Kamis, 03 Maret 2016

TARIAN MANGGARAI - versi media


 

Umbiro, Tradisi Kampung Rajong Koe di Flores Menghormati Alam

http://travel.kompas.com/read/2017/08/09/091500627/umbiro-tradisi-kampung-rajong-koe-di-flores-menghormati-alam
Kontributor Manggarai, Markus Makur
Kompas.com - 09/08/2017, 09:15 WIB
Dua penari dari Sekolah Dasar Inpres Nunur, Desa Mbengan, Kecamata Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, Selasa (1/8/2017) menyiapkan tali untuk tarian Umbiro.
Dua penari dari Sekolah Dasar Inpres Nunur, Desa Mbengan, Kecamata Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, Selasa (1/8/2017) menyiapkan tali untuk tarian Umbiro. (KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR)
KOMPAS.com - Dingin dan kabut menyelimuti kemah di lapangan sepak bola Sekolah Dasar Katolik Waekekik, Desa Ranakolong, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, Flores, Nusa Tenggara Timur.
Selasa (1/8/2017), Sekolah Dasar Katolik Waekekik merayakan pesta yang ke-54 tahun. Saat suasana hening yang diselimuti dingin dan kabut, tiba-tiba dikejutkan dengan munculnya penari dari Sekolah Dasar Inpres Nunur, Desa Mbengan dari berbagai sudut panggung di tempat syukuran tersebut.
(BACA: Menari Ndundu Ndake Bersama Perempuan Flores)
Penari yang membawakan ritual Umbiro adalah siswa dan siswi Sekolah Dasar Inpres Nunur. Untuk atraksi Umbiro memerlukan 30 orang penari yang terdiri dari laki-laki dan perempuan.
Secara perlahan-lahan dengan hentakan kaki di tanah dipadukan dengan kain selendang memberikan suasana gembira kepada ribuan penonton yang memadati kemah syukuran pesta emas sekolah tersebut.
(BACA: Jangan Ditiru! Kelakuan Turis Menginjak Cagar Budaya di Yogyakarta)
Iringan gong dan gendang serta lagu-lagu khas Manggarai Timur memberikan nuansa berbeda yang dibawakan oleh siswa dan siswi kelas tiga, empat dan lima.
Hiburan yang dibawakan penari dengan meritualkan Umbiro membangkitkan ingatan tetua adat di Desa Ranakolong dan Desa Mbengan terhadap tradisi Umbiro yang diwariskan leluhur di dua desa tersebut.
Penari mementaskan tarian Raga Sae mengantar tamu dalam berbagai ritual adat di Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur. Penari memegang sebuah tongkat di tangan sambil menari, Selasa (1/8/2017).
Penari mementaskan tarian Raga Sae mengantar tamu dalam berbagai ritual adat di Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur. Penari memegang sebuah tongkat di tangan sambil menari, Selasa (1/8/2017).(KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR)
Para tetua adat yang menyaksikan ritual itu yang dibawakan dalam bentuk seni drama dan tari oleh siswa dan siswi Sekolah Dasar Inpres Nunur mengingatkan mereka akan kearifan dan kebijaksanaan yang diwariskan leluhur di ladang dan kebun komunal.Orang Manggarai Timur sangat menghargai dan menghormati padi sebagai ibu bumi. Sebanyak 90 persen orang Manggarai Timur berprofesi sebagai petani, baik petani ladang maupun sawah.
Mereka membersihkan lahan di ladang untuk menanam padi didahului berbagai ritual adat yang menghormati tanah.
Orang Manggarai Timur sangat menyatu dengan alam. Segala sesuatu yang berhubungan dengan menanam berbagai jenis holtikultura selalu didahului oleh ritual adat yang menghormati alam semesta dan Tuhan Maha Pencipta.
Ada ritual Weri Mata Nii (berkat benih padi) yang diritualkan dengan darah ayam. Ada juga ritual Pasok Mata Nii (tanam benih padi dan jagung yang sudah diberkati secara adat). Ada ritual Raut Kalang (bersih rumput di sela-sela padi).
Selanjutnya ada ritual Umbiro yang dilaksanakan di pinggir ladang ketika padi mulai berisi. Ritual ini selalu dibawakan oleh para petani di Manggarai Timur, khususnya di wilayah selatan di antaranya Desa Mbengan, Desa Ranakolong, Desa Gunung, Desa Gunung Baru serta 22 desa lainnya.
Penari mementaskan tarian Raga Sae mengantar tamu dalam berbagai ritual adat di Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur. Penari memegang sebuah tongkat di tangan sambil menari, Selasa (1/8/2017).
Penari mementaskan tarian Raga Sae mengantar tamu dalam berbagai ritual adat di Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur. Penari memegang sebuah tongkat di tangan sambil menari, Selasa (1/8/2017).(KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR)
Ritual Umbiro adalah ritual meminta kepada alam semesta agar buah padi panjang dan bulirnya melimpah. "Umbi" adalah tarik dan "Ro" adalah nama sebuah tali yang hidup dan tumbuh di hutan.Ritual ini seperti tarik tambang adat. Uniknya, yang melakukan Umbiro adalah kaum perempuan melawan kaum laki-laki dengan berpakaian adat songke, selendang dan destar di kepala serta Bali Belo.
Saat meritualkan Umbiro diiringi lagu-lagu yang berhubungan dengan padi. Meminta alam semesta, leluhur dan Tuhan Maha Pencipta untuk memberikan hasil yang berlimpah dan menjaga padi dari gangguan roh-roh halus.
Umbiro juga adu kemampuan antara kaum perempuan dengan laki-laki. Sebelum dilaksanakan ritual itu di pinggir ladang, terlebih dahulu dipersembahkan sesajian kepada alam, leluhur dan Tuhan Maha Pencipta dengan benda ayam, babi dan kambing serta benda-benda lainnya.
Ritual adat orang Manggarai Timur selalu berhubungan dengan alam semesta, padi, jagung, serta berbagai umbi-umbian.
Ritual ini secara alamiah dibuat leluhur orang Manggarai Timur karena pada zaman dahulu alam selalu dekat dengan manusia dan segala sesuatu berhubungan dengan alam semesta.
Siswa dan siswi Sekolah Dasar Inpres Nunur, Desa Mbengan, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, Flores, NTT, Selasa (1/8/2017) menari Umbiro sebelum puncak tradisi Umbiro dengan menarik tali.
Siswa dan siswi Sekolah Dasar Inpres Nunur, Desa Mbengan, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, Flores, NTT, Selasa (1/8/2017) menari Umbiro sebelum puncak tradisi Umbiro dengan menarik tali. (KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR)
Lalu tradisi ini diwariskan kepada anak-anak dan generasi berikutnya sampai di zaman teknologi pertanian yang sangat canggih.Kepala Suku Ndolu di Desa Ranakolong, Thomas Jala kepada KompasTravel, Selasa (1/8/2017) menjelaskan, tradisi Umbiro selalu diritualkan di ladang-ladang komunal secara bersama-sama.
Maksud dari tradisi ini adalah meminta alam semesta, tanah, leluhur dan Tuhan agar buah padi panjang dan bulir-bulirnya padat dan berlimpah. Ritual ini selalu dilaksanakan di ladang-ladang masyarakat.
"Segala sesuatu yang kami lakukan selalu berhubungan ritual-ritual adat, baik dengan alam semesta maupun manusia. Kami orang adat yang selalu menghargai tradisi dan ritual-ritual yang diwariskan leluhur. Yang lebih mendalam dari berbagai ritual adat adalah ritual menghormati padi, jagung dan berbagai jenis umbi-umbian. Ada juga ritual menghormati sumber mata air yang disebut Karong Wae (ritual menghormati sumber mata air),” katanya.
              
Thomas mengaku bangga bahwa ritual-ritual yang berhubungan dengan padi, jagung dibuat dalam bentuk tari-tarian yang dikembangkan oleh pelajar dan guru di Sekolah Dasar Inpres Nunur, SDK Waekekik, SDI Messi dan Sekolah Menengah Atas Negeri II Kota Komba.
Berbagai ritual itu dipentaskan dalam berbagai festival budaya di tingkat kabupaten bahkan dipentaskan dalam gala dinner lomba balap sepeda internasional.
"Saya dengar bahwa tradisi Umbiro sudah terkenal di Belgia, bahkan baru-baru ini tari-tarian itu dipentaskan kepada pebalap sepeda internasional yang datang dari berbagai negara di dunia ini," katanya.
Tua-tua adat dari Kampung Rajong Koe, Desa Mbengan, Kecamatan Kota Komba, Manggarai Timur, Flores, NTT, Selasa (1/8/2017) menabuh gendang dan gong untuk mengiringi para penari Umbiro.
Tua-tua adat dari Kampung Rajong Koe, Desa Mbengan, Kecamatan Kota Komba, Manggarai Timur, Flores, NTT, Selasa (1/8/2017) menabuh gendang dan gong untuk mengiringi para penari Umbiro. (KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR)
Instruktur sekaligus Guru SDI Nunur, Binsensius Joman menjelaskan, saat merayakan pesta emas SDK Waekekik, Selasa (1/8/2017), sebanyak 30 siswa dan siswi sekolah dasar mementaskan tarian Umbiro.Bahkan, saat gala dinner Tour de Flores di Pantai Muara Borong dipentaskan tarian ini. Tradisi ini berhubungan dengan menghormati padi dan jagung serta umbi-umbian.
Menurut Joman tradisi Umbiro adalah tradisi yang dilaksanakan di pinggir ladang saat padi mulai berbunga dan biasanya dilaksanakan pada bulan Maret.
"Ada sepuluh nyanyian dibawakan di antaranya Mai taung, Sai Ndereng, Api sili, Kepe Le, totok ametong, lowing, suku wela suwuk, ole nara ge, Beteng Jerek, O rure, dan Kole Ge," katanya.
Dua syair dari sepuluh syair lagu, lanjut Joman, adalah "Kepe Le Kepe Le, Le Mori Mori Mese, tadu Lau Lau Woja Galung" artinya alam dan leluhur jaga ladang serta Tuhan Maha Pencipta memberkati padi agar berbuah melimpah.
Berikutnya "O Rue Le Mai Wela Tete, Ndo Kaka Ndewe Radi Teku Lewe" artinya semoga semua tanaman di ladang seperti padi, ubi tatas, jagung bertumbuh subur dan tidak diganggu oleh berbagai jenis burung.
Pastor John Jonga, peraih Yap Thiam Hien Award 2009 asal Kampung Nunur, Desa Mbengan saat menghadiri Pesta emas SDK Waekekik mengaku bulu kuduknya merinding saat siswa dan siswi Sekolah Dasar Inpres Nunur dan SMAN II Kota Komba mementaskan tari-tarian yang berhubungan dengan pertanian.
Para penari mulai menarik tali sambil bernyanyi dalam tradisi Umbiro pada perayaan pesta ke-54 tahun Sekolah Dasar Katolik Waekekik, Desa Ranakolong, Kota Komba, Manggarai Timur, Flores, NTT, Selasa (1/8/2017).
Para penari mulai menarik tali sambil bernyanyi dalam tradisi Umbiro pada perayaan pesta ke-54 tahun Sekolah Dasar Katolik Waekekik, Desa Ranakolong, Kota Komba, Manggarai Timur, Flores, NTT, Selasa (1/8/2017). (KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR)
Tarian Umbiro dan Riik Kozu berhubungan dengan menghormati padi dan jagung serta umbi-umbian."Saya meneteskan air mata dan mengingat masa lalu ketika orangtua dan nenek moyang saya meritualkan tradisi-tradisi ini untuk menghormati padi, jagung dan umbi-umbian. Saya bangga dengan pelajar di Manggarai Timur yang mementaskan tarian ini. Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur harus mendukung dan mempertahankan ritual-ritual adat. Pemerintah harus mempromosikan keunikan-keunikan Manggarai Timur,” ungkapnya.
              
Jonga yang bertugas di Papua menjelaskan bahwa dirinya lahir dan dibesarkan dalam berbagai tradisi yang diwariskan leluhur dan orangtua untuk menghormati alam semesta dan Tuhan Maha Pencipta.
Pastor Daniel Ivan Darto Simamora, OFMCap kepada KompasTravel merasa bangga dan kagum dengan pementasan tarian Umbiro dan Riik Kozu yang dibawakan oleh siswa-siswi sekolah ini.
Ini membuktikan bahwa anak-anak masih menjaga dan mencintai budaya yang diwariskan leluhur orang Manggarai Timur, Flores.
“Orang Batak juga sangat menghargai budaya dan berbagai tari-tarian. Bahkan, segala aspek kehidupan orang Batak selalu berhubungan dengan adat istiadat dan ritual-ritual adat yang berhubungan dengan alam semesta,” katanya.
Para penari mulai menarik tali sambil bernyanyi dalam tradisi Umbiro pada perayaan pesta ke-54 tahun Sekolah Dasar Katolik Waekekik, Desa Ranakolong, Kota Komba, Manggarai Timur, Flores, NTT, Selasa (1/8/2017).
Para penari mulai menarik tali sambil bernyanyi dalam tradisi Umbiro pada perayaan pesta ke-54 tahun Sekolah Dasar Katolik Waekekik, Desa Ranakolong, Kota Komba, Manggarai Timur, Flores, NTT, Selasa (1/8/2017). (KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR)
Instruktur Seni Drama dan Tari Riik Kozu sekaligus Kepala Sekolah Menengah Atas Negeri II Kota Komba, Bernabas Ngapan menjelaskan, tradisi Umbiro selalu diritualkan oleh warga masyarakat di Desa Mbengan dan Desa Ranakolong, baik dilakukan secara bersama-sama maupun dilakukan oleh berbagai suku."Warga di Desa Mbengan dan Desa Ranakolong sangat menghormati padi dan jagung. Mulai masa tanam sampai masa panen selalu ada ritual yang berhubungan dengan padi. Saya ingat sewaktu kecil saat pergi ke ladang. Saat itu padi sedang mulai berisi. Sebelum masuk ladang, terlebih dahulu minta permisi kepada alam dan memasuki ladang dengan suasana tenang dan hening. Tidak boleh ribut. Tidak bersuara. Tidak boleh menyanyi. Betul-betul suasana hening dan tenang,” kenang Bernabas.

 

Sehari Menari Sanggu Alu dan Lipa Songke di Waemokel Flores

KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR Pelajar Sekolah Menengah Pertama Katolik Waemokel, Kelurahan Watunggene, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, Flores, Nusa Tenggara Timur, pentaskan atraksi Sanggu Alu, Selasa (9/2/2016).
LONCATAN kaki kanan pelajar Sekolah Menengah Pertama Katolik Waemokel, Kelurahan Watunggene, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, Flores, Nusa Tenggara Timur di celah-celah bambu kecil menandakan atraksi tarian Sanggu Alu dimulai.

Hentakan kecil bambu yang digerakkan oleh anggota penari laki-laki  mengajak penari perempuan untuk bersiap-siap meloncat di celah-celah bambu tersebut.

Satu per satu penari perempuan yang berpakaian kain songke dan kebaya berjingkrak-jingkrak di celah-celah bambu yang terus digerakkan oleh penari laki-laki.

Kelincahan sangat diperlukan dalam tarian Sanggu Alu. Jika tidak lincah, maka kaki kanan dari penari perempuan akan terbentur dengan bambu yang digerakkan oleh penari laki-laki.

Irama kaki yang sama membuat keindahan dan keunikan tarian Sanggu Alu menjadi daya tarik pelajar di dekolah menengah tersebut.

KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR Persiapan bambu untuk atraksi Sanggu Alu di Sekolah Menengah Pertama Katolik Waemokel, Kelurahan Watunggene, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, Flores, Nusa Tenggara Timur, Selasa (9/2/2016).
Bunyi gesekan bambu kecil yang dilakukan penari laki-laki dan dipadukan loncatan indah penari perempuan di celah-celah bambu itu memberikan daya tarik kepada penonton yang memadat Aula Sekolah Menengah Pertama Katolik Waemokel, Selasa (9/2/2016) lalu.

Pada hari itu dirayakan ulang tahun pelindung SMPK Waemokel, Santo Arnoldus Jansen dan ulang tahun sekolah yang ke-38 serta merayakan Natal 2015 dan Tahun Baru bersama di lembaga tersebut.

Tepuk tangan meriah dari penonton, yang adalah pelajar SMPK Waemokel lainnya memberikan semangat kepada penari Sanggu Alu untuk terus menari-nari di celah-celah bambu.

Tarian Sanggu Alu yang diwariskan leluhur di Kabupaten Manggarai Timur terus dilestarikan di Sekolah Menengah Pertama Katolik Waemokel.

KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR Tarian Sanggu Alu dipentaskan pelajar Sekolah Menengah Pertama Katolik Waemokel, Kelurahan Watunggene, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, Flores, Nusa Tenggara Timur, Selasa (9/2/2016).
Satu-satunya sekolah menengah pertama di Kabupaten Manggarai Timur yang terus mempertahankan tarian khas ini. Bahkan, tarian ini selalu dipentaskan di sekolah tersebut dalam mata pelajaran kurikulum lokal.

Kepala Sekolah SMPK Waemokel, Robertus Wahab kepada KompasTravel menjelaskan, tarian Sanggu Alu merupakan kekhasan di lembaga sekolah ini. Setiap kali ada perayaan di sekolah selalu dipentaskan tarian ini.

“Ini merupakan kreativitas pelajar di SMPK Waemokel dalam melestarikan tarian khas lokal yang diwariskan leluhur di Manggarai Timur,” kata Robertus.


KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR Pelajar Sekolah Menengah Pertama Katolik Waemokel, Kelurahan Watunggene, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, Flores, Nusa Tenggara Timur membawa bambu kecil, Selasa (9/2/2016).
Tampil di Berbagai Acara Budaya Lokal

Robertus menjelaskan, tarian Sanggu Alu selalu ditampilkan dalam berbagai acara budaya lokal serta peringatan-peringatan hari besar seperti Perayaan 17 Agustus, perayaan Hari Pendidikan, 2 Mei serta berbagai perayaan di lembaga gereja.

Seperti pada Hari Pangan Sedunia yang diselenggarakan oleh Keuskupan Ruteng di Paroki Santo Arnoldus dan Joseph Waelengga pada 2015 lalu dipentaskan tarian Sanggu Alu oleh pelajar SMPK Waemokel.

Selain Tarian Sanggu Alu, lanjut Robertus, ada juga tarian yang tak kalah menariknya, yakni tarian Lipa Songke. Tarian ini dibawakan oleh siswi.

Tarian ini diiringi lagu dan musik Manggarai. "Lipa" artinya kain selimut, sedangkan "Songke" adalah kain khas masyarakat Manggarai. Jadi tarian Lipa Songke adalah tarian menggunakan kain songke.

Liukan badan penari dengan iringan musik khas Manggarai Raya mampu memikat pelajar lainnya yang sedang menonton serta tidak beranjak dari kursi mereka. Mereka menyimak dan menikmati penampilan dari penari perempuan di sekolah tersebut.

Kain selendang, kebaya serta kain songke memberikan nilai tersendiri dalam tarian Lipa Songke. Langkah kaki dari penari perempuan seirama dengan alunan musik khas Manggarai Raya memberikan keunikan tersendiri dari tarian ini.

“Lembaga ini terus melestarikan dan mengembangkan tarian-tarian khas masyarakat Manggarai Raya. Salah satu cara untuk mencintai tarian lokal ini adalah pelajar dilatih dan dipentaskan di berbagai event budaya di wilayah Manggarai Timur,” jelas Robertus.

KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR Pelajar Sekolah Menengah Pertama Katolik Waemokel, Kelurahan Watunggene, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, Flores, Nusa Tenggara Timur, membawakan tarian Lipa Songke.
Anggota Komite Sekolah Menengah Pertama Waemokel, Yoseph Geong kepada KompasTravel menjelaskan, tarian Sanggu Alu merupakan tarian khas masyarakat Manggarai Timur. Untuk wilayah Manggarai dan Manggarai Barat, tarian ini disebut dengan tarian Rangkuk Alu.

Yoseph memaparkan, tarian ini tarian ungkapan kegembiraan dari masyarakat pasca panen. Bahkan, tarian ini ditampilkan pada malam hari di bulan terang.

“Saya bangga dengan pelajar Sekolah Menengah Pertama Waemokel yang selalu menampilkan budaya lokal seperti tari-tarian khas masyarakat Manggarai Timur. Saya berharap pengembangan dan pelestarian tarian ini terus dipertahankan dan menjadi ciri khas di lembaga ini,” katanya.


KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR Pelajar Sekolah Menengah Pertama Katolik Waemokel, Kelurahan Watunggene, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, Flores, Nusa Tenggara Timur, membawakan tarian Lipa Songke.
Paket Wisata Budaya di Manggarai Timur

Kekayaan tarian khas masyarakat Manggarai Timur serta berbagai ritual-ritual budaya memberikan nilai tersendiri bagi wisatawan asing dan domestik yang berwisata ke wilayah Manggarai Timur.

Keaslian budaya serta tariannya mampu memikat wisatawan Eropa yang sudah pernah mengunjungi Manggarai Timur, seperti tarian Vera yang pernah menghibur wisatawan Perancis, tarian Wai Doka dan Umbiro disuguhkan kepada wisatawan Belgia. Tarian Padoa dari masyarakat Sabu di Manggarai Timur juga dipentaskan kepada wisatawan asing beberapa tahun lalu.

Menangkap peluang itu, Pastor Paroki Santo Arnoldus dan Joseph, Romo Hieronimus Jelahu memprogramkan pementasan tarian khas masyarakat di wilayahnya pada hari Ulang Tahun paroki di tahun ini.

“Saya bersama dewan paroki serta masyarakat di wilayah paroki siap menyelenggarakan pementasan budaya dengan melibatkan sekolah-sekolah yang ada disekitar paroki ini. Saya berharap Waelengga sebagai pintu masuk wisatawan ke wilayah Manggarai Raya menjadi pusat atraksi-atraksi budaya kepada wisatawan mancanegara dan domestik,” katanya.
Penulis : Kontributor Manggarai, Markus Makur
Editor : I Made Asdhiana

Tidak ada komentar:

Posting Komentar