Kamis, 03 Maret 2016

SEJARAH SUKU SESO DI MANGGARAI TIMUR

http://travel.kompas.com/read/2016/01/20/092932427/.Ndetok.Nii.Ritual.Suku.Seso.di.Manggarai.Timur.Memberkati.Benih?utm_campaign=related&utm_medium=bp-kompas&utm_source=travel&

"Ndetok Nii", Ritual Suku Seso di Manggarai Timur Memberkati Benih

KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR Ritual 'Ndeto Nii' dari Suku Seso di Kampung Sambikoe, Kelurahan Watunggene, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, Flores, Nusa Tenggara Timur.
NDETOK Nii merupakan sebuah ritual tahunan yang dilaksanakan warga Suku Seso di Kampung Sambikoe, Kelurahan Watunggene, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, Flores, Nusa Tenggara Timur.

Ndetok Nii merupakan sebuah ritual memberkati benih jagung, padi sebelum ditanam ke ladang. Ritual ini adalah pemberkatan benih secara adat istiadat Suku Seso di Manggarai Timur. Kampung Sambikoe terletak di atas bukit yang dihuni oleh Suku Seso serta berbagai suku lainnya.

Pada November 2015 lalu, ritual ini dilakukan di Rumah adat Suku Seso di Kampung Sambikoe yang dilakukan oleh tua adat Suku Seso, Damianus Tarung bersama dengan adiknya Stefanus bersama dengan anak-anak mereka serta warga Suku Seso di kampung tersebut.

Ritual ini selalu dilaksanakan sebelum musim tanam pada Desember setiap tahun. Dan pelaksanaan ritualnya dilaksanakan akhir November. Seperti tahun 2015 lalu, memasuki masa tanam Desember, ritual ini kembali dilakukan. Sayangnya, Desember 2015 hujan yang dinanti belum turun.

Jumat, 13 November 2015 lalu, malam telah tiba. Para petani sudah kembali dari ladang masing-masing. Seharian mereka membersihkan rumput di ladang-ladang itu untuk persiapan menanam benih jagung dan padi. Ladang milik petani itu tak jauh dari kampung halamannya.

KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR Ritual pemberkatan benih oleh Suku Seso di Kampung Sambikoe, Kelurahan Watunggene, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, Flores, Nusa Tenggara Timur.
Tetua adat Suku Seso sebagai pemilik ulayat di sekitar itu sudah menginformasikan bahwa benih jagung dan padi tidak diperkenankan ditanam sebelum ritual Ndetok Nii dilaksanakan.

Malam itu berbeda dengan malam sebelumnya. Jumat malam itu sudah ditentukan oleh tetua adat Suku Seso, Damianus Tarung, bahwa dilaksanakan ritual Ndetok Nii di rumah adat.

Semua warga suku bergegas dari rumah masing-masing menuju ke rumah adat itu sambil membawa bekal-bekal yang disiapkan. Sebagian warga suku membawa kayu api, air minum, benih jagung, dan padi serta moke lokal.

Hidangkan Jojong Dao

Warga suku sudah berkumpul di rumah adat Sambil bercerita tentang kemarau panjang yang melanda wilayah itu. Panas tahun 2015 ini sangat panjang dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya.

Semua warga khawatir terhadap cuaca panas yang mengakibatkan rumput mati, debit mata air berkurang serta tanaman tidak bisa ditanam.

KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR Jojong Dao, makanan khas di Manggarai Timur, NTT, yang terbuat dari ubi kayu.
Ketika warga suku bercerita dan bersenda gurau, tuan rumah menghidangkan makanan khas Manggarai Timur. Makanan khas itu adalah Jojong Dao. Jojong Dao dimasak menggunakan Lewing Tana (periuk yang terbuat dari tanah liat).

Jojong Dao itu makanan yang diolah dari ubi kayu dicampur dengan "gola kolang" atau gula merah yang diambil dari pohon enau serta kelapa. Jojong dao adalah hidangan pembuka kepada tamu-tamu di rumah adat tersebut.

Kaum perempuan Suku Seso dan suku lainnya di wilayah Selatan dari Kabupaten Manggarai Timur masih melestarikan makanan khas tersebut.  Setelah hidangan itu selesai maka tetua adat Suku Seso mulai melaksanakan ritual tersebut.

Ritual Ndetok Nii

Sebelum ritual dilaksanakan, bahan-bahan yang disiapkan adalah benih jagung, benih padi, ayam jantan, beras. Semua bahan itu disimpan di dalam bakul.

KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR Ritual 'Ndeto Nii' dari Suku Seso di Kampung Sambikoe, Kelurahan Watunggene, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, Flores, Nusa Tenggara Timur.
Malam itu tua adat Suku Seso, Damianus Tarung, yang membacakan mantra adat untuk memberkati benih yang sudah simpan di dalam bakul sambil memegang ayam jantan.

Ritual ini dilaksanakan di Watu Nurung (tempat sesajian kepada leluhur) yang berada di sebuah tiang rumah di bagian dapur. Setelah diritualkan, ayam disembelih.

Lalu darah ayam dituangkan di Watu Nurung, benih padi dan benih jagung serta alat-alat yang diperlukan untuk menanam benih tersebut.

Selain itu, Lema Manuk (lidah ayam) dilihat oleh tetua adat tersebut. Ada tanda-tanda yang dapat dilihat di lidah ayam tersebut, apakah disetujui oleh leluhur dan alam.

Tua adat Suku Seso, Damianus Tarung kepada KompasTravel menjelaskan, ritual ini terus dilaksanakan setiap tahun sebelum musim tanam tiba.

Jika ritual ini tidak dilaksanakan maka tanaman yang ditanam tidak akan tumbuh. Walaupun sebagian tanaman ini tumbuh tetapi hasilnya tidak terlalu melimpah.

KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR Tua adat Suku Seso di Kampung Sambikoe, Kelurahan Watunggene, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, Flores, Nusa Tenggara Timur, melihat urat ayam dalam ritual 'Ndeto Nii'.
“Ritual ini merupakan warisan leluhur Suku Seso sebelum musim tanam. Ritual ini juga sebagai tanda menghargai benih padi, jagung dan lainnya. Sebab, tanaman ini memberikan kehidupan kepada manusia yang hidup wilayah ulayat Suku Seso,” jelasnya.

Asal usul Suku Seso

Dikisahkan secara turun temurun oleh leluhur, lanjut Damianus Tarung, leluhur suku ini berasal dari India. Leluhur berlayar dengan tiga perahu dari India dan berlabuh di Lengge Lapu (sekarang muara Waemokel). Dalam perahu itu ada besi, emas, pakaian, buah koli dan kenari.

Saat itu di daratan ada tuan tanah dari Suku Rombo yang tinggal di Kampung Nale dan sekitarnya. Dari atas bukit terlihat perahu di Lengge Lapu (sekarang Muara Waemokel).

Waktu itu, sambung Tarung, Ketua Suku Rombo, Ine Gegu (seorang perempuan) diundang ke Lengge Lapu. Ia datang ke Lengge Lapu dan bertanya untuk apa? Lalu leluhur dari India itu menjawabnya kami mencari tanah.

KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR Tua adat Suku Seso di Kampung Sambikoe, Kelurahan Watunggene, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, Flores, Nusa Tenggara Timur, melihat lidah ayam dalam ritual 'Ndeto Nii'.
Lalu sesudah itu dilakukan perjanjian dengan menukarkan barang dan tanah. Untuk batas tanah di pinggir laut diukur dengan kaki belakang (tumit) sampai matahari terbenam.

Lalu untuk batas tanah daratan dilaksanakan pada sore hari sampai matahari terbit sambil membacakan syair  "Lele Jeje  Rombo Lale, Sele Seso Ndia Mai". Cara mengukurnya dengan tumit, kaki bagian belakang. Jadi batas dengan Suku Sulit di Watu Mbelar.

Sedangkan perbatasan timur barat dengan menggunakan seekor anjing. Ekor anjing diisi dengan abu dapur dengan sumpat adat. Hasilnya batas barat hak ulayat Suku Seso adalah di Tiwu Ngina di Kampung Kala Bumbu sedangkan batas timurnya di Leko Ranggo.
Penulis : Kontributor Manggarai, Markus Makur
Editor : I Made Asdhiana

Tidak ada komentar:

Posting Komentar