Sabtu, 25 Oktober 2014

HOMO FLORESIENSIS DAN WAE REBO

 

Peneliti Mulai Periksa Gigi Manusia "Hobbit" dari Flores

Rabu, 9 Desember 2015 | 21:43 WIB
 http://sains.kompas.com/read/2015/12/09/21434401/Peneliti.Mulai.Periksa.Gigi.Manusia.Hobbit.dari.Flores?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Kknwp
KOMPAS/Aloysius Budi Kurniawan Arkeolog dari Pusat Arkeologi Nasional, E Wahyu Saptomo (kiri) dan Jatmiko (kanan), mengamati replika tengkorak Homo floresiensis atau manusia Liang Bua, Selasa (16/12/2014), di Kantor Pusat Arkeologi Nasional, Jalan Raya Condet, Pejaten, Jakarta. Selain Wahyu dan Jatmiko, dua arkeolog lain, yaitu Rokus Awe Due dan Thomas Sutikna, turut menemukan kerangka manusia kerdil asal Flores, NTT, ini. Akhir tahun lalu, keempat ilmuwan tersebut masuk dalam daftar ilmuwan paling berpengaruh 2014 menurut Thomson Reuters.

Oleh Lusiana Indriasari

KOMPAS.com
- Peneliti dari Jepang, Australia, dan Indonesia mulai meneliti struktur gigi manusia purba Homo floresiensis yang ditemukan di Flores, Nusa Tenggara Timur, sejak 2003.

Penelitian dilakukan untuk mencari bukti bahwa "manusia hobbit" dengan tinggi hanya berkisar satu meter itu bukan dari jenis manusia modern (Homo sapiens) yang mengalami kecacatan.

Tim peneliti terdiri dari para ahli di Museum Nasional Ilmu Pengetahuan dan Alam (Jepang), Universitas Wollongong (Australia), dan Pusat Arkeologi Nasional (Indonesia).

Pekan lalu para ahli mulai membandingkan 40 spesimen gigi dari sembilan Homo floresiensis dengan gigi 490 manusia modern serta gigi sepupu manusia yang telah punah.

Dari hasil analisis, mereka menemukan bahwa sebagian gigi manusia purba dari Flores ini memang berukuran sama dengan gigi individu manusia modern, tetapi sebagian lagi ukuran giginya sama dengan manusia purba yang lebih tua lagi. Karakter giginya juga lebih mirip dengan manusia purba seperti Homo erectus.

Mereka membandingkan gigi-gigi tersebut dengan menggunakan analisis metric linear, analisis kontur gigi geraham, dan membandingkan satu demi satu ciri khas morfologi gigi. Dari situ, para ahli menemukan indikasi bahwa sisa gigi pada beberapa individu memiliki kombinasi gigi yang tidak ditemukan pada spesies manusia modern.

Dalam jurnal yang diunggah ke dalam situs Plos One disebutkan, temuan itu membuat para ilmuwan menolak anggapan bahwa hobbit merupakan satu spesies dengan manusia modern.

Ada kemungkinan Homo floresiensis ini merupakan keturunan Homo erectus. Mereka menduga manusia purba ini menjadi kecil karena tinggal di pulau yang sumber daya alamnya sangat terbatas sekitar 18.000 tahun lalu.

Kerangka manusia Homo floresisensis ditemukan empat peneliti Pusat Arkeologi Nasional, yakni Wahyu Saptomo, Jatmiko, Thomas Sutikna, dan Rokus Awe Due, bersama Mike Morwood dari University of New England, Australia.

Ketika melakukan penggalian di gua karst Liang Bua pada 2003 yang diketuai RP Soeroso, mereka menemukan sembilan kerangka tulang manusia yang ukurannya seperti bocah, tingginya hanya 1 meter lebih sedikit.

Temuan kerangka itu digali di salah satu sudut Liang Bua. Menurut Thomas Sutikna, Liang Bua memiliki data sejarah yang sangat lengkap mulai dari masa Holosen hingga Plestosen. Mengingat rentang masa itu, kemungkinan masih akan ada temuan lain selain Homo floresiensis.

Kerangka manusia kerdil Flores itu ditemukan saat menggali kedalaman 5,9 meter pada lapisan tanah Plestosen. Dari ukuran tengkorak, diperkirakan volume otak manusia purba itu hanya 417 sentimeter kubik.

Kontroversi

Temuan itu memunculkan kontroversi. Sebagian ilmuwan meragukan bahwa Homo floresiensis atau manusia Flores merupakan manusia yang usianya jauh lebih tua dari manusia modern.

Teuku Jacob, peneliti dari Laboratoriun Bioantropologi dan Paleoantropologi Universitas Gadjah Mada dalam laporan yang diterbitkan National Academy of Science (2006), menyatakan bahwa tulang tengkorak dan kerangka tubuh hobbit mengalami kelainan pertumbuhan dan perkembangan.

Teuku Jacob menulis laporan tersebut bersama peneliti lain, yakni RP Soejono dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Kenneth Hsu dari National Institute of Earth Science Beijing, DW Frayer dari Departemen Antropologi Universitas Kansas, dan lain-lain.

Seperti dikutip situs Proceeding National Academy of Science, dari 140 kerangka yang diteliti ditemukan bahwa mereka yang terkubur itu mirip dengan populasi Austromelanesia.

Itu berarti Homo floresiensis merupakan nenek moyang manusia modern (Homo sapiens). Rahang bawah dan gigi manusia hobbit menunjukkan kesamaan dengan suku pigmi Rampasasa yang tinggal di sekitar Liang Bua.

Sebagian individu menunjukkan kondisi mikrosefalia atau bertengkorak dan berotak kecil, sebagian lain meski bertubuh kecil tidak mengalami mikrosefalia.

Editor : Yunanto Wiji Utomo
Sumber: Harian Kompas

 

Travel / Travel Story

 http://travel.kompas.com/read/2014/09/15/173600027/Warisan.Luhur.dari.Manggarai.

Warisan Luhur dari Manggarai

Senin, 15 September 2014 | 17:36 WIB
ARSIP KOMPAS TV Dokter Ratih mengamati replika tengkorak LB1 di Liang Bua, Flores, NTT.
PERJALANAN ke Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur kali ini, seperti membawa saya ke dimensi ruang dan waktu yang berbeda. Liang Bua yang menggemparkan dunia dengan ditemukannya fosil manusia kerdil (hobbit), dan desa Wae Rebo yang menggambarkannya bak lukisan dengan segala keindahan yang tertuang di dalamnya.

Kronika manusia kerdil di Liang Bua

Setelah menempuh perjalanan yang tidak terlalu lama dari Ruteng, tibalah saya di Liang Bua. Sebuah situs, yang sempat menggemparkan dunia arkeologi dengan penemuan fosil yang masih menuai kontroversi hingga sekarang. Fosil LB1 yang ditemukan di Liang Bua memiliki ciri-ciri orang dewasa namun dengan tinggi badan yang diperkirakan hanya sekitar 105 cm.

Kelompok-kelompok peneliti lalu muncul dengan hipotesa masing-masing. Ada yang berpendapat fosil LB1 adalah spesies yang berbeda dengan homo erectus maupun homo sapiens dan kemudian menamakannya dengan nama Homo Floresiensis serta menyatakannya sebagai mata rantai yang hilang (missing link) dari teori evolusi yang dicetuskan Charles Darwin. Ada pula kelompok yang beranggapan fosil LB1 adalah homo sapiens atau manusia moderen yang mengalami kelainan.

Terlepas dari debat dan kontroversi para ilmuwan, situs ini menarik perhatian saya karena letaknya yang berdekatan dengan desa Rampasasa, sebuah desa yang sebagian warganya memiliki tinggi badan kurang dari 140 cm dan menganggap  mereka adalah keturunan dari manusia yang dulu hidup di Liang Bua. Tentunya kemungkinan tersebut layak dipertimbangkan mengingat letaknya yang berdekatan.

ARSIP KOMPAS TV Dokter Ratih dan anak-anak di Wae Rebo dibangun khusus untuk belajar.
Namun saya kemudian melihat lingkungan tempat mereka tinggal. Sebuah lingkungan yang jauh dari kata sejahtera. Mereka tinggal di rumah berdinding bambu dan berlantai tanah, dengan perabot seperlunya. Mata pencaharian mereka adalah bercocok tanam. Jagung dan kopi yang tidak seberapa jumlahnya adalah komoditas utama yang ditukar dengan beras untuk pemenuhan kebutuhan pangan, dengan lauk pauk seadanya.

Tentunya pola makan yang sederhana tersebut mempengaruhi bentuk tubuh dan tinggi badan mereka. Komponen gizi yang mereka butuhkan saat tumbuh kembang, kemungkinan besar tidak terpenuhi, sehingga rata-rata memiliki tinggi badan dibawah rata-rata.

Saya meninggalkan Rampasasa dan Liang Bua sore itu sebagai salah seorang saksi akan sebuah ironi. Ironi akan sebuah tempat yang menggemparkan dunia, ternyata sekaligus tempat yang sangat jauh dari sejahtera.

Bila ditempat ini merupakan titik penting cerita peradaban manusia, lantas bagaimana kelanjutan peradaban mereka kedepan dalam berbagai keterbatasan? Akankah beberapa puluh mungkin ratus tahun yang akan datang, generasi penerus kita menemukan fosil masyarakat Rampasasa yang bertinggi tubuh dibawah rata-rata, kemudian mempertanyakan spesies mereka, tanpa mengetahui kelainan tinggi tubuh mereka kemungkinan disebabkan oleh tidak terpenuhinya gizi yang dibutuhkan akibat kondisi ekonomi mereka ?

Surga kecil bernama Wae Rebo

Udara yang jauh dari polusi membuat langit malam itu terlihat bak hamparan permadani bertabur permata bagi mata saya yang lelah. Jutaan bintang bersinar dalam keheningan malam yang dingin. Bayangan tujuh Niang yang gagah menambah pesona malam negeri di atas awan, Wae Rebo, yang akan saya tinggalkan esok setelah beberapa hari merasakan indahnya kehidupan bersama masyarakat di sini.

ARSIP KOMPAS TV Dokter Ratih melihat 7 Niang dari atas bukit.
Seperti di berbagai tempat yang saya datangi sebelumnya, saya menyempatkan diri untuk menilik kebiasaan hidup dan lingkungan yang saya datangi dari sudut padang seorang dokter. Biasanya dengan mudah saya membuat catatan mental mengenai hal yang berkaitan dengan perilaku kesehatan masyarakat, atau kesehatan lingkungan. Namun sampai malam terakhir ini, saya belum mencatat apapun. Saya bagai tersihir oleh alam dan harmonisasi kehidupan disini.

Udara pegunungan yang segar, sumber air bersih yang berlimpah dan tanah yang subur memenuhi sebuah kebutuhan pokok manusia untuk hidup dan bertahan disini. Adat istiadat yang terjaga turun temurun sebagai struktur kehidupan, melengkapi harmoni manusia dengan alam tempat mereka tinggal.

Struktur bangunan Niang yang memiliki tungku untuk memasak di dalam dan cenderung gelap awalnya sempat menarik perhatian saya. Segera terbersit kemungkinan kurang baiknya ventilasi udara di dalam Niang dan lingkungan yang lembab karena jarang terkena sinar matahari, dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan. Namun ternyata kebiasaan masyarakat mengimbangi keadaan ini.

Tungku untuk memasak yang awalnya mengkhawatirkan saya karena asapnya mungkin mempengaruhi kesehatan pernafasan, ternyata berfungsi ganda untuk mengasapi kayu dan atap Niang sehingga tidak lembab dan rapuh. Untuk menghindari asap mengumpul dalam Niang, jendela-jendela dibuka selama memasak. Kekhawatiran saya mereda. Sebuah gambaran yang ideal akan keseimbangan lingkungan dan perilaku kesehatan.

Ketiadaan fasilitas kesehatan di Wae Rebo, sedikit meresahkan saya. Namun setelah bercengkrama dan memeriksa masyarakat, saya sedikit lega. Kondisi kesehatan mereka bisa dibilang cukup baik. Meskipun demikian, menurut saya keberadaan fasilitas kesehatan tentu akan membuat kualitas kesehatan lebih baik lagi. Malam semakin larut, saya pun menyerah pada kantuk berbalut rasa enggan meninggalkan tempat ini esok hari.

ARSIP KOMPAS TV Dokter Ratih mengamati salah satu tanaman obat di Wae Rebo, Flores, NTT.
Pagi harinya, usai berpamitan dengan warga Waerebo, setengah hati saya melangkahkan kaki meninggalkan desa cantik ini. Kira-kira 15 menit jalan mendaki, saya menghentikan langkah dan membalik badan untuk melihat Wae Rebo dari kejauhan untuk terakhir kalinya.

Sebuah senyum mengembang, bersama sebuah harapan. Harapan akan berlanjutnya harmoni indah antara manusia dan alam. Sebuah paduan yang indah dalam kesederhanaan, dan bisik hati yang selalu meruap ketika melihat warna hidup warga, adalah kualitas kesehatan dan kehidupan yang semakin baik dari waktu ke waktu. Doctors Go Wild episode Manggarai ditayangkan di Kompas TV, Senin (15/9/2014) pukul 20.00 WIB.
(Ratih Citra Sari)

Editor : I Made Asdhiana

Tidak ada komentar:

Posting Komentar