriminalisasi hak-hak dasar masyarakat. Kasus Tumbak, Sabtu 13 September 2014 bukan hanya menjadi tragedi ekologis tetapi juga tragedi kemanusiaan. Pater Simon Suban, SVD dan masyarakat mengalami perlakuan kasar yang dilakukan secara teroganisir oleh pihak perusahan dan aparat keamanan. Selain itu, aparat pemerintah (Bupati, Dinas, Camat, Kepala Desa) juga turut membela perusahaan tambang dan dengan cara memanipulasi dan mengintimidasi  masyarakat lingkar tambang. Yang terjadi adalah kolaborasi mutualistis tetapi membahayakan antara investor tambang, aparat pemerintah dan aparat keamanan dalam menindas dan mengeksploitasi warga.
Panggilan dan Kewajiban Iman Katolik
Gereja Katolik memahami lingkungan hidup sebagai hal tak terpisahkan dari kehidupan beriman. Allah telah menciptakan alam semesta baik adanya (Kej 1). Karena itu perusakan terhadap lingkungan hidup merupakan tindakan yang melawan sang Pencipta. Iman Katolik menuntut seluruh warga Gereja untuk memperjuangkan keutuhan ciptaan (integritas) dan melestarikan lingkungan hidup.
Lebih dari itu iman Katolik mengakui peran kunci Yesus Kristus dalam tata penciptaan. Sebab “segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan” (Yoh 1:3; bdk. 1 Kor 8:6). Kristus adalah sumber segala sesuatu dan pemersatu dari segala sesuatu yang diciptakan oleh BapaNya. Dia adalah “yang sulung dari segala yang diciptkana. Karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu” (Kol 1:15-16). Maka perjuangan menegakan keutuhan dan kelestarian lingkungan hidup dan penolakan terhadap pertambangan mineral berakar dalam panggilan dan tuntutan iman Katolik yang ingin menemukan wajah Kristus dalam keharmonisan, keindahan dan kelestarian ciptaan.
Oleh sebab itu perjuangan untuk menolak pertambangan mineral bukan sekedar perjuangan ekologis dan sosial tetapi juga perjuangan yang bersumber dari panggilan dan tuntutan iman Katolik. Perjuangan ini mengalir dari komitmen untuk meneledani dan berpartisipasi dalam pelayanan Yesus, sang Nabi dan Pembebas, yang memperhatikan dan menolong orang-orang miskin dan korban-korban penindasan sosial serta yang mengkritik situasi ketidakadilan sosial akibat hilangnya kesetaraan dan keadilan dalam akses terhadap sumber-sumber alam yang disediakan oleh bumi, Ibu Pertiwi. Gereja Katollik dipanggil dan dituntut untuk memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan, keadilan dan kesejahteraan umum dan integritas ciptaan (bdk. GS 27; CA 37)
Tuntutan-tuntutan
Bertolak dari hal-hal di atas, maka kami, peserta Sinode yang mewakili seluruh umat Keuskupan Ruteng menuntut kepada:
  1. Bapak Bupati Manggarai Timur, Bapak Bupati Manggarai, dan Bapak Bupati Manggarai Barat pimpinan wilayah administratip Pemerintahan yang ada di wilayah Keuskupan Ruteng untuk mencabut segera izin tambangyang telah diberikan, membatalkan  pemberian izin tambang yang masih dalam proses dan selanjutnya tidak mengeluarkan Izin Usaha Pertambangan (IUP) baru. Peraturan harus melindungi masyarakat dan menjamin hak-haknya. Peraturan adalah untuk manusia dan bukan sebaliknya manusia untuk peraturan. Karena itu peraturan yang menindas manusia dan merusak hak dan martabatnya harus dikoreksi atau bahkan dicabut.
  2. Seluruh aparat pemerintah dari Kabupaten, Kecamatan sampai Desa di seluruh Wilayah Administratif Pemerintahan yang ada di wilayah Keuskupan Ruteng untuk mengayomi dan melindungi masyarakat, terutama masyarakat lingkar tambang dan menjamin hak-hak dan martabat Kami mengecam keras dan melawan semua tindakan aparat Pemerintah yang memanipulasi, mengintimidasi dan mengancam masyarakat.
  3. Para anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Manggarai Timur, Manggarai dan Manggarai Barat serta para anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) NTT serta para anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) maupun DPD Dapil NTT untuk melakukan fungsi kontrolnya dan legislasinya dengan mengawasi dan meminta pertanggungjawaban Pemerintah Daerah di tiga kabupaten dalam wilayah Keuskupan Ruteng berkaitan dengan aktivitas pertambangan di wilayahnya masing-masing serta membuat peraturan daerah yang membebaskan wilayah Manggarai Raya dan NTT pada umumnya dari investasi pertambangan mineral.
  4. Aparat keamanan dalam hal ini Polri dan TNI di seluruh Wilayah Administratif Pemerintahan yang ada di wilayah Keuskupan Ruteng untuk mewujudkan fungsi penjamin keamanan, kenyamanan dan kedamaian bagi seluruh warga masyarakat serta tidak memihak investor tambang apalagi memprovokasi pihak manapun dalam konflik pertambangan dan lingkungan hidup.
  5. Lembaga-lembaga peradilan yang menanggani perkara yang berkaitan dengan pertambangan untuk menegakkan keadilan dan kepastian hokum, menjamin perlindungan hukum terhadap hak-hak dasar masyarakat dan mengutamakan keutuhan ciptaan dan keadilan bagi warga.
  6. Seluruh umat Katolik Keuskupan Ruteng di tiga wilayah Kabupaten Manggarai Raya untuk terlibat aktif, konstruktif dan berkelanjutan dalam gerakan bersama tolak tambang melalui doa, katekese, publikasi dan penyadaran sosial kritis serta demonstrasi damai sampai seluruh ijin pertambangan di Manggarai Raya dicabut.

Ruteng, 25 September 2014
Dalam persaudaraan Sinodal,
Uskup Ruteng
Mgr. Hubertus  Leteng

PAKI KABA BAKOK SEBAGAI WUJUD SYUKUR

http://www.floresa.co/2015/08/23/acara-baro-bola-ema-cebo-wujud-syukur-di-kampung-sampar/

Acara ‘Baro Bola Ema Cebo’, Wujud Syukur di Kampung Sampar

303

Acara penyembelian kerbau, bagian dari rangkaian upacara adat Baro Bola Ema Cebo (Foto: Dinan/ARL/Floresa)
Acara penyembelian kerbau, bagian dari rangkaian upacara adat Baro Bola Ema Cebo (Foto: Dinan/ARL/Floresa)

Floresa.co – Ada banyak alasan untuk bersyukur dalam hidup. Selain misalnya karena mendapat harta berlimpah, umur panjang, juga bisa karena banyaknya ketururunan.
Perihal banyaknya keturuan itu menjadi alasan bagi keluarga keturuan Petrus Nembok, yang populer disebut Ema Cebo di Kampung Sampar, Desa Pong Lale, Kecamatan Ruteng merayakan syukur pada 14-18 Agustus lalu.
Mereka menggelar acara yang disebut Baro Bola Ema Cebo. Pada perayaan adat itu, keturuanan Ema Cebo  mempersembakan kerbau putih. Ini merupakan wujud terima kasih kepada Tuhan atas terkabulnya permohonan Ema Cebo dahulu kala, yaitu agar keturanannya beka agu buar (berkembang biak).
Menurut Romo Karolus Jande Pr, putra bungsu Ema Cebo, dahulu saat masih hidup, ayahnya itu berjanji kepada anak-anaknya bahwa ia akan mempersembahkan acara syukur jika doanya dikabulkan oleh Tuhan.
Mori, eme beka agu buar kilog, kaba laing laku tai, demikian janji Ema Cebo, yang berarti, Tuhan jika  keluargaku berkembang biak, nanti saya mempersembahkan kerbau.
Ema Cebo mempunyai sepuluh orang anak yang terdiri dari lima laki-laki dan lima perempuan.
Keluarganya berkembang pesat menjadi hampir lima puluh orang cucu dan cece. Salah satu cucunya adalah Romo Charles Suwendi Pr yang kini bertugas sebagai Pastor Paroki Timung, Kecamatan Wae Ri’i.
Kesepuluh anak Ema Cebo menyadari bahwa keturunan yang banyak jumlahnya itu adalah bukti terkabulnya Bola de Ema Cebo.
Menurut Romo Karolus, ayahnya itu yang meninggal pada tahun 1990 merupakan perintis Kampung Sampar. Ia juga ditugaskan oleh Gelarang Ndung dan Dalu Rahong serta Raja Manggarai sebagai penjaga perbatasan wilayah kedaulatan.
Rangkaian acara adat Baro Bola Ema Cebo diawali dengan acara adat tura ndekok (pengakuan dosa) di jalan raya pertigaan kampung Sampar (Ruas jalan Cancar Golo Welu), doa di pemakaman Ema Cebo, teing hang kolang (pemberian sesajian) di mbaru gendang (rumah adat) Sampar.
Hari kedua dilanjutkan acara pantek (acara adat menetapkan waktu penyembelian kerbau) dengan mempersembahkan seekor babi. Acara ini diikuti oleh warga keturunan Ema Cebo serta warga Kampung Sampar dan dari rumah adat lainnya.
Menyusul kemudian ritual adat barong boa Ema Cebo (acara adat di kuburan Ema Cabo), barong wae (acara di mata air warga Sampar) dan barong compang (acara di tugu adat).
Selanjutnya, acara adat kina we’e yang artinya seluruh keluarga ikut hadir dalam prosesi tersebut.
Setelah prosesi acara tersebut, mempersiapkan diri wa’u wa tana (turun ke tanah) saat mentari terbit, sembari mengumandangkan lagu adat mengiring acara persembahan kaba bakok, ela bakok dan ayam putih
Pada penyembelihan kerbau, juga ikut dipersembahkan satu ekor babi (ela laca) yang menunjukan rangkaian acara persembahan kerbau sudah selesai.
Sore harinya juga berlangsung acara adat congko laca dengan menyembeli ayam  jantan, untuk membersihkan sisa kotoran dan darah kerbau yang tersisa saat disembeli.
Setelah itu, di rumah adat berlangsung acara caca sélek, dengan menyembelih ayam putih sebagai tanda sẻluruh prosesi adat berakhir. (Dinan/ARL/Floresa)


Nb: Bola = nasar.